
Sebelum pergi, Salman menyempatkan diri melihat Saka terlebih dahulu. Karena bocah itu masih tidur, Salman tidak tega membangunkannya.
Salman mengusap kepala putranya itu dan menciumnya dengan sayang lalu meninggalkan kamar tergesa-gesa.
Akan tetapi, langkah Salman mendadak terhenti saat Safia tiba-tiba muncul dan menghadangnya di depan pintu, Safia meraih tangan Salman dan menariknya ke kamar mereka.
"Safia, apa-apaan ini?" Salman kebingungan melihat tingkah aneh Safia yang tiba-tiba mengunci pintu dan mendorongnya hingga terjungkal di kasur.
Tidak hanya itu, Safia bahkan duduk di atas perut Salman dan menatapnya dengan tajam.
"Safia, apa yang kamu lakukan? Menyingkir lah, aku harus pergi!" keluh Salman dengan kening mengkerut, dia takut tidak bisa mengendalikan diri jika Safia seperti ini.
"Salman, aku ingin sekali membunuhmu detik ini juga." kesal Safia yang sudah kehilangan kata-kata, dia sangat marah dan mencekik leher suaminya itu.
Ya, setelah menghilang selama tujuh tahun, Salman bukannya berusaha mengambil hatinya kembali tapi malah menjauhkan diri seperti orang asing, tentu saja Safia berang dibuatnya.
"Sa-safia, apa kamu benar-benar ingin membunuhku?" Salman kesulitan berbicara, dadanya terasa sesak akibat cengkeraman Safia yang sangat kuat.
"Iya," sergah Safia yang sama sekali tidak kasihan pada Salman.
Salman terdiam mendengar itu, dia pun memasrahkan diri jika memang Safia menginginkan kematiannya.
Melihat muka suaminya yang sangat tenang, Safia pun melepaskan leher Salman dan beranjak dari perutnya. "Kalau begitu pergilah, berbuatlah sesuka hatimu! Bukankah sejak dulu aku ini tidak berarti apa-apa bagimu?"
Safia lekas turun dari ranjang dan berbalik badan. Saat hendak melangkah, tiba-tiba kakinya terasa berat, Salman memeluk pinggangnya dari belakang.
Salman mencengkeram pelan perut rata istrinya itu lalu menenggelamkan wajahnya di pinggang sang istri.
Safia mengerucutkan bibir dan kembali berbalik badan. Hatinya mencelos, selain sedih dia juga marah melihat sikap dingin Salman yang menjengkelkan.
"Semalam kamu tidur di kamar lain, sekarang mau pergi mencari pekerjaan, besok apa lagi? Lama-lama aku bingung melihat sikapmu yang seperti ini." oceh Safia menatap lekat wajah Salman yang sedang menengadah mematut dirinya.
Salman diam sejenak, lalu membawa Safia duduk di pangkuannya. Salman memeluk Safia erat dan mencium tengkuk istrinya itu berulang kali.
Sebagai suami, Salman tentu saja menginginkan lebih dari ini, tapi dia tidak berani menyuarakannya.
Salman takut Safia salah paham dan menganggap dirinya masih sama seperti dulu, kembali menjadi suami Safia saja sudah membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
"Kenapa menyetujui pernikahan ini jika hatimu tidak ingin? Kenapa tidak menolak saja?" lirih Safia dengan pandangan menggelap.
Salman tersenyum getir dan mencengkeram tengkuk Safia dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain meraih pipi Safia dan memutarnya ke belakang.
Lalu Salman menempelkan hidungnya di telinga Safia, mengecupnya lembut dan beralih ke pipi, kemudian berakhir di bibir istrinya itu. Deru nafasnya tidak beraturan kala menerpa wajah sang istri.
Salman menutup mata saat bibir keduanya bersentuhan, jantungnya berdegup kencang tapi tidak berani meminta lebih. Setelah membuka mata dia pun menundukkan kepala, sengaja menjauhkan bibirnya dari Safia.
Dada Salman kembang kempis mengatur nafas, dia berusaha keras menahan semua rasa yang sudah memuncak di jiwanya. Dia benar-benar tidak berani menyentuh istrinya itu.
Safia mengerucutkan bibir, matanya tampak berkaca-kaca. "Kenapa berhenti, Mas? Apa kamu tidak menginginkan aku?"
Salman mendongak mendengar itu, dia mematut Safia sembari menggelengkan kepala.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin menyakitimu lagi." lirih Salman, tanpa dia sadari air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi.
Ya, selama pernikahan terdahulu, Salman selalu mengambil haknya dengan paksa. Dia tau Safia tidak ingin tapi dia tetap saja melakukannya. Dan karena itu, Safia akhirnya pergi meninggalkan dirinya.
