Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 46.


__ADS_3

"Paman?" sapa Saka sesaat setelah pintu dibukakan oleh Safia. Salman melangkah masuk, kedatangannya disambut dengan guratan kekecewaan yang jelas terlihat di wajah Saka.


Bocah itu menundukkan kepala dengan lesu, dia merasa sangat kecewa setelah melihat siapa yang datang ke kamarnya.


"Anak tampan, bagaimana keadaanmu?" tanya Salman seraya berdiri di sisi brankar. Dia mengusap kepala bocah itu dan mengacak rambutnya gemas.


Salman lega setelah menyaksikan sendiri bahwa Saka baik-baik saja, itu sudah cukup meski keadaannya sendiri sangat mengkhawatirkan.


"Kenapa mukanya jadi jelek begitu? Apa kedatangan Paman tidak diinginkan?" Salman mengerutkan kening. "Ya sudah, kalau begitu Paman pergi saja."


"Ti-tidak perlu Paman, Paman di sini saja. Saka tidak apa-apa, Saka hanya-" bocah itu tiba-tiba diam, dia tidak tau harus berkata apa.


Salman membungkukkan punggung dan memeluk Saka dengan perasaan tidak menentu, hatinya teriris melihat raut wajah sang putra yang sangat menyedihkan.


Salman tau Saka ingin mengenalnya sebagai sosok ayah tapi dia sadar sudah kehilangan hak untuk mengatakan siapa dia sebenarnya.


Safia yang masih diam di pintu kemudian menutupnya dan berjalan menghampiri keduanya. Safia berdiri di sisi brankar yang lain, berhadapan dengan Salman yang masih memeluk Saka.


Hati Safia mencelos melihat pemandangan itu, kini dia sangat yakin dengan keputusannya. Dia meraih tangan Saka dan berkata. "Saka sayang, mulai sekarang berhenti memanggilnya dengan sebutan Paman. Dia bukan Paman Saka, tapi-"


Safia diam sesaat, Salman yang menyadari itu langsung menoleh ke arahnya. "Tidak perlu dikatakan jika itu terasa berat, begini saja sudah cukup membuatku bahagia. Aku tidak ingin apa-apa lagi."


"Tapi apa, Ma? Kenapa Mama malah diam? Mama bohong 'kan? Mama tidak membawa Papa ke sini, Mama justru membawa Paman ini." timpal Saka yang merasa dibohongi oleh Safia, padahal dia sudah sangat senang akan bertemu dengan sang papa sesuai janji Safia.


Safia tertegun, dia tersenyum getir sembari menatap lekat pada Saka lalu beralih mematut Salman.


"Mama tidak bohong, Mama sudah menepati janji. Papa sudah datang, Papa ada di sini dan sangat dekat dengan kita. Saking dekatnya, Saka bisa merasakan detak jantung Papa yang tengah memeluk Saka." ungkap Safia yang terus saja mematut Salman, tatapan pria itu seakan memberikan kekuatan baginya untuk mengatakan kebenaran.


"Saka, lihat Paman itu, perhatikan wajahnya dengan seksama! Tidakkah Saka merasa ada kemiripan di wajah kalian?"


Saka menyipitkan mata, dia belum bisa mencerna kata-kata yang diucapkan Safia barusan. Namun Saka lekas mendongak mematut wajah Salman yang kini juga tengah menatapnya pilu. Salman tidak bisa mengeluarkan suara, lidahnya terasa kelu.


"Dia lah pria yang selama ini Saka tanyakan setiap hari." imbuh Safia menitikkan air mata. Berat rasanya mengatakan itu, tapi Safia tidak punya pilihan lain, Saka berhak tau sebelum orang lain yang mengatakannya.

__ADS_1


Saka masih saja diam mematut Salman tanpa kedip. Entah dia bingung atau syok mendengar pengakuan sang mama.


"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bermaksud meninggalkan Saka, Papa benar-benar menyesal." akhirnya Salman bersuara seiring tangisan yang pecah memenuhi ruangan.


Salman kembali mendekap Saka yang masih kebingungan dan mengusap kepalanya.


"Tidak tidak, kalian berdua pasti berbohong. Mana mungkin-"


Saka mendorong Salman sekuat tenaga. Salman yang masih belum kuat sepenuhnya tiba-tiba termundur ke belakang, pinggangnya tidak sengaja membentur lemari nakas.


