Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 26.


__ADS_3

Malam hari semua anak-anak panti sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam. Kali ini berbeda dari biasanya, Salman sengaja memesan makanan dari restoran untuk mereka semua.


Tentu saja hal itu membuat anak-anak panti merasa senang, jarang-jarang mereka semua bisa menikmati makanan enak apalagi dari restoran mahal langganan Salman.


Meskipun usaha Salman mampu mengambil hati anak-anak, tapi tidak dengan Safia yang malah menganggapnya bermuka dua. Safia tau pasti orang seperti Salman memiliki sifat penjilat, dia hanya ingin dipandang baik oleh anak-anak dan pengurus panti.


"Sayang, kenapa masih berdiri di sana? Ayo kemari, makan dulu sama Mas dan anak-anak!" panggil Salman ketika melihat Safia hanya mematung di ambang pintu.


Rasanya Safia ingin muntah mendengar Salman memanggilnya dengan sebutan sayang. Hebat sekali akting pria itu, dia mampu membuat Bu Ani dan pengurus panti yang lain terkagum-kagum padanya.


"Dasar munafik!" kesal Safia membatin, mau tidak mau dia terpaksa duduk di samping Salman meski hatinya mendongkol melihat suami bajingannya itu.


Beruntung posisi mereka tengah berada di panti. Jika tidak, ingin sekali Safia menyalakan setrikaan dan menggosok wajah Salman sampai hangus.


"Safia, sama suami tidak boleh cemberut begitu, dosa tau." selang Bu Ani menasehati putrinya itu.


"Iya Bu," angguk Safia terpaksa lalu tersenyum kecil. Ingin sekali dia membuka borok Salman tapi tidak mungkin mengingat banyaknya anak-anak yang akan menyaksikan itu semua.


"Nah, gitu dong, kalau senyum kan cantik jadinya." seloroh Bu Ani menggoda Safia, dia pun tersipu malu mendengar sanjungan ibu asuhnya itu.


"Jelas cantik dong Bu, istri siapa dulu." timpal Salman tertawa terbahak-bahak.


"Diam kamu!" kesal Safia dengan suara pelan agar Bu Ani tidak mendengarnya, sebelah tangannya bergerak menyentuh paha Salman dan mencubitnya sekuat tenaga.


"Aaaw..." rintih Salman reflek, semua orang yang ada di sana sontak menoleh ke arah dirinya.


"Kamu kenapa Nak Salman?" tanya Bu Ani menautkan alis.


"Ti-tidak apa-apa Bu, barusan digigit semut." alibi Salman yang tidak mau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Dia mengusap pahanya perlahan seraya mematut Safia dengan intim.

__ADS_1


Safia yang merasa senang lantas mengulum senyum dan membuang muka ke arah lain, namun Salman masih bisa melihat guratan senyum yang terukir di wajahnya.


Tidak apa-apa sakit sedikit asalkan mampu membuat Safia tersenyum.


Rasanya sudah lama sekali Salman tidak melihat Safia tersenyum seperti ini. Sejak mereka menikah, hanya ada tatapan kebencian dan air mata. Salman pun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering.


"Mau disuapi?" tawar Salman mengulas senyum. Safia yang tadinya menghadap anak-anak, seketika memutar leher menatap malas pada suaminya itu.


"Jangan sok manis padaku, kamu pikir aku tidak tau apa yang ada di otakmu itu? Kamu bisa saja mengelabui mereka semua, tapi tidak denganku. Aku tidak akan pernah termakan rayuan busukmu itu!" tegas Safia penuh penekanan dengan tatapan tajam mematikan.


"Bu... Mmm..."


Salman yang tadinya hendak memanggil Bu Ani, tiba-tiba terdiam saat Safia membungkam mulutnya dan meremas bibirnya. Safia rasanya ingin mengambil garpu dan mencolok mata Salman saking jengkelnya.


"Cepat habiskan makananmu, lalu pergilah dari tempat ini segera!" usir Safia yang sudah muak melihat tingkah Salman yang tak henti membuat kepalanya berdenyut. Entah bagaimana lagi cara Safia menghadapi pria berkepala batu itu, dia benar-benar hilang akal dibuatnya.


