
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, motor yang dikendarai Salman akhirnya sampai di halaman rumah yang selama tujuh tahun terakhir dia tinggalkan.
Di sanalah dia tumbuh dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang kini sudah berpulang ke pangkuan Sang Ilahi.
Seketika kaki Salman bergetar hebat ketika menginjak ubin untuk pertama kali, dia cemas sekaligus takut mengingat semua yang sudah terjadi diantara dia dan Safia.
Apalagi setelah sadar bahwa posisinya bukan siapa-siapa lagi di rumah itu. Salman ragu kehadirannya malah akan membebani pikiran Safia.
Meski menurut Alex penyakit Safia sudah sembuh, namun tetap saja Salman merasa sangsi. Dia benar-benar tidak ingin menyakiti Safia untuk kesekian kalinya.
Akan tetapi, Salman harus siap menanggung konsekuensi atas kesalahan yang sudah dia lakukan di masa lalu. Sekarang masalahnya bukan terletak pada dirinya maupun Safia, melainkan seorang anak kecil yang tak berdosa.
Salman harus bisa menahan perasaan demi kesembuhan Saka yang kata Alex sangat membutuhkan bantuannya. Salman boleh saja gagal menjadi seorang suami, namun dia tidak ingin gagal menjadi seorang ayah.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, Salman memberanikan diri memasuki rumah itu. Kedatangannya disambut oleh Ina yang tiba-tiba terkejut menangkap penampakannya.
"Tu-tuan..." desis pelayan itu terbata-bata. Dia tidak menyangka bahwa Salman akan kembali setelah sekian lama.
"Hmm... Dimana Safia?" Salman langsung bertanya ke intinya, dia tidak ingin berbasa-basi terlalu lama.
"Nyo-nyonya ada di kamar, Tuan." jawab pelayan itu gagu.
Kali ini Salman tak lagi mengeluarkan suara. Dia pun mengayunkan kaki mendekati anak tangga dan berlari kecil menaikinya.
Raut wajah Salman jelas menunjukkan bahwa dia sangat panik dan gelisah. Dia seperti terjerat dalam dua pilihan yang sangat sulit.
Sesampainya di depan pintu, Salman langsung menekan kenop tanpa mengetuknya. Setelah pintu terbuka, mata Salman seketika membola menyaksikan seorang bocah laki-laki yang tengah terbaring di atas ranjang.
Hati Salman semakin teriris ketika mengamati selang infus yang masih terpasang. Tangan mungil bocah itu sampai bengkak saat sebuah jarum menancap di punggung tangannya.
Ingin sekali Salman menangis dan berteriak sekencangnya. Hancur hati Salman melihat semua itu. Manusia seperti apa dia yang sudah meninggalkan darah dagingnya dalam kondisi selemah ini?
__ADS_1
Salman merasa tidak pantas dipanggil dengan sebutan ayah. Dia terlalu jahat dan tidak memiliki hati.
Seakan rasa sakit itu tidak mau lepas dari jiwanya, kini jantung Salman terasa perih seakan tersayat pisau dan disiram dengan air cuka. Rasanya terlalu menyakitkan saat teringat kejadian di bandara kemarin.
Ya, Salman ingat betul bahwa bocah itu merupakan anak yang bertabrakan dengannya di bandara. Kenapa dunia jadi sekejam ini padanya? Dia bahkan tidak menyadarinya sama sekali.
Apa ini merupakan hukuman yang harus dia terima? Seorang ayah dan anak sudah sempat bertatap muka, namun tidak saling mengenal layaknya orang asing.
"Sa-Saka..."
Salman memberanikan diri mendekati bocah itu. Meski kakinya masih saja gemetaran, Salman berusaha kuat agar dirinya tidak terlihat lemah di hadapan putranya sendiri.
Entah sadar atau tidak, Salman lantas berjongkok di tepi ranjang. Perlahan tangannya bergerak meraih jemari kecil putranya yang menganggur.
Seketika butiran-butiran kecil berwarna bening jatuh membasahi pipi Salman. Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa saat memutuskan untuk pergi, dia tidak pernah berpikir sampai sejauh ini?
Salman tidak sanggup menahan rasa yang dia sendiri tidak mengerti perasaan seperti apa itu. Dia merasa kalah, dunia ini seakan menghancurkannya sampai tak bersisa.
"Saka, buka mata kamu Nak! Ini Papa, Papa datang untuk kamu, Papa tidak akan membiarkan kamu kesakitan lagi. Papa akan melakukan apa saja agar kamu sembuh, bahkan Papa rela menyerahkan nyawa Papa untuk kamu. Bangun Nak, lihat Papa!"