"Aaaah..." rintih Salman spontan sambil memegang bekas luka yang ada di pinggang bagian belakang.


Seketika Salman terdiam saat menyaksikan telapak tangannya dipenuhi darah segar.


"Mas..." pekik Safia lantang lalu berlari mengitari brankar yang ditiduri Saka.


Salman hanya tersenyum dan melarang Safia untuk mendekat. "Di sana saja, aku tidak apa-apa."


"Tapi, Mas-"


Salman kemudian beralih mematut Saka yang menatapnya dengan penuh kemarahan. "Sekali lagi Papa minta maaf, kamu berhak membenci Papa. Papa ini orang jahat, Papa sudah menyakiti Mama dan meninggalkan kalian berdua. Tidak seharusnya Papa berada di tempat ini. Jadilah anak baik, tolong jaga dan sayangi Mama!"


Salman menangkup kedua tangan di depan dada. Air matanya tak dapat lagi dibendung, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa dan memilih pergi meninggalkan ruangan.


"Mas..." seru Safia berderai air mata.


Salman memutar leher dan mematut Safia dengan mata memerah menahan rasa sakit. "Tolong jaga Saka untukku!"


Setelah mengatakan itu, Salman menghilang dari balik pintu. Langkahnya terhuyung setelah kehilangan banyak darah yang menetes di lantai tempatnya berpijak.


Bukannya meminta bantuan suster, Salman justru memilih meninggalkan rumah sakit. Tidak ada gunanya mengobati luka itu, keinginannya untuk sembuh sudah tidak ada lagi. Hidupnya sudah berakhir sejak memutuskan untuk pergi meninggalkan Safia.


Di gerbang rumah sakit, Salman tersandar di tembok sembari menahan pendarahan dengan tangan. Kepalanya tiba-tiba berputar dipenuhi bintang-bintang yang beterbangan, penglihatannya menggelap.

__ADS_1


Bug...


Salman tidak bisa lagi memposisikan diri, tubuhnya tumbang dan tergeletak di depan gerbang.


"Aaaah..."


Seorang wanita berteriak histeris saat mendapati tubuh Salman yang tergeletak bersimbah darah. Orang-orang yang berada di sekitar berlarian memenuhi tempat itu dan beberapa diantaranya membopong tubuh Salman dan membawanya ke dalam rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Safia sesaat setelah tiba di lobby, dia tidak sengaja mendengar keributan yang terjadi.


Tadinya Safia bermaksud menyusul Salman, namun perhatiannya teralihkan saat mendapati para suster yang tengah berlarian menuju UGD.


"Ada pria yang terjatuh di depan gerbang, dia sepertinya kehilangan banyak darah."


Deg...


Safia terperanjat dengan mata membulat dan jantung berdegup kencang.


Apa itu Salman?


Safia lekas berlarian menuju UGD dengan pikiran kacau tak menentu. Jika itu benar-benar Salman, Safia tidak akan sanggup melihatnya.


Saat hendak memasuki ruangan, langkah Safia ditahan oleh Alex yang baru saja dipanggil suster. Kebetulan hanya Alex lah dokter yang standby di rumah sakit. "Biar aku saja. Pergilah, temani Saka!"


"Tapi, Alex-"


"Dia akan baik-baik saja, aku yang akan menanganinya. Berdoalah agar Salman bisa bertahan!"


"Apa itu benar Mas Salman?" tanya Safia dengan raut memucat.


"Ya, itu Salman." angguk Alex membenarkan lalu memasuki ruangan UGD dan menutup pintu dari dalam.


Safia termundur ke belakang, punggungnya membentur dinding seiring getaran yang mengguncang sekujur tubuh. Safia menangis, dia takut Salman tidak akan mampu untuk bertahan.

__ADS_1


"Mas, kamu harus kuat. Kamu tidak boleh menyerah, Saka butuh kamu, dia hanya belum terbiasa dengan ini. Aku yakin Saka tidak bermaksud membencimu, tolong bertahanlah demi putramu!" batin Safia menangisi keadaan ini, dia sendiri juga belum sanggup kehilangan Salman. Tidak apa-apa Salman jauh darinya, tapi setidaknya Salman masih bisa menghirup udara yang sama dengannya.


__ADS_2