
"Pagi sayang, mandi dulu yuk, habis itu sarapan. Mama sudah buatkan makanan kesukaan Saka." ucap Safia saat tiba di kamar sang putra, lalu menyingkap tirai jendela dan duduk di tepi ranjang.
"Saka tidak mau bangun, Saka mau tidur saja." bocah itu membelakangi Safia dan menarik selimut lalu menutupi tubuhnya.
Safia menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. "Saka masih marah ya sama Mama?" tanyanya.
"Tidak, untuk apa marah?" kilah Saka, padahal dia masih sangat kesal karena tidak bisa tinggal bersama Salman.
Setelah tujuh tahun menunggu, akhirnya Saka menemukan apa yang dia cari. Namun menurutnya Safia terlalu egois dan tidak peduli pada perasaannya.
Saka hanya ingin tinggal bersama Salman, dia ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Apa dia salah?
"Kalau tidak marah, ayo bangun dulu!" desak Safia sembari menarik selimut yang membungkus tubuh putranya.
"Apaan sih, Ma? Saka masih ngantuk." Saka mengambil bantal dan menutup wajahnya.
Melihat Saka yang masih ngeyel tidak mau bangun, Safia pun terpaksa mengalah dan memilih pergi dari kamar itu.
Lalu Safia berjalan menuju kamar Salman, pria itu masih tidur saat Safia tinggal ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sama seperti tadi, Safia juga menyibak tirai jendela sesaat setelah masuk ke dalam kamar. Salman langsung mengernyit saat pancaran sinar mentari menusuk matanya.
"Duh, tutup dong sayang, silau nih." gumam Salman sembari membelakangi sumber cahaya.
Deg...
Safia terperanjat kaget, jantungnya berdegup kencang saat pertama kali mendengar Salman memanggilnya sayang. Apa Salman tengah mengigau?
"Mas..." panggil Safia dari kejauhan.
"Hmm..." gumam Salman lalu membuka mata perlahan, seketika sudut bibir Salman terangkat naik membentuk senyuman tipis ketika melihat wajah Safia.
"Saka tidak mau bangun, sepertinya dia masih marah padaku." jelas Safia dengan tatapan galau.
"Tidak apa-apa, nanti juga baik sendiri. Kemarilah, duduk di sini dulu!" panggil Salman menggerakkan tangan di udara, dia ingin Safia duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Tidak usah, aku mau-"
Salman turun dari kasur dan berjalan menghampiri Safia. Safia yang gugup lalu memilih mundur beberapa langkah, membuat Salman mengernyit heran.
"Ada apa denganmu? Kamu takut padaku?" tanya Salman menghentikan langkahnya.
"Ti-tidak, aku hanya... Mandi dulu saja, aku tunggu di bawah!" Safia berbalik badan dan berlari kecil meninggalkan kamar, Salman yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala lalu memilih masuk ke kamar mandi.
Usai membersihkan diri, Salman keluar dan membuka pintu lemari, dia tertegun melihat pakaiannya yang masih utuh dan tertata rapi tanpa ada yang kurang satu pun.
Seketika Salman tersenyum kecil, dia tidak menyangka bahwa Safia masih menyimpan semua barang miliknya, dia pikir Safia sudah membuangnya setelah mereka berdua berpisah.
Lalu Salman cepat-cepat mengenakan pakaian dan keluar dari kamar.
Bukannya turun ke bawah, Salman justru memilih masuk ke kamar Saka. Dia ingat ucapan Safia yang mengatakan bahwa Saka tidak mau bangun karena masih marah sebab kejadian kemarin.
Sesaat setelah membuka pintu, Salman tersenyum melihat Saka yang masih berbaring terbungkus selimut. Salman mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Apa lagi sih, Ma? Saka tidak ingin bangun." ketus bocah itu saat Salman menyentuh kepalanya.
Saka menyibak selimut saat mendengar suara Salman, seketika mata bocah itu membulat, dia pun berhamburan ke pelukan sang papa.