Salman juga tau pernikahan ini semata-mata hanya demi Saka, dia tidak mungkin memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih kepuasannya sendiri.
Salman cepat-cepat mengusap wajahnya, lalu mengangkat pinggang Safia dan mendudukkannya di sisi ranjang. Salman mematutnya sekilas kemudian bangkit dari duduknya.
Safia mengalungkan tangan di tengkuk Salman dan mencium bibirnya lalu melu*matnya dengan beringas.
Salman terperangah, dia hanya diam saat Safia memainkan bibir dan lidahnya sesuka hati. Safia merasa kesal karena tidak ada perlawanan lalu menarik bibirnya kembali.
"Sepertinya kamu benar-benar tidak menginginkan aku lagi." lirih Safia tertunduk malu, perlahan tangannya mulai terlepas dari tengkuk Salman.
Safia berbalik badan dan berjalan menuju pintu. Saat tangannya menyentuh anak kunci, Salman tiba-tiba menariknya dan mendorongnya hingga tersandar di dinding.
Mata Safia sontak membulat melihat tatapan Salman yang sangat tajam. Salman menekannya dan mengesap bibirnya dengan rakus, sementara tangannya mulai berkeliaran menggerayangi tubuh sang istri.
"Aakhh... Mas..."
Safia mende*sah saat tangan Salman menyentuh buah dadanya, sekujur tubuhnya tiba-tiba merinding.
Kemudian Salman mengangkat bokong Safia dan membawanya ke ranjang tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Dia menjatuhkan Safia di kasur dan langsung menindihnya.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu, sangat ingin." desis Salman sesaat setelah melepaskan pagutannya.
Safia mengulum senyum sembari mengangguk lemah lalu menarik tengkuk Salman dan kembali menautkan bibir mereka. Keduanya mabuk dalam ciuman panas itu.
Puas memagut bibir dan berbagi air liur, Salman menjauhkan diri dan membuka pakaiannya. Setelah tubuhnya benar-benar polos, dia pun melepaskan pakaian Safia satu persatu dan membuangnya sembarangan.
Kembali Salman mendekati Safia dan mencium ceruk lehernya, dia bahkan menjilatnya dan menggigitnya sesekali.
"Aakhh..." Safia men*desah dan meremas rambut Salman, tubuhnya menggeliat saat bibir Salman berlabuh di puncak gunung miliknya.
Salman meremas kedua gunung kenyal itu dan memainkan boba kecil di ujungnya bergantian, dia bahkan menghisapnya seperti bayi yang lama tidak menyusu.
Lama tidak mendapatkan semua itu, membuat Salman benar-benar menggila. Dia menggigiti boba istrinya dengan nafas kian memburu, bahkan membuat lukisan merah di setiap gundukan itu.
Entahlah, rasanya Salman ingin sekali menelan Safia mentah-mentah. Nafsunya tidak dapat lagi dikendalikan.
Tidak kuat menahan hasrat yang semakin menuntut, Salman lekas berpindah ke bawah. Dia menekuk kaki Safia dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Aakhh... Mas..."
Safia menjerit sembari mengangkat bokong saat Salman menjilati intinya, bahkan pria itu menghisapnya kuat yang membuat tubuh Safia gemetaran. Lalu Salman menyedot cairan istrinya dengan leluasa.
Safia terperangah, dadanya kembang kempis setelah merasakan sesuatu yang entah, sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Kembali Salman naik dan mengesap bibir Safia dengan lembut lalu menuntun tongkatnya memasuki inti sang istri.
"Aakhh..." lenguh Safia saat milik Salman memenuhi dirinya. Safia meremas rambut Salman sembari mengeluarkan lidahnya, membiarkan Salman menghisapnya sembari bergerak di bawah sana.
Lama tidak mendapatkan kepuasan, membuat sepasang suami istri itu mabuk kepayang. Suara de*sahan Safia dan erangan Salman menyatu memenuhi seisi kamar.
Hampir satu jam bertempur, Salman akhirnya menyerah. Tubuhnya tumbang di samping Safia setelah menyebar benihnya di dalam sana.
Salman kembali mengesap bibir Safia lalu beralih mencium keningnya. "Aku mencintaimu, Safia. Aku sangat mencintaimu." lirih Salman mendekap istrinya dengan erat.
Safia mengulas senyum dan membenamkan wajahnya di dada Salman. "Aku juga mencintaimu, Mas. Dari dulu hingga kini, perasaan itu tidak pernah berubah."
Salman menitikkan air mata mendengar itu. "Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal meninggalkanmu. Gara-gara aku, kamu harus menderita seorang diri."
__ADS_1
"Kalau begitu berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi!" pinta Safia mendongakkan kepala.
Salman menatap Safia sekilas lalu mencium keningnya sembari mengusap lengan Safia. "Tidak akan, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama."