Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 45.


__ADS_3

Tanpa terasa waktu terlalu cepat berputar. Langit yang tadinya cerah, kini berubah gelap seiring hembusan angin yang datang menerpa tubuh Safia dan Salman.


Hampir tiga jam keduanya terlelap tanpa sadar, Safia pun tersentak dan membuka mata perlahan. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati tubuhnya yang masih setia menindih tubuh Salman.


Sadar akan kesalahan yang tidak seharusnya dia lakukan, Safia lekas bangkit dari tempatnya berbaring. Salman yang sudah lebih dulu terjaga hanya diam seraya mematut Safia yang nampak pucat ketakutan.


"Ma-maaf, a-aku..."


Sulit sekali bagi Safia untuk berucap saat tau bahwa dirinya lah yang sudah melewati batasan.


Tidak hanya malu, dia bahkan merutuki dirinya sendiri karena sudah terhanyut dalam kehangatan pelukan pria yang sampai saat ini masih bersemayam di hatinya.


Tidak mudah bagi Safia melupakan Salman, pria itu sudah terlanjur memiliki tempat istimewa di hatinya meski banyak sekali penderitaan yang sudah Salman taburkan dalam hidupnya.


"Bukan kamu, tapi akulah yang seharusnya minta maaf. Aku yang salah, aku yang memintamu untuk tinggal. Sekali lagi maafkan aku, lagi-lagi aku memaksakan kehendak padamu."


Salman mencoba bangkit dari sofa, pandangannya mengabur saat duduk dan mematut Safia dengan intim.


"Masuklah ke kamar, bersihkan dirimu terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah sakit!" imbuh Salman.


"Tidak usah, aku akan pergi sekarang. Aku-"


Entah apa yang ada di benak Salman saat ini, dia kembali menarik Safia dan memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskan.


Ya, Salman tau bahwa dirinya sudah kehilangan hak atas Safia, namun seberapa keras dia berupaya menyangkal, perasaannya tidak bisa dibohongi. Dia tidak ingin Safia pergi, tapi keadaan tidak memungkinkan untuk meminta Safia tetap berada di sisinya.


"Terima kasih atas waktu yang terbuang hanya untuk menemaniku. Aku janji akan datang ke rumah sakit menjenguk Saka, aku tidak akan lari lagi." ucap Salman mempererat pelukannya.


"Hmm... Aku percaya padamu, tapi bisakah kamu ikut denganku. Aku takut Saka marah karena tidak membawamu bersamaku. Tolong..." pinta Safia yang menurut saja saat Salman mendekapnya erat.


"Jika kamu memaksa, apa yang bisa aku lakukan?" Salman tiba-tiba tersenyum dan menjauhkan diri dari Safia.


Sadar atau tidak, Salman merasa tenang untuk beberapa saat. Dia seakan menemukan sesuatu yang hilang sudah sejak lama.


"Bisakah kamu membantuku ke kamar? Aku ingin mandi sebentar, tubuhku terlalu berkeringat dan bau." pinta Salman dengan raut memelas.


"Kamar?" Safia terperanjat dengan mata membulat sempurna. Sontak saja pikirannya menjadi tidak karuan, tidak mungkin dua orang asing seperti mereka memasuki kamar yang sama.

__ADS_1


"Hehe... Tidak usah dipikirkan, aku hanya bercanda. Kalau begitu tunggu sebentar,"


Salman bangkit dari duduknya dan berjalan terhuyung menahan rasa nyeri yang masih sangat mengganggu.


Safia yang melihat itu tentu saja merasa kasihan. Akan tetapi dia tidak mempunyai keberanian untuk membantu, dia takut niat baiknya salah diartikan oleh mantan suaminya itu.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, Salman akhirnya keluar dengan tubuh yang sudah segar berbalut pakaian bersih.


Meski dengan rambut yang sudah memutih, ketampanan Salman tidak ada bedanya dengan tujuh tahun yang lalu. Pesonanya masih tetap sama, membuat jantung Safia tiba-tiba berdebar tak menentu, dia pun dengan cepat membuang muka karena tidak kuat menahan debaran yang kian menyiksa.


"Kamu yakin tidak ingin membersihkan diri terlebih dahulu?" tanya Salman membuka suara.


"Tidak usah, nanti saja di rumah sakit." tolak Safia yang kembali mengarahkan pandangan pada Salman.


"Ya sudah, ayo!" ajak Salman yang langsung saja berjalan menuju pintu.


"Tunggu, Mas!" seru Safia sembari bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" tanya Salman seraya berbalik.


