Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 48.


__ADS_3

Saka kembali berdiri di sisi brankar yang ditiduri Salman sembari mematut tubuh ringkih itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Betapa malang nasib orang ini, tidak ada satupun keluarganya yang datang untuk melihat keadaannya." cetus Saka yang kembali memancing emosi Salman.


"Hmm... Nasibnya memang buruk, kasihan sekali dia." timpal Safia sembari berjalan menghampiri keduanya, dia mulai mengikuti alur permainan yang diperankan Saka.


"Mungkin ini karma untuknya, dia sudah menyakiti Mama dan meninggalkan kita berdua. Tuhan sedang menghukumnya karena kesalahan yang sudah dia lakukan." sambung Saka.


"Kamu benar, dia pantas mendapatkan hukuman ini." balas Safia.


"Ngomong-ngomong, besok hari ulang tahun Mama 'kan?" tanya Saka.


"Iya, kenapa memangnya?" jawab Safia dengan pertanyaan pula.


"Tidak apa-apa, besok Mama tidak usah ke rumah sakit dulu, begitu juga dengan Paman Alex. Saka ingin membawa kalian berdua ke suatu tempat." ucap Saka.


"Kemana, sayang?" tanya Safia.


"Surprise dong, Ma. Mama lihat saja nanti, Saka akan memberi kejutan buat kalian berdua. Setelah itu Mama tidak akan kesepian lagi." jawab Saka.


"Benarkah?" Safia pura-pura terkejut.


"Hmm... Saka ingin Mama melupakan kenangan buruk di masa lalu dan memulai kehidupan baru bersama Paman Alex. Saka ingin kalian berdua menikah, Mama tidak keberatan 'kan?" kata Saka.


"Tapi, Nak-"


"Tidak ada tapi-tapi, ini keinginan Saka dan Mama harus setuju. Tidak ada gunanya menyimpan kenangan masa lalu, toh orangnya juga tidak peduli pada kita." tukas Saka.


"Baiklah, terserah kamu saja kalau begitu."


Safia mengulum senyum karena merasa geli mendengar ucapan putranya. Jangankan menurutinya, membayangkannya saja Safia tidak ingin.


Alex memang pria yang baik dan sangat perhatian pada mereka berdua. Apalagi Alex pernah berusaha mengungkapkan isi hatinya pada Safia.

__ADS_1


Tapi di mata Safia, Alex tidak lebih dari sekedar teman dan rekan kerja, Safia tidak bisa membuka hatinya untuk Alex. Dia tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan pria manapun, hatinya sudah terpatri pada Salman dan tidak bisa memberikannya pada orang lain.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang saja. Untuk apa berlama-lama di tempat ini? Percuma menemani patung seperti dia, jangankan bergerak, mendengar kita saja tidak."


Saka meraih tangan Safia. Saat keduanya hendak melangkah pergi, tiba-tiba jari telunjuk Salman bergerak, menandakan dia akan bangun, dia juga telah mendengar semuanya.


Sudut mata Salman mengeluarkan cairan, dia ingin membuka mata tapi rasanya begitu berat. "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, jangan..."


Langkah Saka dan Safia sontak terhenti kala telinga keduanya mendengar Salman bergumam. Saka melepaskan tangan Safia dan kembali menghampiri brankar.


"Aku mencintaimu, Safia. Aku sangat mencintaimu." lagi-lagi Salman bergumam tanpa sanggup membuka mata.


Safia memelototi Salman, jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata itu.


Safia rasanya seperti tengah bermimpi. Apa dia tidak salah dengar? Benarkah Salman mencintainya? Sejak kapan? Bukankah Salman sendiri yang memutuskan untuk pergi meninggalkannya?


Setelah bercakak dengan pertanyaan yang memenuhi otaknya, Safia berhamburan menghampiri Salman dan berdiri di sisi brankar.


"Saka, keluarlah, suruh Kak Ina memanggil Paman Alex!" seru Safia pada putranya.


"Mas, kamu sudah sadar? Ayo, buka matamu!"


Safia meraih tangan Salman dan menggenggamnya erat lalu meminta Saka menunggu di luar saja. Safia yang akan memeriksa keadaan Salman sebelum Alex datang.


