Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 47.


__ADS_3

Safia tiba di ruangan Saka dan duduk di sisi brankar. Awalnya Saka tidak mau melihat Safia, tapi setelah menyadari ada yang salah dengan sang mama, Saka pun menoleh dan benar, Safia tengah menangis dengan mata yang sudah sembab.


"Papamu sebenarnya orang yang sangat baik, dia memang pernah melakukan kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Tapi Mama terlalu egois, Mama sangat keras kepala sehingga Papa harus pergi meninggalkan Mama. Papa tidak tau kalau saat itu ada kamu di perut Mama. Papa tidak akan mungkin meninggalkan kita jika dia mengetahuinya."


"Bukan Papa yang salah, tapi Mama. Papa terlalu sayang sama nenek sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Papa pikir Mama lah yang menyebabkan nenekmu meninggal, Papa hanya melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang anak."


"Kamu beruntung karena masih memiliki orang tua yang lengkap, tidak seperti Mama yang harus kehilangan nenek dan kakek diusia yang masih sangat kecil. Papa tidak jahat, Papa sangat menyayangimu. Buktinya, pada menyerahkan hidupnya untukmu. Papa mendonorkan sumsum tulang belakangnya padamu, dia ingin melihatmu tumbuh seperti anak-anak lain."


Air mata Safia mengalir deras tanpa bisa dia tahan. "Sekarang Papamu terbaring lemah tanpa kekuatan, tidak tau apakah dia bisa bertahan atau tidak."


Safia menundukkan kepala berderai air mata, seberapa keras dia mencoba menahan namun tetap saja tangisan itu tidak bisa dihentikan.


"Ma..." lirih Saka yang merasa bersalah melihat Safia menangis dalam keputusasaan.


"Kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah, dendam akan menghancurkan diri kita sendiri. Mama sudah merasakannya, Mama menyesal menjadi istri yang sangat keras kepala."


"Mama bisa seperti sekarang ini, itu semua karena pengorbanan Papamu. Papa menyerahkan semua miliknya pada Mama. Rumah, perusahaan, rumah sakit, bahkan semua tabungan yang dia miliki. Sekarang Papamu tinggal di rumah yang sangat sederhana, dia harus berjuang dari nol membangun hidupnya kembali."


Safia meninggalkan tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mencuci wajah, dia keluar dan duduk di sofa. Pikirannya tidak lepas dari Salman yang masih terbaring di ruangan khusus.


Sekitar pukul sepuluh malam, Safia dikejutkan dengan kedatangan Alex yang baru saja selesai menangani Salman. Keduanya duduk di sofa, Alex kemudian menceritakan bagaimana keadaan Salman pasca operasi.


Alex menjelaskan bahwa kemungkinan Salman akan koma karena terlalu banyak kehilangan darah, lagipula Salman sama sekali tidak merespon apapun bahkan obat yang memasuki tubuhnya.


Salman seperti mati meski nadinya masih berdenyut, dia sendiri yang bisa memutuskan mau kembali atau pergi untuk selamanya.


Safia hanya diam mendengarkan itu, dia teringat kata-kata Salman di rumah tadi. Sepertinya Salman benar-benar sudah menyerah untuk hidup.


Setelah Alex meninggalkan ruangan Saka, Safia kembali menangis seorang diri. Meski sudah berpisah cukup lama, tapi dia belum siap kehilangan Salman untuk selamanya.

__ADS_1


Tanpa Safia sadari, ternyata Saka mendengar semua pembicaraan yang terjadi diantara dia dan Alex tadi. Saka tidak tidur, dia hanya berpura-pura tidur karena tidak kuat melihat kesedihan di wajah Safia.


Satu Minggu Kemudian


Pagi hari, Safia meninggalkan ruangan Saka setelah mengelap tubuh bocah itu dan menyuapinya makan lalu memberinya obat agar cepat sembuh. Safia harus menangani pasien dan menitipkan Saka kepada Ina.


Hari ini adalah hari terakhir Saka dirawat di rumah sakit, Alex dan Safia sudah membicarakan ini sebelumnya, mereka mengizinkan Saka pulang dan istirahat di rumah.


Setelah Safia menghilang dari ruangan, Saka cepat-cepat duduk sembari memanggil Ina untuk mendekat.


