Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 22.


__ADS_3

Setelah Anton pergi meninggalkan kediamannya, Salman pun merogoh kantong celana dan mengeluarkan iPhone miliknya.


Dia menghubungi seseorang dan meminta orang tersebut menyelesaikan masalah CCTV yang ada di hotel tempat dia dan Safia menginap malam itu.


Kemudian Salman masuk ke ruang pribadi miliknya dan menghapus jejak digital yang tersimpan pada CCTV yang ada di setiap sudut rumahnya.


Salman ingat betul bagaimana seriusnya muka Safia saat berbicara dengan Anton tadi. Sebelum Safia benar-benar mendapatkan bukti atas kelakuannya tempo hari, dia pun memilih bertindak lebih dulu.


Pada dasarnya Salman tidak ingin menceraikan Safia setelah tau apa yang terjadi sebenarnya. Biarlah Safia tetap menjadi istrinya, seiring berjalannya waktu Salman yakin rumah tangga mereka akan membaik seperti hubungan suami istri pada umumnya.


Safia keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Tubuh bagian atasnya dibalut sweater rajut bermotif kotak hitam putih, sedangkan bagian bawah mengenakan celana jeans berwarna hitam lengkap dengan sneakers berwarna putih senada. Sebuah tas selempang menggantung di bahunya.


"Safia, kamu mau kemana?" tanya Salman yang baru saja keluar dari ruang pribadinya. Dia berjalan menghampiri Safia dan berdiri di hadapannya.


Safia mematut Salman sejenak kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, dia sangat malas melayani suami gilanya itu.


"Safia, aku bertanya baik-baik. Tolonglah, jangan memandangku seperti musuh begini!" imbuh Salman menahan rasa kesal yang bersarang di hatinya. Dia benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi sikap keras kepala istrinya itu.


"Untuk apa aku bicara denganmu? Kamu lupa bahwa aku hanyalah istri boneka untukmu?" jawab Safia membuka suara, dia menatap Salman dengan tatapan kesal dan mengayunkan kakinya setelah mengatakan itu.


"Safia..." Salman berlari kecil menyusul istrinya itu dan mencoba meraih tangannya.


Safia yang merasa jengkel kemudian menyentak tangan Salman kasar lalu mematutnya dengan tatapan mematikan. "Keputusanku sudah bulat, aku ingin mencari bukti perselingkuhanmu dan melayangkan gugatan cerai secepat mungkin. Ingat, aku-"


"Percuma saja Safia, aku sudah menyuruh orang untuk menghapus semua bukti yang ada di hotel maupun di rumah ini. Kamu tidak akan mendapatkan bukti apa-apa, aku tidak ingin bercerai. Aku yakin rumah tangga ini masih bisa diselamatkan," ucap Salman gamblang dengan pandangan berkabut, dia masih berharap Safia mau memberinya kesempatan sekali lagi.


"Brengsek!" umpat Safia, dia pun memukul Salman tepat di wajahnya. "Kamu benar-benar bajingan Salman, aku membencimu."


"Kamu benar Safia, aku memang brengsek, kamu berhak membenciku. Tapi sejahat-jahatnya aku, ini semua aku lakukan karena rasa sayangku pada wanita yang telah melahirkan ku ke dunia ini. Aku merasa ada kejanggalan atas kematian Ibu sehingga salah dalam mengambil keputusan. Aku hanya butuh satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya." terang Salman dengan air muka menggelap. Dia sangat sadar akan kesalahan yang sudah dia perbuat terhadap Safia.

__ADS_1


Salman tidak ingin mereka berdua berpisah, dia akan melakukan apapun agar Safia tetap menjadi istrinya. Bagaimanapun dia pernah berjanji pada sang ayah dan dia harus menepatinya.


Saat Salman tengah terdiam dalam pemikirannya, Safia meninggalkan pria itu dan berlari memasuki kamar. Dia sangat marah setelah tau bahwa Salman sudah lebih dulu bertindak di belakangnya.


Setibanya di kamar, Safia menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia bingung memikirkan cara agar bisa lepas dari belenggu pernikahan kelam ini. Baginya tidak ada maaf untuk suami pengkhianat seperti Salman.


Beberapa saat setelah Safia mencoba menenangkan diri, Salman tiba di kamar dan duduk di tepi ranjang. Dia menatap lekat pada Safia yang tengah berbaring memunggunginya.