"I-itu..." Safia tiba-tiba tergagap sambil memutar leher ke arah kamar. "Istrimu... Apa aku boleh bertemu dengannya? Aku ingin meminta izin, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman diantara kalian."


"Hahaha... Istri yang mana?" tanya Salman terbahak-bahak.


Safia menyipitkan mata melihat Salman yang menertawakan dirinya sebegitu enteng tanpa rasa bersalah. Ada perasaan takut sekaligus malu yang muncul di hatinya.


"Tidak perlu meminta izin pada siapapun, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, apalagi istri." imbuh Salman lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu.


Safia yang mendengar itu sontak termangu dengan kening mengernyit. Apa maksud Salman? Apa selama ini dia sudah salah menilai Salman?


Safia pikir Salman menghilang karena ingin melanjutkan hidup bersama wanita yang dia cintai. Sebab itulah Salman tidak pernah kembali karena menurut Safia hidupnya sudah sempurna.


Dengan banyaknya pertanyaan yang muncul di benaknya, Safia pun berlari menyusul Salman yang sudah berdiri di depan pintu. Safia mematutnya seperti orang bingung saat Salman menutup pintu dan menguncinya.


"Ayo!" ajak Salman setelah pintu terkunci. Dia melangkah lebih dulu menuju mobil yang terparkir di depan pagar.


Sesaat setelah Safia masuk dan duduk di bangku kemudi, Salman ikut masuk dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan diantara mereka, sepanjang perjalanan Safia hanya fokus menyetir sedangkan Salman hanya diam mematut jalanan.


Salman tidak ingin banyak bicara, dia tau jalan mereka sudah berbeda meski harus bersama demi Saka. Pada akhirnya hubungan Salman dan Safia tidak akan lebih dari sekedar mantan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Safia memutar stir mobil ke arah basement rumah sakit. Usai mematikan mesin, keduanya turun dan berjalan berdampingan dengan jarak kurang lebih setengah meter. Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah bermusuhan.


"Masuklah dulu, aku akan menyusul nanti!" ucap Salman menghentikan langkah di depan pintu masuk.


"Kamu mau kemana?" tanya Safia penasaran dengan kening mengernyit.


"Sebentar saja, aku hanya ingin ke toilet." jawab Salman lalu meninggalkan Safia begitu saja.


Salman sebenarnya berbohong pada Safia, dia tidak pergi ke toilet melainkan mencari udara untuk menenangkan diri. Salman takut Saka akan terkejut melihat kedatangannya sebagai sosok ayah yang dirindukan bocah itu.


Rasanya bumi seakan berhenti berputar beberapa saat. Salman sangsi Saka akan menolak kehadirannya karena sebelum ini mengenalnya sebagai orang asing.


"Huft..." Salman menghela nafas berat dan membuangnya kasar sambil mengusap dada yang tiba-tiba berdegup kencang. Rasa nyeri begitu terasa kala memikirkan semua kesalahan yang sudah dia perbuat.


Entah apa yang sudah Tuhan rencanakan dibalik semua kejadian ini. Tujuh tahun menghilang tiba-tiba saja dia sudah menjadi sosok seorang ayah tanpa diduga. Semua seperti mimpi yang singgah tanpa disengaja.


Setelah menghabiskan waktu menenangkan dirinya , Salman pun memberanikan diri memasuki rumah sakit. Langkahnya tertatih saat menyusuri koridor menuju ruangan sang putra.


"Ma, Papa mana? Kenapa Mama hanya datang sendirian?" cerca bocah itu saat menangkap kedatangan Safia.


Safia lantas tersenyum tanpa menjawab pertanyaan putranya, dia mendekat dan duduk di tepi brankar. Diusapnya kepala bocah itu lalu diciumnya dengan sayang.


"Papa masih di luar, sebentar lagi Papa pasti datang." ucap Safia.


"Mama tidak bohong, kan? Kenapa kalian tidak datang bersama saja?" cerca Saka yang masih meragukan ucapan sang mama.


"Tidak sayang, Mama tidak bohong. Papa tadi izin ke toilet sebentar," jelas Safia sembari mencubit pipi Saka. Dia tau betapa besarnya harapan Saka untuk bertemu dengan Salman, mana mungkin dia tega mematahkan semangat putranya.


Tok Tok Tok...


Terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Seketika Saka bangkit dari pembaringan dengan bola mata membulat menatap pintu kaca yang masih tertutup rapat.


"Ma, apa itu Papa?" tanya Saka antusias.

__ADS_1


"Hmm... Saka duduk saja, biar Mama yang buka pintunya." Safia meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menuju pintu sembari mengukir senyum. Dia merasa senang karena Salman menepati janji untuk menyusulnya.


__ADS_2