Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 50.


__ADS_3

Pergulatan diantara kedua pria beda generasi itu semakin memanas saat tidak satupun yang mau mengalah.


Safia sendiri sudah berusaha melerai tapi keduanya tidak ada yang mau mendengarkan.


"Mas Salman, Saka, cukup! Kalian berdua baru saja keluar dari rumah sakit, jangan sampai luka kalian terbuka!" berang Safia meninggikan suara.


"Biarkan saja, siapa suruh melahirkan anak nakal seperti dia?" jawab Salman yang masih saja mempertahankan diri dengan menggenggam anak kunci tersebut.


"Jika aku nakal, itu semua pasti sifat turunan dari Papa. Papa pengecut, bisanya hanya membuatku tanpa mau bertanggung jawab." tukas Saka menggencarkan aksinya dan menduduki perut Salman.


"Kenapa malah nyalahin Papa? Mamamu juga ikut andil." ketus Salman mengerutkan kening.


"Tapi Mama tidak meninggalkanku seperti Papa." jawab Saka menekan Salman dan terus saja meraih tangannya.


"Mana mungkin Mama bisa meninggalkanmu, kamu tumbuh di perutnya bukan Papa. Lagian Papa tidak tau kalau cebong Papa akan berkembang pada saat itu, Mamamu tidak mengatakan apa-apa, jadi jelas bahwa ini bukan salah Papa sepenuhnya." ucap Salman membela diri.


"Oh, jadi maksudmu ini semua salahku?"


Safia yang mendengar itu merasa kesal kemudian berjongkok dan membantu Saka merebut kunci itu.


"Ya, kamu benar. Ini semua memang salahku, kalau begitu berikan kuncinya pada kami!" sergah Safia membuka paksa genggaman tangan Salman.


"Tidak akan," tolak Salman mencurahkan segala kekuatan untuk melawan keduanya.


Safia yang sangat marah kemudian ikut duduk di perut Salman dan menekannya dengan kuat. Salman terkesima saat ingatannya kembali tertuju pada kejadian tujuh tahun silam. Saat dimana mereka berdua membuat Saka di hotel dan terakhir kali di panti asuhan.


Rasanya Salman ingin menyerah dan mendekap Safia erat, dia ingin mengulang saat-saat itu dan menciptakan kehangatan bersama wanita yang sangat dia cintai itu.


Ketika Salman lengah, saat itulah Saka berhasil merebut kunci dari genggamannya. Safia berseru pada Saka yang sudah berhasil meloloskan diri. "Cepat buka pintunya, lebih baik kita pergi saja dari sini!"

__ADS_1


Bukannya mengikuti instruksi Safia, Saka justru berlari memasuki kamar. Safia mengernyit dan mencoba bangkit dari tubuh Salman.


Salman memanfaatkan situasi itu dengan memeluk pinggang Safia erat. "Hahaha... Aku pikir Saka ada dipihakmu, tapi ternyata-" Salman terkekeh dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lepaskan aku!" sergah Safia menatap tajam pada Salman. Giginya bergemeletuk dengan mata merah menyala.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Nikmati dulu kebersamaan ini sebelum aku pergi!" jawab Salman enteng sembari mengedipkan mata genit.


"Jangan kurang ajar, aku bisa saja berteriak agar orang-orang berdatangan dan memukulimu karena sudah berani melecehkanku." geram Safia tersulut emosi.


"Apa kamu yakin? Kalau begitu berteriaklah sekencangnya, aku yakin orang-orang tidak hanya akan memukuliku tapi menikahkan kita detik ini juga." seloroh Salman mengulum senyum.


"Jangan mimpi, aku tidak akan sudi menikah denganmu." ketus Safia mencoba menghindar dari Salman, akan tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.


"Hmm... Aku rasa begitu,"


Salman mengerahkan segala kekuatannya untuk membalikkan tubuh Safia. Wanita itu menjerit saat tubuhnya terbanting ke lantai dan Salman pun mengukungnya dari atas.


Belum selesai Safia menyudahi kata-katanya, Salman sudah lebih dulu membungkam mulutnya. Salman menahan kedua tangan Safia agar tidak memberontak lalu mengesap bibirnya dengan penuh kelembutan.


Safia terkesiap dengan mata membulat sempurna. Jantungnya berdegup kencang saat Salman memasuki mulutnya semakin dalam.


