
Hari ini Salman dan Safia akhirnya rujuk dan disaksikan oleh orang-orang yang bekerja di rumah itu.
Tidak terbilang betapa bahagianya Saka menyaksikan kedua orang tuanya bersatu kembali.
"Mama sama Papa jangan berpisah lagi ya, Saka sayang sama kalian berdua." ucap bocah itu setelah Safia resmi menjadi istri Salman lagi.
Safia hanya tersenyum meski ada perasaan canggung di hatinya, sementara Salman nampak begitu bahagia dan membawa Saka ke pelukannya, dia juga sangat menyayangi putranya itu.
Malam hari, Salman dan Safia memilih tidur di kamar Saka sesuai permintaan bocah itu, mereka bertiga tidur dengan nyenyak sebelum akhirnya Safia terbangun di tengah malam dan pindah ke kamar sebelah.
Sekitar pukul dua dini hari, Salman tersentak dari tidurnya dan mendapati kasur yang sudah kosong di sebelah kiri Saka. Salman cepat-cepat duduk dan turun dari ranjang sembari mengusap matanya.
Setelah menyelimuti dan mencium kening putranya, Salman meninggalkan kamar itu dan berjalan menuju kamar sebelah.
Saat Salman menekan kenop pintu, Safia tiba-tiba terperanjat dan cepat-cepat membungkus tubuhnya dengan selimut lalu menutup mata seolah-olah sedang tidur.
Ya, Safia sengaja pindah karena merasa tidak nyaman berada di dekat Salman, dia pikir Salman tidak akan tau tapi ternyata pria itu malah menyusulnya.
Salman mengukir senyum saat menginjakkan kaki di kamar itu. Setelah menutup pintu dan menguncinya, dia pun melangkah menghampiri ranjang dan berbaring di samping Safia, dia bahkan masuk ke dalam selimut dan memeluk Safia dari belakang.
Safia membuka mata lebar-lebar saat Salman mengelus perutnya, entah apa maksud suaminya itu tapi Safia benar-benar gugup.
"Kenapa pindah ke sini?" bisik Salman tepat di daun telinga Safia lalu mendaratkan kecupan kecil di sana.
Safia terkesiap dengan jantung bergemuruh kencang, sekujur tubuhnya tiba-tiba merinding saat diterpa hembusan nafas Salman yang hangat, suara Salman juga terdengar serak seperti menahan sesuatu.
Salman tau Safia tidak tidur, dia sengaja menggoda istrinya itu. Akan tetapi, Safia hanya diam seolah-olah tidak merasakan apa-apa.
Tiba-tiba Safia bergidik ngeri mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Dia benar-benar takut Salman akan melakukan hal yang sama padanya.
Salman menaikkan sebelah alis ketika merasakan getaran di tubuh Safia lalu menjauhkan tangannya dan beringsut. Salman mengerti, mungkin Safia belum siap menerima dirinya.
Salman menelentang sembari menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan mata dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala.
Setelah satu jam, Salman tak kunjung bisa tidur, perasaannya mulai gelisah dengan tubuh berkeringat kepanasan.
__ADS_1
Hingga akhirnya Salman memutuskan turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Sebelum meninggalkan kamar, Salman memutar leher ke arah Safia yang tengah terlelap, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.
Salman menghela nafas berat dan membuangnya kasar, kemudian melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di lantai bawah, Salman memilih masuk ke kamar sang ayah yang selama ini tidak pernah dijamah oleh siapapun, dia pun melanjutkan tidurnya di sana.
...****************...
Pagi-pagi sekali Safia sudah bangun dan kebingungan melihat kasur kosong di sampingnya. Matanya berguling liar menatap setiap sudut tapi tak melihat Salman di mana-mana.
Lalu Safia turun dari ranjang, dia berjalan ke kamar mandi dan membuka pintu, tapi tetap tidak menemukan Salman di dalam sana.
Safia menautkan kedua alis. Kemana suaminya itu, bukankah semalam mereka tidur bersama?
Berhubung sudah terlanjur berada di kamar mandi, Safia pun memilih membersihkan diri terlebih dahulu, dia harus turun untuk menyiapkan sarapan pagi.