Lima menit berselang, Alex tiba di ruangan itu. Matanya membola mendapati Salman yang sudah membuka mata, namun Salman tidak mengeluarkan suara sama sekali.


"Dia sudah sadar?" tanya Alex menatap bingung pada Safia. Menurutnya ini merupakan sebuah keajaiban, padahal hasil pemeriksaan terakhir jelas menunjukkan bahwa kondisi Salman sangat buruk.


"Iya, aku sudah memeriksanya. Semua normal, hanya saja dia tidak mau bicara." jawab Safia yang masih saja menggenggam tangan Salman. Alex yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir, dia mengerti Safia hanya menginginkan Salman seorang.


Akan tetapi, hal itu sudah tidak penting lagi bagi Alex. Dia sudah move on dari Safia, dia hanya menjalani kewajiban sebagai seorang dokter dan teman. Dia bahkan ikut senang jika Safia dan Salman kembali bersama, itu akan lebih baik untuk perkembangan Saka.


Saat Alex mendekat dan memeriksa keadaan Salman, Safia melepaskan genggamannya dan berdiri sedikit menjauh.

__ADS_1


"Ini cukup mengejutkan, aku pikir dia sudah menyerah tapi ternyata-"


Ucapan Alex terhenti saat Salman menatapnya tajam. Alex mengernyit, bisa-bisanya orang yang hampir menutup usia itu memandanginya seperti itu.


"Kamu benar, detak jantungnya stabil, semua normal. Mungkin dia masih syok, biarkan saja dulu. Kalau begitu aku pergi, beberapa menit lagi ada operasi. Cobalah mengajaknya bicara!"


Setelah mengatakan itu, Alex pun melangkah pergi karena tidak ingin mengganggu mereka berdua.


Sesampainya di luar, Alex berhenti sejenak di dekat Saka yang masih setia menunggu bersama Ina.


"Bagaimana keadaan Papa, Paman?" tanya bocah itu.


"Sudah jauh lebih baik, Papa sudah siuman. Berdoa saja agar Papa cepat pulih!" jawab Alex sembari mengacak rambut Saka lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang operasi.


Alex tidak ingin ikut campur terlalu dalam, dia sadar posisinya tidak lebih dari seorang dokter. Dia harus menjaga jarak dengan Saka dan Safia, Alex tidak ingin menjadi tembok diantara mereka.


Setelah Alex menghilang dari pandangannya, Saka memilih masuk ke dalam ruangan. Dia ingin melihat bagaimana perkembangan sang papa.


"Akhirnya dia bangun juga, baguslah." Saka berbicara seperti orang dewasa yang tidak punya perasaan.


"Saka..." sela Safia memelototinya.


"Karena dia sudah siuman, maka tugas kita juga sudah selesai sampai di sini. Ayo, kita pulang saja. Saka harus menyiapkan keperluan kita untuk besok, Saka baru saja membicarakannya dengan Paman Alex dan beliau setuju."


Saka menatap Salman sekilas lalu meraih tangan Safia dan membawanya ke luar.


Sepeninggal Saka dan Safia, Salman menitikkan air mata menatap pintu yang sudah tertutup. Dia mengerti maksud Saka dan tidak mungkin menentangnya.


Safia memang pantas mendapatkan pria seperti Alex, sahabatnya itu jauh lebih baik darinya. "Selamat untuk kalian berdua, aku ikut bahagia jika kalian juga bahagia." batin Salman dalam hati sembari tersenyum getir.


Tidak lama, seorang suster datang untuk mengganti infus Salman lalu membuka semua alat yang terpasang di tubuhnya. Salman tidak membutuhkan alat itu lagi, kondisinya sudah semakin membaik.


"Kapan aku diperbolehkan pulang?" tanya Salman pada suster itu.

__ADS_1


"Semua tergantung dokter Alex, sebaiknya Tuan istirahat saja sampai kesehatan Tuan benar-benar pulih." jawab suster itu.


Setelah semua pekerjaannya selesai, suster itu pamit dan meninggalkan ruangan. Salman hanya diam sembari memikirkan kata-kata Saka tadi, dia sadar Saka tidak menginginkan dirinya. Salman harus ikhlas karena ini semua tidak akan pernah terjadi jika bukan karena kesalahan yang sudah dia lakukan di masa lalu.


__ADS_2