Menyesal?
Sepertinya kata itu sudah tak bermakna lagi untuk Salman. Dia sangat menyesal mengambil keputusan dalam keadaan setengah emosi. Harusnya dia lebih bisa bersabar sebelum pergi meninggalkan wanita yang sudah berjuang melahirkan putranya ke dunia ini.
Saat Salman masih larut dalam penyesalan yang membelenggu hatinya, pintu kamar mandi tiba-tiba berderit. Salman yang menyadari itu dengan cepat menyeka wajahnya, menghapus jejak-jejak air mata agar tak terlihat oleh Safia.
"M-mas Salman..."
Safia terpaku di ambang pintu ketika menangkap keberadaan mantan suaminya yang masih berjongkok di sisi ranjang. Salman bahkan tak melepaskan genggaman tangannya dari Saka.
Kemudian Salman memberanikan diri menoleh ke arah Safia, tatapan keduanya menyatu seiring pikiran yang bercakak di hati masing-masing.
__ADS_1
Dengan berat hati, Salman terpaksa melepaskan tangannya dari Saka. Dia pun berdiri dan berjalan menghampiri Safia.
"A-apa yang kamu lakukan di sini, Mas?" tanya Safia tergagap sembari terus mematut wajah Salman yang jauh berubah dari sebelumnya.
Salman terlihat jauh lebih tua, mukanya dipenuhi bulu yang tumbuh di atas bibir, rahang dan dagu. Bahkan rambutnya nampak acak-acakan seperti tak pernah diurus, rambut putihnya pun nampak jelas di mata Safia.
"Ma-maaf, aku datang untuk Saka. Aku sudah mendengar semuanya dari Alex. Kenapa Safia, kenapa menyembunyikan hal sebesar ini dariku?"
Tubuh Salman tiba-tiba bergetar dan merosot di kaki Safia, Salman menyentuh tulang kering mantan istrinya itu seiring air mata yang kembali jatuh membasahi pipi.
Salman merasa tidak berguna sebagai seorang ayah. Kenapa Safia menghukumnya dengan cara seperti ini? Kenapa tidak Safia bunuh saja dia agar semua penderitaan ini berakhir?
"Apa yang bisa aku lakukan? Kemana aku harus mencarimu? Kamu yang memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan janin yang aku kandung, aku bahkan sudah berusaha mencari keberadaanmu."
"Maafkan aku, Safia. Aku-"
"Aku tau kehadiranku hanya menjadi beban untukmu. Apa yang bisa aku harapkan saat seseorang tidak menginginkan aku yang penyakitan ini? Bukankah kamu sudah bahagia bersama wanita itu? Wanita yang sangat kamu cintai,"
Safia meninggikan suara saat mengatakan semua itu. Emosinya tiba-tiba tersulut ketika mengingat pengkhianatan yang dilakukan Salman bersama wanita itu.
"Hmm... Aku memang salah, tolong maafkan aku! Aku cuma minta satu hal, biarkan aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang Ayah! Aku janji tidak akan mencampur adukkan masalah Saka dengan masalah kita, aku bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk Saka. Aku juga janji akan pergi setelah putraku dinyatakan sembuh, aku tidak akan mengganggu kamu lagi setelah itu."
Salman mendongak sembari menangkup kedua tangan di depan dada. Hanya ini yang bisa dia lakukan agar Safia memberinya izin untuk menyelamatkan nyawa putranya.
"Memang sudah seharusnya begitu ,kan?" ketus Safia yang masih marah pada Salman.
"Hmm... Kamu benar, kalau begitu terima kasih. Aku boleh di sini dulu kan sampai besok pagi? Besok kita akan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, semakin cepat semakin baik. Aku tidak ingin putraku menanggung rasa sakit ini terlalu lama," pinta Salman yang tidak mau meninggalkan putranya, dia ingin menikmati saat-saat terakhir bersama Saka sebelum benar-benar pergi sesuai janjinya.
"Hmm... Hanya sampai Saka sembuh," angguk Safia yang terpaksa menerima permintaan Salman, dia melakukan ini semata-mata demi kesembuhan Saka.
"Terima kasih, terima kasih banyak."
__ADS_1
Salman meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat. Meski hanya sebatas ini, dia merasa cukup senang karena bisa berkumpul kembali dengan wanita yang sangat dia cintai dan buah hati yang sangat dia rindukan.
Salman tidak peduli lagi pada ketidakadilan yang dia terima. Dia hanya ingin merasakan momen terindah memiliki keluarga yang lengkap.