Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 40.


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, mobil yang dikendarai Salman tiba di rumah sakit miliknya yang kini sudah berpindah tangan pada Safia.


Mereka bertiga turun dari mobil dan langsung menemui dokter yang sudah dihubungi Salman sebelumnya. Salah satu tim dokter merupakan sahabat Salman sendiri yaitu Alex, bahkan Safia juga akan ikut andil melakukan operasi besar itu.


Setelah Saka dibawa ke ruang operasi, Safia menghampiri Salman yang tengah bersiap-siap untuk melakukan pendonoran. Tatapan Safia nampak sendu melihat Salman yang sudah sangat yakin dengan keputusannya.


Salman bahkan tak hentinya tersenyum, dia tidak takut jika nantinya operasi ini akan berdampak buruk bagi kesehatannya, dia hanya ingin putranya sembuh.


"Mas, apa kamu yakin ingin mendonorkan sumsum tulang belakang kamu untuk Saka?" tanya Safia memastikan. Dia tidak mau Salman menyesal nantinya.


"Hmm... Tentu saja aku yakin," angguk Salman tanpa ragu.


"Tapi Mas, ini-"


Salman memberanikan diri menyentuh tangan Safia dan menggenggamnya erat. Dia membawa Safia duduk di sisi brankar dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Untuk kali ini, biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang Ayah, aku ikhlas dan yakin dengan keputusan yang sudah aku buat. Aku tau aku tidak pantas dipanggil dengan sebutan Papa, akan tetapi hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menebus segala dosa yang sudah aku perbuat di masa lalu."


"Tapi ini terlalu berisiko,"


"Aku tidak peduli dengan resiko apapun. Demi kesembuhan putraku, aku bahkan siap mengorbankan nyawaku."


"Mas..."


"Tidak apa-apa, Safia. Lagian hidupku sudah tidak ada artinya lagi, aku hanya ingin putraku menjalani hidupnya dengan normal. Kamu tidak perlu memikirkan aku,"


"Tapi, Mas-"


"Sudah, tidak apa-apa." Salman mengangkat sebelah tangan dan mengelus pipi Safia dengan lembut. "Jika sesuatu terjadi padaku, tolong katakan pada Saka bahwa aku sangat menyayanginya. Aku tidak bermaksud meninggalkannya,"


"Iya, aku mengerti." angguk Safia dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak tau harus berkata apa lagi.

__ADS_1


"Safia..." panggil Salman dengan suara melemah.


"Iya Mas, kenapa?" tanya Safia dengan pikiran kacau tidak menentu. Perasaannya tiba-tiba galau, dia takut sesuatu terjadi pada Salman.


"Kalau aku boleh tau, apa perasaan itu masih ada di hatimu?" tanya Salman penasaran, dia ingin tau apakah masih ada cinta di hati Safia untuknya.


Mendengar itu, Safia sontak terdiam tanpa tau harus menjawab apa. Salman yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan mengacak rambut Safia dengan sayang. "Sudah, tidak usah dipikirkan! Kalau begitu, aku pergi dulu!"


Salman melepaskan tangannya dari genggaman Safia, saat dia berdiri tiba-tiba tubuhnya tertahan, Safia memeluknya dari belakang.


Salman rasanya ingin berteriak seketika itu juga, kakinya tiba-tiba bergetar dengan dada berdenyut ngilu, aliran darahnya berpacu dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang.


Ingin sekali dia mengatakan betapa rindunya dia pada Safia. Dia juga ingin mengungkapkan bahwa sebenarnya dia sudah lama mencintai Safia, akan tetapi ucapannya hanya bergumam di tenggorokan tanpa bisa menyuarakannya.


"Terima kasih, aku-"


"Untuk apa berterima kasih? Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang Ayah." potong Salman seraya berbalik dan mendekap Safia di dadanya.


Untuk sejenak suasana ruangan itu menjadi hening, keduanya larut dalam pemikiran masing-masing.


