
"Puas kau, hah? Tidak hanya marah padamu saja, aku bahkan ikut terseret karena ulahmu." berang Alex pada Salman sesaat setelah tiba di sebuah ruang kosong yang bersebelahan dengan ruangannya.
"Hmm... Maafkan aku untuk itu, aku tidak bermaksud membawamu ke dalam masalah ini, aku benar-benar minta maaf." jawab Salman dengan kepala tertunduk lesu, dia tau dan sadar akan kesalahan yang sudah dia buat.
"Jangan meminta maaf padaku, tapi minta maaflah pada Safia!" geram Alex dengan tatapan tajam membunuh. Andai bukan Salman, entah apa yang ingin dia lakukan saking marah pada sahabatnya itu.
"Ya, aku tau itu, akulah yang bersalah atas semua yang sudah terjadi. Kalau begitu terima kasih untuk bantuannya, aku harus pergi sekarang sebelum Safia melihatku."
Salman menguatkan diri bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu yang masih terbuka.
"Apa kau benar-benar ingin meninggalkan Safia dan putramu?Tolong pikirkan lagi dengan kepala dingin! Ini tidak lagi berhubungan dengan Safia seorang, tapi ada darah dagingmu yang akan menderita setelah kepergianmu." seru Alex menahan langkah kaki Salman yang sudah tiba di ambang pintu.
Salman pun seketika berbalik dan mematut Alex dengan intens. "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Aku rasa ini adalah pilihan yang paling tepat, Safia dan putraku pasti akan bahagia setelah ini. Aku tidak pantas berada di tengah-tengah mereka, aku terlalu buruk." jawab Salman gamblang dengan senyum getir.
Sekuat apapun Salman berjuang merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, akan sulit baginya untuk meraih hati Safia kembali. Sudah terlalu banyak luka yang dia ciptakan sehingga tidak memiliki muka lagi untuk berada di sisi Safia.
"Tapi, Salman-"
"Sudahlah Alex, biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya! Tanpa adanya aku, mereka pasti baik-baik saja, aku pergi dulu." potong Salman.
"Salman..." geram Alex dengan gigi bergemeletuk, dia kehilangan kata-kata untuk meyakinkan sahabatnya itu.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya,"
Salman mengulas senyum tipis sambil menepuk bahu Alex lalu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit setelah perdebatan kecil yang terjadi.
__ADS_1
Meski kaki rasanya sangat berat di langkahkan, namun Salman mencoba ikhlas menerima kenyataan bahwa dirinya tidak punya hak lagi untuk masuk ke dalam hidup Safia.
Salman sangat yakin bahwa Safia merupakan wanita yang kuat dan tegar, mantan istrinya itu pasti bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran sosok pecundang seperti dirinya.
Salman juga sudah cukup bahagia setelah mengenal Saka putranya dan mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya, setidaknya dia bisa pergi dengan tenang usai menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Melihat sahabatnya yang benar-benar menyerah di titik ini, Alex pun merasa kasihan, namun dia tidak punya keberanian ikut campur terlalu dalam.
Alex sadar posisinya masih sama seperti dulu. Dia tidak bisa memaksa Salman maupun Safia untuk kembali bersama.
Sebenarnya Alex cukup beruntung mengingat keputusan Salman yang tidak lagi mengharapkan Safia, itu artinya dia masih memiliki kesempatan menggantikan posisi sahabatnya itu.
Akan tetapi, Alex tidak mungkin melakukan itu. Dia sangat tau bahwa Safia tidak membutuhkan dirinya kecuali hanya sebagai dokter untuk Saka sekaligus rekan kerja.
Dia hanya berharap suatu saat nanti semua akan kembali seperti semula. Apalagi beberapa tahun ke belakang hubungannya dengan Mika sudah mulai membaik. Hanya Tuhan yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sa-Safia..." gumam Alex terbata dengan raut muka memucat, bahkan tangannya tiba-tiba berkeringat saking cemasnya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Safia dengan tatapan tajam mengintimidasi, perasaan curiga menggerogoti hatinya setelah cukup lama kehilangan jejak Alex. Dia sengaja mencari pria itu untuk menanyakan keberadaan Salman.
"A-aku..." lagi-lagi ucapan Alex patah karena tidak tau harus menjawab apa. Dia nampak seperti seekor kucing yang tertangkap basah membuka tudung saji.
Entah sejak kapan Safia berada di ruangan itu, Alex sendiri tidak tau. Beruntung Salman sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu sebelum Safia berhasil menemukannya.
Alex benar-benar bingung, dia seakan terjebak diantara dua pilihan yang sangat sulit.
__ADS_1
Di satu sisi, dia merasa senang setelah memastikan bahwa kondisi Saka baik-baik saja usai mendapatkan donor sumsum tulang belakang dari Salman, itu artinya Saka bisa beraktivitas seperti anak-anak pada umumnya.
Namun di sisi lain, Alex merasa iba melihat nasib Salman yang harus menjauh dari putranya. Tidak akan ada seorang ayah yang sanggup melalui itu meski laki-laki bajingan sekalipun.
Apalagi Alex tau persis sampai detik ini Safia masih menyimpan rasa yang sama untuk Salman. Semua itu terbukti saat Alex mencoba mendekatinya, Safia beralasan dirinya tidak ingin menjalin hubungan setelah mengalami kegagalan bersama Salman.
Namun Alex tau pasti bahwa semua itu hanya alasan Safia saja. Pada kenyataannya Safia masih sangat mencintai Salman seperti tujuh tahun yang lalu, namun ego mengalahkan segalanya.
"Kenapa wajahmu jadi pucat seperti itu? Apa ini semua ada hubungannya dengan Salman?" tanya Safia menekankan.
"Ti-tidak, aku hanya kaget melihatmu berada di ruanganku. Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Saka?" alibi Alex mencari alasan. Dia berusaha keras terlihat tenang di hadapan Safia lalu melangkah pelan menuju kursi.
Setelah duduk berhadapan dengan Safia, Alex kembali bertanya seakan-akan tidak mengetahui apa-apa tentang kepergian Salman barusan. "Ada apa? Kenapa kamu malah di sini? Lalu siapa yang menemani Saka di ruangannya?"
"Saka baru saja tidur, ada Ina yang menemaninya di sana." jawab Safia tegas.
"Oh, syukurlah kalau begitu, aku pikir terjadi sesuatu pada Saka." Alex pun menghela nafas lega setelah mendengar pernyataan Safia.
Sayang reaksi Alex itu justru semakin menimbulkan kecurigaan di hati Safia. Dia sangat yakin bahwa Alex menyembunyikan sesuatu darinya. "Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu."
Tanpa banyak bicara, Safia pun bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Alex yang baru saja duduk sembari menatapnya tanpa kedip.
Alex yang melihat kepergian Safia hanya diam dengan raut kebingungan dan geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah aneh Safia.
Alex pikir Safia akan mencercanya dengan serentetan pertanyaan mengenai kepergian Salman, akan tetapi dugaannya ternyata salah besar.
__ADS_1
Makin ke sini, tentu saja Alex semakin bingung memikirkan masalah mantan istri sahabatnya itu. Alex tidak mengerti bagaimana cara bersikap karena harus menimbang perasaan antara sahabat dan wanita yang pernah dia cintai itu.
"Benar-benar rumit," gumam Alex sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Dia menghela nafas berat dan mengusap wajah dengan kasar lalu memejamkan mata barang sejenak.