"Aku tau ini semua salahku. Tidak bisakah kamu memaafkan ku sekali saja? Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik, aku akan menyudahi hubunganku dengan Mika. Beri aku satu kesempatan untuk membuktikannya!" ucap Salman lirih sembari menyentuh pundak Safia.


"Kesempatan itu sudah tidak ada, aku hanya ingin berpisah." jawab Safia tersedu dan menyingkirkan tangan Salman dari pundaknya, tak terasa air matanya terus saja berjatuhan mengingat apa yang sudah Salman lakukan padanya.


Tidak mengapa Salman merebut kesuciannya dengan paksa, Safia masih bisa menerima itu, bagaimanapun Salman berhak atas dirinya.


Akan tetapi, Safia tidak bisa menerima saat Salman mencium wanita lain di depan mata kepalanya. Safia merasa sangat hancur kala itu, harga dirinya seakan tak berarti di mata Salman.


Apa salah jika Safia ingin berpisah darinya? Apa Safia berdosa jika menolak Salman selayaknya suami?


Safia memang sangat mencintai pria itu, namun bukan berarti Salman bisa semena-mena terhadap dirinya.


Jika dari awal tidak ada cinta di hati Salman untuknya, lalu untuk apa pernikahan ini dilanjutkan?


Safia hanya ingin menikmati sisa-sisa kesempatan yang dia miliki. Dia takut suatu hari nanti semua memori itu akan hilang dari benaknya.


Dia masih ingin menjadi dokter seperti apa yang dia cita-citakan sejak kecil. Dia tidak ingin terpenjara dalam pernikahan yang tidak pasti ini.


"Beri aku kesempatan selama satu bulan, ya satu bulan." pinta Salman dengan yakin.


"Untuk apa?" lirih Safia tanpa berani menatap Salman.

__ADS_1


"Untuk membuktikan bahwa aku layak menjadi suamimu. Untuk memastikan bahwa kamu tidak mengandung darah dagingku dan untuk meyakinkan bahwa aku mencintaimu." jawab Salman tegas.


"Heh, orang sepertimu tidak pernah mencintai orang lain. Kamu egois dan hanya mencintai dirimu sendiri." balas Safia.


"Hmm... Untuk sekarang anggap saja begitu. Kamu memiliki hak menilai ku sesuka hatimu, aku pun mengakui bahwa aku bukan orang yang baik." angguk Salman.


"Pergilah, aku ingin tidur." usir Safia.


"Oke, aku akan pergi. Tapi tolong jangan pernah tinggalkan rumah ini, aku akan kembali saat urusanku sudah selesai." sahut Salman.


"Aku tidak janji," kata Safia.


"Safia..." desis Salman sambil mencengkeram pelan lengan Safia lalu mengusapnya lembut.


"Aku tau kamu pasti mau menemui wanita itu, iya kan?" Safia meremas guling dan membelitnya dengan erat. Air matanya semakin mengucur deras tanpa bisa dia bendung.


"Kenapa menjebak ku dalam situasi serumit ini? Jika kamu mencintainya, maka lepaskan saja aku. Aku tidak ingin jadi penghalang untuk hubungan kalian berdua." isak Safia sesenggukan, suaranya nyaris tak terdengar.


"Untuk saat ini aku akui bahwa aku memang mencintainya. Hubungan kami sudah lama terjalin, bahkan sebelum kita berdua bertemu. Akan tetapi pada kenyataannya aku adalah suamimu, kamulah yang lebih berhak atas diriku. Beri aku sedikit ruang untuk menyelesaikan masalah ini!" ungkap Salman meminta waktu.


"Sayangnya aku tidak peduli, aku tidak mau tau urusan kalian berdua." ketus Safia.


"Ya, terserah kamu saja. Kalau begitu aku pergi dulu,"


Dengan berat hati, Salman terpaksa meninggalkan Safia sendirian. Dia memang harus segera menyelesaikan urusannya dengan Mika agar Safia percaya padanya.


Sebenarnya ini sangat berat bagi Salman, dia seperti terjebak diantara dua pilihan yang sulit.


Di satu sisi kekasihnya, wanita yang sangat dia cintai. Sedangkan di sisi lain adalah istrinya, wanita yang harus dia jaga sesuai amanat sang ayah sebelum pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Salman harus memilih walaupun berat.

__ADS_1


__ADS_2