
Pagi hari, Saka terbangun saat merasakan sesuatu yang menindih perutnya, rasanya cukup berat sehingga mata bocah itu terbuka secara perlahan.
Saka menyipitkan mata sesaat setelah nyawanya terkumpul dengan sempurna, dia terkejut melihat seorang pria yang tengah berbaring di sampingnya dan memeluk perutnya.
Setelah Saka memperhatikan muka pria itu dengan seksama, dia pun mengernyit kala teringat saat pertama kali bertemu di bandara. "Paman?" gumam bocah laki-laki itu sembari mengguncang lengan Salman. Dia ingat betul bahwa mereka berdua pernah berjumpa sebelumnya.
Salman sontak terkejut mendengar suara Saka yang mengalun dengan lembut, dia pun terbangun dan membuka mata dengan cepat.
Seketika dia pun tersenyum mendapati Saka yang menatapnya dengan intim, bola mata coklat milik putranya nampak sangat indah.
"Saka, kamu sudah bangun?" tanya Salman sembari menyingkirkan tangannya dari perut bocah itu, dia mengucek mata perlahan lalu bangkit dari pembaringan.
Tak terbilang betapa bahagianya dia saat menatap wajah tampan putranya, dia pun mengusap pucuk kepala Saka dengan sayang.
Salman seketika teringat dengan masa kecilnya yang sangat menyenangkan, mereka berdua nyaris mirip, hanya saja kulit Saka lebih condong meniru kulit Safia yang putih dan bersih, sementara kulit Salman sendiri berwarna kuning langsat.
"Apa yang Paman lakukan di sini? Kenapa Paman bisa tidur di kamar ini? Kata Mama, pria asing tidak boleh sembarangan masuk ke kamar kami," tanya Saka balik tanpa menjawab pertanyaan Salman. Raut mukanya sedikit memerah seakan tengah menahan kemarahan terhadap Salman.
Ya, Saka merasa aneh melihat seorang pria yang tidak dia kenal berani masuk bahkan tidur di ranjang sang mama. Sebagai anak laki-laki yang sangat menyayangi Safia, dia tidak ingin mamanya dekat-dekat dengan pria sembarangan.
Selama yang Saka tau, Safia tidak pernah mengizinkan siapapun untuk masuk ke kamar itu, bahkan pelayan rumah itupun harus meminta izin jika ingin membersihkan kamar.
"Hehehe... Kamu benar Nak, pria asing memang tidak boleh asal masuk ke kamar ini. Tapi Paman bukan orang asing, Paman ini-"
Tiba-tiba ucapan Salman terhenti di tengah jalan, dia terdiam mengingat posisinya yang sama sekali tidak layak berada diantara Safia dan putranya.
__ADS_1
Akan tetapi, Salman tidak bisa membohongi perasaannya. Dia tidak ingin jauh-jauh dari darah dagingnya, bocah yang selama ini tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
Salman berniat membayar semua waktu yang sudah terbuang sia-sia, dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan bersama putranya sampai batas waktu yang sudah ditentukan.
Apakah Salman terlalu egois? Tidak seharusnya dia meminta tinggal di rumah itu. Dia bukan siapa-siapa lagi di hidup Safia, namun sebagai seorang ayah dia tidak sanggup kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya.
Bolehkah Salman menghentikan waktu barang sejenak agar dirinya bisa tetap bersama Saka. Dia sangat menyayangi bocah itu, dia bukan tipe pria yang akan lari dari tanggung jawab.
Meski diantara dia dan Safia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, namun ikatan batin seorang ayah terhadap anaknya tidak akan bisa diganti dengan harta maupun uang. Salman hanya ingin membuktikan bahwa dia layak dipanggil dengan sebutan ayah.
"Saka anak pintar 'kan? Maukah Saka ikut Paman ke rumah sakit?"
Salman sengaja mengalihkan pembicaraan, dia belum berani mengatakan bahwa dia adalah ayah dari bocah itu. Dia takut tidak akan sanggup melepaskan Saka jika tau siapa dia sebenarnya.