"Mmphh..."


Salman menghentikan aksinya saat menyadari bahwa Safia tidak lagi menginginkan ciuman itu darinya lalu menjauhkan wajahnya dan mematut Safia dengan sendu.


"Maaf, aku tidak bermaksud melecehkanmu." Salman sontak menjauh setelah mengatakan itu lalu menyusul Saka ke kamar. Sementara Safia sendiri hanya terpaku sambil mengusap bibirnya.


Sesampainya di kamar, Salman menghampiri Saka yang tengah duduk di sisi ranjang. Salman berjongkok dan menggenggam tangan putranya, menatapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maafkan Papa ya, Nak. Papa tidak bermaksud meninggalkan Saka. Dulu Papa tidak tau kalau Mama tengah mengandung Saka, Papa bersumpah atas nama nenek dan kakek, Papa benar-benar tidak tau."


"Saka harus mengerti, sekarang keadaannya sudah berbeda. Papa dan Mama tidak mungkin lagi bersama, kami sudah bercerai, Mama berhak bahagia bersama pria lain." jelas Salman mencoba meyakinkan putranya.


Saka menundukkan kepala dan menatap lekat pada Salman lalu memeluk tengkuknya erat. "Jangan tinggalkan Saka lagi, Pa. Saka minta maaf karena sudah membuat Papa celaka, Saka tidak mau Papa pergi, tolong tetaplah di sini, Saka sayang sama Papa."


Bak ditusuk pisau belati, dada Salman berdenyut ngilu mendengar ucapan Saka yang mengiris relung hati. "Papa juga tidak ingin seperti ini, Papa sayang sama kamu tapi kehadiran Papa tidak baik untuk Mama. Mama sudah terlalu banyak menderita karena kesalahan Papa, Papa tidak mau Mama semakin terluka karena kehadiran Papa."


"Tapi bukan begini caranya, Pa. Papa tidak bisa main pergi seenaknya. Apa Papa tau betapa menderitanya Mama saat Papa tidak ada? Mama hanya berpura-pura kuat di depan Papa, Saka tau Mama masih sangat membutuhkan Papa. Buktinya, sampai detik ini Mama tidak mau menikah lagi. Mama mencintai Papa meskipun Papa sudah menyakitinya berulang kali." ungkap Saka terisak.


Mendengar itu hati Salman semakin ngilu hingga sulit baginya untuk berkata-kata.


"Tetaplah di sini bersama Saka, Saka janji akan mempersatukan kalian kembali. Papa cinta 'kan sama Mama?" imbuh bocah itu.


"Ya, Papa sangat mencintai Mama. Papa juga tidak menikah sampai detik ini hanya karena Mama. Tapi Mama tidak akan bahagia jika kembali sama Papa, Saka sendiri yang bilang kalau Paman Alex setuju untuk menikahi Mama, maka Saka harus menyatukan mereka sesuai keinginan Saka. Paman Alex pasti bisa menjaga kalian berdua." ucap Salman dengan berat hati.


"Tidak Pa, itu tidak benar. Saka tidak ingin punya Papa baru. Saka cuma punya satu Papa, selamanya hanya Papa." kata Saka mempererat pelukannya.


Salman meringis pilu dan mendekap Saka erat lalu mencium kening dan pipinya dengan sayang. Salman terisak, tangisannya sahut menyahut seiring isakan Saka yang sudah tidak terkendali.


"Jangan pergi, Pa! Saka tidak ingin kehilangan Papa lagi."


Salman terhenyak di lantai sembari terus mendekap Saka, sesal semakin membuat hatinya menangis pilu. Dia bisa saja tetap tinggal demi Saka tapi bagaimana dengan Safia?


"Baiklah, Papa tidak akan pergi. Papa akan tetap di sini untuk Saka, Papa janji."


Salman tidak memiliki pilihan lain lagi, demi Saka dia mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan kota itu. Tidak apa-apa jika Safia memutuskan untuk menikah dengan pria manapun, Salman akan melapangkan dada dan menerimanya dengan ikhlas.


"Janji?" ucap Saka memastikan.

__ADS_1


"Iya, sayang. Papa janji, Papa tidak akan pernah meninggalkan Saka lagi."


Salman merenggangkan pelukannya lalu menyeka wajah Saka yang berlinangan air mata. "Sudah, jangan sedih lagi."


__ADS_2