"Safia..." seru Bu Ani saat tak sengaja melihat tangan Safia yang berada di mulut Salman.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Makan malam telah usai dan anak-anak sudah pada menghilang memasuki kamar. Bu Ani pun lantas pamit lebih dulu, dia harus istirahat lebih awal mengingat kondisinya yang sudah tidak sekuat dulu lagi.


Setelah ruangan itu sepi, Safia pun berlalu pergi tanpa sepatah katapun. Dia meninggalkan bangunan dan memilih duduk di taman, tepat di bawah pohon seri yang tumbuh subur dan rimbun.


Seketika Safia bergeming dalam pemikirannya, dia termangu mengingat posisinya yang terjebak disisi Salman. Sudah dua kali dia mencoba menjauh, akan tetapi Salman selalu bisa menemukan dirinya.


Apakah Safia harus pergi meninggalkan kota ini? Haruskah dia menghilang agar Salman tak lagi mengganggu kehidupannya?


"Aaaaw..." Safia merintih kecil saat kepalanya sudah tak kuat lagi diajak berpikir.


"Safia, kamu kenapa?" tanya Salman panik. Baru saja dia tiba di dekat Safia, darahnya sudah berdesir melihat Safia yang memegangi kepalanya. Salman benar-benar cemas, dia takut penyakit Safia akan kumat seperti malam itu.

__ADS_1


Lalu Salman buru-buru menghampiri Safia, tanpa berucap dia pun menggendong Safia di dadanya dan membawanya masuk ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" bentak Safia dengan nada meninggi.


"Hust, diam atau aku akan membawamu ke rumah sakit!" ancam Salman dengan tatapan tajam menyala.


"Tidak, jangan, aku tidak mau ke rumah sakit!" tolak Safia menggelengkan kepala.


"Kalau begitu menurut, peluk aku!" titah Salman penuh penekanan.


Safia yang malas ke rumah sakit kemudian memilih diam dan mengalungkan tangannya di tengkuk Salman. Dia ingin menangis tapi cairan itu dia tahan agar tidak tumpah di hadapan suaminya itu, dia tidak ingin terlihat lemah.


Sesampainya di kamar, Salman membaringkan Safia di atas kasur, meluruskan kakinya dan menyelimuti istrinya itu agar tidak kedinginan.


"Terima kasih, aku tidak apa-apa. Sekarang pulanglah, biarkan aku sendiri!" lirih Safia dengan mata berkabut menahan cairan yang menggenang. Kepalanya mulai pusing, namun dia berusaha menahannya sekuat hati.


"Tidak Safia, aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap di sini bersamamu." tegas Salman menolak permintaan Safia. Dia tidak mungkin meninggalkan Safia dalam keadaan seperti ini.


"Untuk apa kamu di sini? Apa kamu ingin menertawakan ku saat nanti ingatan ini hilang dari memoriku? Bukankah kamu sudah menang? Dendammu sudah terbalaskan, lalu apa lagi yang ingin kamu lakukan padaku? Tolong biarkan aku sendiri, kalaupun aku harus mati, biarkan aku pergi dengan tenang!"


Akhirnya cairan bening itu jatuh juga membasahi pipi Safia, dia tidak kuat lagi menahannya. Dia sampai terisak dengan nafas tercekat di tenggorokan.


Bak disambar petir di siang bolong, sekerat raga Salman bergetar hebat mendengar ucapan istrinya itu.


"Safia... Sssttt..."


Salman mengangkat belahan ketiak Safia dan membawanya ke dalam dekapan dadanya. "Cukup Safia, jangan berkata seperti itu lagi! Aku akan menjagamu, kamu harus sembuh, bila perlu kita akan berobat ke luar negeri!" lirih Salman berderai air mata. Ingin sekali dia menghukum dirinya sendiri karena sudah membuat Safia menderita seperti ini.


Dia ingat betul perkataan Bu Ani siang tadi. Sudah lama sekali penyakit Safia tidak kambuh, bahkan sejak wanita itu masih duduk di bangku SMA.

__ADS_1


Lalu bagaimana bisa penyakit itu kembali datang jika bukan dirinya lah yang menjadi biang kerok dari semuanya.


Andai Salman tidak membebani pikiran Safia dengan perbuatannya, mungkin sampai detik ini Safia masih segar bugar seperti sebelumnya. Dia benar-benar menyesal telah menjadi penyebab utama penderitaan istrinya itu.


__ADS_2