Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 49.


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Saka kemarin, hari ini dia dan Safia benar-benar tidak datang ke rumah sakit. Salman yang penasaran, kemudian menanyakan keberadaan Safia pada suster yang merawatnya.


Suster itu mengatakan kalau hari ini Safia dan Alex mengambil cuti bersama, tugas keduanya sudah dipercayakan kepada dokter lain.


Salman tersenyum getir sesaat setelah mendengar ucapan suster itu, ternyata Saka dan Safia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Alex sahabatnya.


Setelah suster itu meninggalkan ruangan, Salman bangkit dari pembaringan. Energinya sudah terkumpul dan luka di pinggangnya juga mulai mengering.


Salman kemudian mencabut infus dan turun dari brankar. Sebelum meninggalkan rumah sakit, dia mencuci wajah terlebih dahulu dan lekas mengganti pakaian lalu pergi menuju meja administrasi.


Salman menanyakan berapa biaya yang harus dia keluarkan, akan tetapi seorang suster mengatakan bahwa tagihan rumah sakit sudah dilunasi. Salman terkejut, dia yakin Safia lah yang sudah melakukannya.


Lalu Salman melanjutkan langkahnya menuju gerbang, dia berdiri di trotoar dan menyetop sebuah taksi.


Setelah Salman duduk di dalam taksi tersebut, dia meminta sang sopir mengantarnya ke sorum tempatnya bekerja. Salman ingin bertemu kepala pimpinan dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Salman sudah memutuskan, dia tidak bisa lagi berada di kota yang sama dengan Safia dan Saka, dia tidak akan sanggup melihat Safia dimiliki oleh pria lain, menjauh akan lebih baik daripada menghancurkan dirinya sendiri.


Setelah berhasil berbicara dengan kepala pimpinan, Salman kembali menaiki sebuah taksi. Dia meminta sang sopir mengantarnya pulang, dia harus berkemas, besok pagi dia sudah harus menghilang dari kota itu.


Saat di dalam perjalanan, Salman melihat sebuah toko kue. Tiba-tiba dia berseru menyuruh sang sopir menepi di tempat itu lalu turun dan membeli sebuah kue ulang tahun, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Usai mendapatkan kue yang dia inginkan, Salman kembali memasuki taksi dan menyuruh sopir melanjutkan perjalanan.


Setibanya di rumah, Salman meletakkan kue itu di atas meja. Dia duduk di lantai dan membuka kue itu sendirian lalu menyalakan lilin.


"Selamat ulang tahun, Safia. Harapanku hanya ingin melihatmu dan putra kita bahagia."


Setelah mengatakan itu, Salman menutup mata sejenak lalu meniup lilin itu seorang diri. Suasana hatinya semakin kacau membayangkan ucapan Saka kemarin.


Salman tau Safia, Saka dan Alex tengah merayakan hari spesial ini bersama, mereka bertiga pasti sangat bahagia dan tengah bersenang-senang, tidak seperti dirinya yang harus kembali diterpa badai kesepian.


Tak sanggup membayangkan semua itu, Salman akhirnya terbawa emosi. Dia meninju kue itu dan mengacaknya hingga hancur berantakan kemudian berjalan memasuki kamar.

__ADS_1


Lalu Salman masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan kran shower dan berdiri di bawah gemercik air yang jatuh membasahi tubuhnya.


"Aaaah..."


Salman berteriak histeris dan terhenyak di lantai kamar mandi. Salman membungkuk dan mengacak rambut frustasi.


"Aku memang tidak berguna." teriak Salman lantang memenuhi seisi kamar mandi.


Tepat setelah satu jam menyiksa dirinya sendiri, Salman bangkit dan mematikan kran. Dia meraih handuk dan membuka pakaian lalu melilitkan handuk di pinggang.


Salman kemudian berjalan meninggalkan kamar mandi dan membuka pintu lemari.


Setelah memakai pakaian baru, Salman menurunkan koper dari atas lemari. Dia dengan cepat mengemas barang-barang miliknya dan menutup resleting segera.


"Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk tetap berada di sini. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, aku harus pergi."


Salman menyeret koper itu dan melangkah meninggalkan kamar. Akan tetapi, langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat menangkap keberadaan Safia dan Saka yang tengah berdiri mematung di hadapannya.


"Seharusnya kami lah yang bertanya padamu. Kau mau kemana?" tanya Safia balik.