Tiba-tiba saja Salman menitikkan air mata dan mengangkat dagu Safia, tanpa sadar dia pun mencium kening Safia untuk beberapa saat. "Maafkan aku, Safia. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian berdua," lirihnya lalu memiringkan kepala dan mengecup bibir Safia lembut.


Salman tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak melakukan itu, seberapa keras dia mencoba menepisnya namun tetap saja dia ingin melakukannya untuk terakhir kali. "Ma-maaf, aku tidak bermaksud-"


Salman lantas menjauhkan diri setelah kesadarannya kembali, dia takut Safia marah karena kelancangannya barusan.


Dia pun berbalik dengan cepat dan melangkah meninggalkan Safia yang masih mematung di tempatnya berdiri.


Tiba-tiba Safia merasa darahnya memanas, nadinya seakan berhenti berdenyut untuk beberapa saat.


Safia tidak mengerti bagaimana perasaannya terhadap Salman saat ini, yang dia tau dia sangat membutuhkan Salman disaat-saat seperti ini.

__ADS_1


Di luar sana, Salman langsung berhadapan dengan tim dokter yang akan melakukan proses pencangkokan sumsum tulang belakang.


Tanpa menunggu lama, dia pun meminta mereka semua untuk masuk ke ruang operasi dan memulai pencangkokan. Dia memasuki ruangan terlebih dahulu dan disusul oleh para dokter, termasuk Alex yang sudah standby di sana.


...****************...


"Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar." Alex menghela nafas lega setelah memastikan kondisi Saka dan Salman baik-baik saja.


Selama tiga jam lebih para dokter berusaha keras menyelesaikan tugas mereka. Kini masa-masa menegangkan itu sudah berakhir meski kondisi Saka dan Salman masih belum sadar dari pengaruh bius yang disuntikkan ke tubuh masing-masing.


Safia sendiri tiba-tiba terhenyak mematut Saka dan Salman bergantian. Hatinya mencelos, dia tidak tau harus bahagia atau sedih melihat kedua pria yang dia cintai itu.


Ya, sampai detik ini Safia masih sangat mencintai Salman. Sekuat apapun dia mencoba melupakan pria itu, namun perasaannya tidak dapat dibohongi. Dia tidak bisa melupakan Salman apalagi membencinya, dia juga tidak bisa berpaling dari cintanya yang terlalu besar untuk ayah dari putranya itu.


"Sus, mereka sudah bisa dipindahkan ke ruang inap. Semoga saja mereka berdua siuman sebelum waktunya." ucap Alex pada suster yang membantunya menangani Saka dan Salman.


"Baik Dok," angguk dua orang suster mengindahkan perkataan Alex.


"Kamu pergilah temani Saka, biar aku yang memantau keadaan Salman!" ucap Alex pada Safia.


"Terima kasih, kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku!" sahut Safia mengangguk kecil lalu mengikuti suster yang tengah mendorong brankar yang ditiduri Saka.


Safia sebenarnya bingung harus memilih yang mana, dia juga khawatir dengan keadaan mantan suaminya.


Malam hari, Salman sudah bisa duduk setelah siuman beberapa jam yang lalu. Pandangannya berkabut awan gelap saat mendapati Alex yang tengah duduk di samping brankar.


"Bagaimana keadaan putraku?" tanya Salman dengan suara bergetar.


"Operasi berjalan lancar, Saka juga sudah siuman. Kamu tidak usah banyak pikir, dia baik-baik saja!" jawab Alex gamblang.


Salman mengusap wajah kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya."

__ADS_1


Lalu Salman mematut Alex dengan tatapan sendu. Tiba-tiba saja dia mengungkapkan segala rasa yang ada di hatinya terhadap Safia, setelah itu dia meminta Alex untuk membantunya.


Entah apa yang Salman katakan pada sahabatnya itu, yang jelas dia nampak sangat serius dan mencoba turun dari brankar.


__ADS_2