"Kak, tolong bawa aku ke ruangan Papa!" pinta Saka, dia ingin bertemu dengan Salman dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia lakukan. Karena dia Salman mengalami pendarahan dan harus dirawat di rumah sakit.


Ina awalnya menolak, dia tidak bisa menuruti keinginan bocah itu. Ina takut bertindak diluar sepengetahuan Safia yang bisa saja memarahinya jika mengikuti kemauan Saka.


Akan tetapi, Ina akhirnya mengalah karena desakan Saka yang mengancam ingin pergi sendirian. Tentu saja Ina tidak mungkin membiarkan Saka keluar ruangan seorang diri.


Setibanya di ruangan Salman, Saka terdiam menyaksikan Salman yang terbujur kaku dengan banyaknya alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Tidak seharusnya Saka mengasari Salman pada malam itu, dia tidak tau kalau Salman baru saja melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang untuknya.


Salman sudah memberikan kehidupan baru padanya, apa lagi yang dia harapkan?


Seorang ayah pasti akan melakukan apa saja demi anaknya. Begitu juga dengan Salman yang sudah mengorbankan nyawanya untuk Saka.


"Kak, aku ingin berdua saja sama Papa. Bisakah Kakak menungguku di luar?" pinta Saka pada Ina.


Ina hanya mengangguk, dia memberikan kesempatan pada Saka untuk berdua dengan Salman.


Setelah Ina menghilang dan menutup pintu, Saka menghampiri Salman dan berdiri di tepi brankar. Hatinya mencelos melihat keadaan Salman yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Sudah satu minggu Papa di sini, apa Papa tidak lelah terbaring terus seperti ini?" Saka berbicara sangat lantang, dia meraih tangan Salman dan menggenggamnya erat.


Sayang sekali Salman tidak merespon ucapan putranya, pria itu membatu seperti patung tak bernyawa.


"Tidak apa-apa jika Papa tidak mau bangun. Saka pastikan Papa akan menyesal karena kami benar-benar akan pergi dari hidup Papa. Saka akan meminta Paman Alex menikahi Mama, dengan begitu Papa akan kehilangan Mama selamanya. Saka juga tidak akan pernah menganggap Papa ada, Paman Alex jauh lebih baik dari Papa yang hanya seorang pengecut."


Saka melepaskan genggamannya dari tangan Salman kemudian menjaga jarak dengan pria yang terbujur lemah itu.


"Asal Papa tau, Paman Alex selalu ada buat kami. Dia menyukai Mama dan Saka juga suka padanya. Saka tidak keberatan menjadikan Paman Alex sebagai Papa Saka yang baru, dari pada Papa yang tidak berguna sama sekali."


Saka terus saja berbicara meluapkan emosi seolah-olah Salman memang tidak berarti di matanya.


"Hari ini Saka sudah diperbolehkan pulang oleh Paman Alex dan besok, besok adalah hari ulang tahun Mama. Kami akan bersenang-senang merayakannya seharian dan saat itu juga Saka akan meminta Paman Alex melamar Mama. Kami bertiga akan hidup bahagia dan Papa, Papa hanya akan menderita seorang diri tanpa ada yang menemani."


"Nikmatilah kesendirian Papa ini, Saka tidak ingin melihat muka Papa lagi."


Saka berbalik badan dan terkejut saat menyadari ada Safia yang sudah berdiri di ambang pintu. Safia memelototi Saka, dia marah mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut putranya itu.


"Saka, siapa yang mengajarimu-"


Ucapan Safia terhenti saat Saka menaruh telunjuknya di bibir. Safia mengernyit, dia tidak mengerti apa maksud bocah itu.


Lalu Saka berjalan menghampiri Safia dan memintanya membungkuk. "Ikuti saja permainan Saka, Saka tidak bermaksud seperti itu. Saka hanya ingin memancing emosi Papa agar bangun dari tidurnya." bisik bocah itu.


"Tapi, Nak-"


"Sssttt... Mama harus percaya sama Saka, Saka hanya ingin membangunkan Papa. Saka menyesal Ma, Saka ingin minta maaf tapi Papa tidak mau mendengarnya." lirih bocah itu penuh penyesalan.


Safia yang mulai mengerti langsung mendekap Saka dengan erat. "Sudah, jangan sedih lagi. Mama mengerti maksud Saka."

__ADS_1


Setelah keduanya saling berbisik, Saka menjauhi Safia dan kembali menghampiri Salman.


__ADS_2