"Bukan urusanmu," ketus Salman dingin seraya membuang pandangan ke arah lain.


"Hmm... Kau benar, aku memang tidak berhak mengetahui apa-apa tentangmu, tapi bagaimana dengan Saka? Bukankah dia berhak tau?" tukas Safia.


Salman terdiam lalu memutar leher ke arah Saka dan menatapnya intens. Perlahan kakinya bergerak menghampiri Saka yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Salman kemudian berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Saka. "Maafkan Papa ya, Nak. Papa harus pergi, urusan Papa di sini sudah selesai. Papa tidak bisa tinggal di sini, Papa-"


"Papa sudah meninggalkanku sekali. Jika kali ini Papa pergi lagi, aku tidak akan melarangnya. Pergilah, tapi jangan pernah kembali lagi apalagi menganggapku sebagai putra Papa. Anggap saja aku sudah mati!" potong Saka.


"Saka, jangan bicara seperti itu. Papa-"


"Papa tidak pernah menyayangiku, itu 'kan maksud Papa?" selang Saka dengan tatapan tajam membunuh.

__ADS_1


"Tidak Nak, bukan begitu. Papa sangat menyayangimu. Tapi keadaannya sudah berbeda, Papa tidak bisa bersama Saka. Papa-"


"Kenapa tidak bisa? Apa pengecut akan selalu melarikan diri saat tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan?" cerca Saka yang lagi-lagi memotong perkataan Salman.


Salman tersenyum getir. "Iya, Papa memang pengecut, Papa tidak bisa menghadapi kenyataan." angguk Salman menundukkan kepala.


Salman tidak bisa membela diri, dia merasa apa yang dikatakan Saka itu memang benar adanya. Dia memang tidak lebih dari seorang pengecut yang selalu melarikan diri dari kenyataan.


"Tumbuh lah menjadi anak yang kuat dan pemberani, Saka harus bisa menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Jaga Mama dan lindungi dia, Papa yakin Saka pasti bisa." imbuh Salman lalu memeluk Saka erat dan mencium pipinya.


Puas melepaskan rasa rindu terhadap Saka, Salman kemudian melepaskan pelukan dan bangkit dari jongkoknya. Dia berjalan mengambil koper dan menyeretnya menuju pintu.


Safia yang melihat itu hanya diam menitikkan air mata, dia ingin mencegah tapi lidahnya sangat berat digerakkan.


"Saat Papa memutuskan pergi meninggalkan Saka, saat itu juga Saka akan kembali ke rumah sakit. Saka akan meminta Paman Alex mengeluarkan sumsum tulang belakang yang sudah Papa berikan untuk Saka, Saka tidak ingin anggota tubuh pengecut seperti Papa tertanam di tubuh Saka."


Deg...


Langkah kaki Salman sontak tertahan di ambang pintu kala mendengar ucapan putranya. Salman berbalik dan menatap Saka lirih.


"Saka tidak ingin hidup sesuai keinginan Papa, Saka akan mati dan Mama lah yang akan menderita seorang diri." imbuh Saka dengan tegas dan lantang.


"Tidak Nak, tolong jangan lakukan itu!" lirih Salman menitikkan air mata.


"Pilihan ada di tangan Papa, Saka tidak main-main, hari ini juga Saka akan kembali ke rumah sakit." Saka membuang muka dan menggenggam tangan Safia. "Ayo, Ma!"


Saat Saka menarik tangan Safia hendak pergi, Salman dengan cepat menutup pintu dan menguncinya. "Sampai kapanpun, Papa tidak akan membiarkanmu melakukan kebodohan itu." tekan Salman mengurung keduanya di rumah itu.


"Saka tidak peduli. Ingat, bukan Saka yang mengusir Papa, tapi Papa sendiri yang memutuskan untuk pergi. Lalu kenapa sekarang malah mengurung kami? Cepat buka pintunya! Saka tidak ingin berlama-lama di sini!"


Saka melepaskan tangan Safia dan mencoba merebut anak kunci yang ada di genggaman Salman, dia bahkan tidak ragu memukul lengan Salman dan menggigit tangannya.


"Meski kamu membunuh Papa sekalipun, Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu melakukan tindakan bodoh itu." tegas Salman yang tengah berjuang mempertahankan diri dari serangan Saka. Keduanya sampai terjatuh di lantai dan berguling-guling memperebutkan benda kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2