Di kamar lain, Salman juga tersentak dari tidurnya, matanya terasa sangat berat sehingga enggan untuk bangun. Salman memilih tetap berbaring sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Dia tau sekarang statusnya sudah kembali menjadi suami Safia, tapi Salman tidak mungkin bergantung pada istrinya. Dia harus mencari pekerjaan untuk menafkahi istri dan anaknya.
Saat hendak menaiki anak tangga, dia tidak sengaja berpapasan dengan Safia. Salman hanya tersenyum seraya mengucapkan selamat pagi, lalu menaiki tangga itu terburu-buru, bahkan Safia belum sempat mengatakan apa-apa padanya.
Sesampainya di kamar, Salman langsung masuk ke kamar mandi dan lekas membersihkan diri.
Di bawah sana, Safia memasuki dapur dan meminta Ina menggantikan tugasnya, dia pun kembali ke atas menyusul Salman.
Setibanya di kamar, Safia menyisir setiap sudut dengan raut gugup, dia bingung bagaimana cara menyesuaikan diri dengan statusnya sekarang.
Karena tidak menemukan Salman, Safia pun memilih duduk di sisi ranjang, dia yakin Salman tengah berada di kamar mandi.
Tidak lama berselang, suara pintu berderit membuat Safia terperanjat, dia berusaha terlihat tenang dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Salman keluar dari kamar mandi dengan pinggang terlilit handuk, dia mengernyit kala mendapati Safia yang tengah duduk dengan wajah ditekuk, Safia sama sekali tidak menatapnya.
Salman lantas terdiam dan bergegas menghampiri lemari lalu membukanya, dia mencari pakaian formal yang akan dia gunakan untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
Setelah Salman mengenakan pakaian, dia menyisir rambut di depan cermin. Tiba-tiba dia tersenyum kecut menatap pantulan tubuhnya sendiri.
Pantas saja Safia enggan berdekatan dengannya, dia saja seakan tidak mengenali dirinya sendiri.
Ya, Salman yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Kini wajahnya sudah mulai menua, selain beberapa bagian wajah yang mulai keriput, rambutnya pun sudah memutih dipenuhi uban, berbeda dengan Safia yang malah semakin cantik meski sudah melahirkan satu anak.
"Tidur dimana kamu semalam, Mas?" tanya Safia yang akhirnya memberanikan diri membuka suara.
Salman memutar leher ke arah Safia yang kini tengah menatapnya. "Di kamar Ayah." jawab Salman dengan nada sedikit dingin.
Safia menautkan kedua alis. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, lagi pengen saja." sahut Salman.
"Lalu sekarang mau kemana? Kenapa sudah rapi sepagi ini?" tanya Safia lagi dengan mata menyipit.
Salman menaruh sisir yang masih ada di tangannya di atas meja rias lalu berjalan menghampiri Safia dan duduk di sampingnya.
"Mau ke luar sebentar." jawabnya dengan tubuh sedikit miring menghadap Safia.
"Kemana?" Safia bertanya lagi.
Salman menghela nafas berat dan membuangnya kasar. "Mau cari kerja. Aku tidak mungkin berdiam diri di rumah, aku harus punya penghasilan untuk menafkahi kamu dan Saka."
Safia mengangkat sebelah alis dan mematut Salman dengan intim. Apa Salman amnesia?
"Loh, bukannya kamu punya perusahaan sendiri? Kenapa mesti mencari pekerjaan lain?" Safia tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu.
"Tidak, semua itu milikmu. Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi, aku harus bekerja untuk mendapatkan uang, aku tidak mungkin bergantung hidup padamu. Diterima tinggal di rumah ini saja sudah cukup membuatku bahagia." ucap Salman dengan pandangan berkabut, matanya sontak berkaca-kaca.
Lalu Salman mengusap pucuk kepala Safia dan menciumnya dengan sayang. "Aku pergi dulu."
Setelah mengatakan itu, Salman bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Safia yang tengah mematung di tempatnya duduk.
Safia benar-benar tidak mengerti isi kepala suaminya itu. Padahal sudah jelas bahwa semua yang dia nikmati adalah milik Salman. Bukan Salman yang bergantung hidup tapi Safia.
__ADS_1