"Tidak Paman, Saka tidak mau ke rumah sakit. Saka bosan disuntik dan diinfus terus." tolak bocah itu.
Oh, betapa bodohnya Salman yang terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Jika dia mau sedikit bersabar kala itu, mungkin dia dan Safia tidak akan berpisah setelah tau bahwa Safia mengandung benihnya.
Akan tetapi nasi sudah terlanjur jadi bubur, tidak mungkin Salman bisa kembali ke masa itu.
"Tapi Saka harus mau, Nak. Paman janji ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini Saka pasti sembuh, Saka tidak akan pernah melihat rumah sakit lagi, Saka juga bisa bermain dengan teman-teman dan bersekolah seperti anak-anak lain." bujuk Salman berusaha meyakinkan putranya.
Sakit bak dihujam tombak runcing, Salman ingin menangis namun air matanya sudah tak sanggup lagi mengalir.
Semua rasa membaur jadi satu, Salman hanya bisa menelan kesedihan di dalam hati, dia tidak mau membebani pikiran Saka.
__ADS_1
"Kata Mama, hanya Papa yang bisa membantu Saka. Tapi sampai detik ini Papa tidak pernah pulang ke rumah, Papa mungkin sudah tidak sayang lagi sama Saka." lirih bocah laki-laki itu dengan pandangan berkabut.
Betapa inginnya Saka bertemu dengan sang ayah yang dia sendiri tidak tau dimana keberadaannya.
Sejak lahir, tidak sekalipun dia melihat bagaimana sosok sang ayah yang sering diceritakan Safia padanya.
Saka ingin sekali melihat ayahnya untuk terakhir kali. Jika setelah itu dia harus mati, dia akan pergi dengan tenang.
Setiap hari, dia selalu berdoa kepada Sang Pencipta agar papanya lekas pulang ke rumah. Saka ingin merasakan kasih sayang pria itu walaupun hanya sesaat, dia ingin menghabiskan sisa waktunya bersama Safia dan sang papa.
Mendengar itu, dada Salman rasanya sangat sesak. Semakin panas seperti bola api yang bisa meledak kapan saja.
Dia sadar ini semua merupakan salahnya, sekarang sudah saatnya dia membayar semua kekhilafan yang sudah dia lakukan.
"Saka harus tau, Papa sangat sayang sama Saka, Papa tidak akan pernah melupakan Saka. Jadi, Saka harus sembuh dulu. Papa pasti senang melihat Saka bisa beraktivitas seperti anak-anak lain. Keajaiban itu pasti ada, Saka harus percaya!" lirih Salman, dia pun mendekap putranya itu dengan erat. Tidak terasa air matanya pun tiba-tiba jatuh membasahi pipi.
"Apa Paman kenal sama Papa Saka?" tanya bocah itu penasaran.
"Ya," angguk Salman cepat. "Paman sangat mengenali Papa Saka," imbuhnya membenarkan.
"Maka dari itu, sekarang Saka harus nurut sama Paman! Kita akan melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang, Saka berani 'kan?" tambah Salman.
"Tentu saja berani, Saka ini anak kuat, Saka ingin Papa tau bahwa putranya bukan anak cengeng. Tapi Papa pasti pulang kan, Paman?" ucap bocah itu dengan penuh semangat.
"Hmm..." Salman menganggukkan kepala dengan yakin. "Papa sudah pulang, sayang. Ini Papa, Papa sayang sama kamu, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Papa tidak mungkin selamanya berada di sini, Papa dan Mama sudah berpisah, jalan kami tak lagi sama." batin Salman mempererat pelukannya.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang bisa dia katakan selain mengikuti ucapan bocah itu, dia berharap Saka bisa sembuh setelah menerima donor sumsum tulang belakang darinya dan menjalani hidup tanpa beban.
Dia hanya ingin Saka sehat dan melanjutkan hidup seperti anak-anak lain. Saka harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan pemberani yang nantinya akan menggantikannya menjaga wanita yang sangat dia cintai.