"Sejak kapan Papa di sini?" tanya Saka merengkuh tengkuk Salman erat dan menyembunyikan wajahnya di leher papanya itu.
"Itu tidak penting. Sekarang Papa sudah ada di sini, Saka tidak boleh nakal lagi, kasihan Mama." jawab Salman mendekap bocah itu dengan erat sembari mengusap kepalanya.
"Saka tidak nakal, Pa. Saka hanya kecewa sama Mama." terang bocah itu.
"Tetap saja tindakan Saka itu salah, Saka sudah membuat Mama sedih, padahal Mama sudah bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk Saka. Apa Saka tidak kasihan sama Mama?" ucap Salman.
"Iya Pa, maafkan Saka ya. Saka janji tidak akan nakal lagi, tapi Papa juga harus janji sama Saka." lirih bocah itu.
"Janji apa?" tanya Salman.
"Papa jangan pergi lagi ya, tinggallah di sini bersama Saka dan Mama!" pinta bocah itu.
__ADS_1
"Iya, Papa janji, Papa tidak akan ke mana-mana. Sekarang Saka mandi dulu ya, ikut Papa ke bawah, kita akan sarapan bersama." ajak Salman.
"Iya, Saka mandi sekarang."
Bocah itu melepaskan pelukannya dan melompat turun dari kasur lalu berlari ke kamar mandi. Salman yang melihat itu mengukir senyum dan geleng-geleng kepala.
Ini masih saja mengejutkan bagi Salman, dia tidak pernah menyangka akan memiliki seorang putra yang tumbuh tanpa kasih sayang darinya.
Bodohnya dia karena tidak mencoba mencari tau keadaan Safia selama ini. Andai dia melakukannya, mungkin sudah lama dia dan Saka bertemu, Saka tidak harus menderita olehnya.
Tapi penyesalan tidak akan mampu merubah apapun, Salman tidak mungkin mengulang waktu, dia hanya bisa memperbaiki kesalahan yang sudah dia lakukan.
Cukup lama terpaku dalam pemikirannya, Salman pun bangkit dari kasur dan berjalan menghampiri lemari. Dia membukanya dan menyiapkan pakaian untuk Saka, Salman ingin membayar semua waktu yang sudah terbuang sia-sia.
Baru saja Salman ingin menaruh pakaian Saka di atas kasur, bocah itu sudah muncul dengan tubuh polos dan basah. Salman sontak tertawa melihat tingkah putranya yang sangat menggemaskan.
"Astaga sayang, nanti burungnya terbang kalau tidak ditutupi." seloroh Salman geleng-geleng kepala.
"Handuknya ketinggian, Pa. Saka tidak bisa menjangkaunya." ucap bocah itu dengan bibir mengerucut.
"Benarkah?" Salman mengerutkan kening dan berjalan memasuki kamar mandi.
Benar saja, handuk itu tergantung cukup tinggi di pintu kaca sehingga Saka tidak bisa menariknya.
Salman mengambil handuk itu dan membawanya ke luar lalu membantu Saka mengeringkan tubuhnya. Setelah itu Salman memakaikan pakaian Saka dan menyisir rambutnya.
"Tampan sekali sih, anak siapa ini?" goda Salman, dia seperti tengah bercermin di depan kaca. Saka sangat mirip dengannya ketika masih kecil.
"Anak Papa sama Mama dong, anak siapa lagi?" sahut Saka lalu memeluk Salman sembari tertawa lepas.
Salman mengacak rambut putranya dan mencium pipinya dengan sayang lalu menggendong Saka dan membawanya ke bawah.
Sudah saatnya mereka berdua sarapan mengingat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Salman sudah sangat lapar dan ingin mencicipi masakan Safia setelah sekian lama.
__ADS_1
Rasanya hari ini seperti berlian yang sangat berharga bagi Salman, dia sendiri tidak menyangka bisa kembali berkumpul seperti saat ini, rasa syukur saja rasanya tidak cukup untuk mengungkapkan betapa bahagianya hati Salman.