Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 59.


__ADS_3

"Kak Ina, Mama sama Papa mana ya? Kenapa tidak ada di bawah?" tanya Saka sesaat setelah tiba di ruang makan. Kepalanya celingak celinguk menatap setiap sudut ruangan.


Bocah itu meninggalkan kamar beberapa saat setelah terbangun. Dia tidak mencuci muka terlebih dahulu apalagi mandi, dia malah mencari Safia serta Salman ke bawah.


Dia pikir kedua orang tuanya sudah lebih dulu sarapan karena tidak melihat mereka berdua di kamar, tapi ternyata keduanya juga tidak ada di ruangan itu.


"Mama sama Papa belum turun, mungkin masih di kamar." jawab Ina yang tengah sibuk menata masakannya di atas meja.


Saka menggembungkan pipi dan lekas berbalik badan lalu berlari menuju tangga. Raut wajah bocah itu tampak kesal saat menaiki anak tangga tersebut.


Sesampainya di atas, Saka menghampiri pintu kamar Salman. Dia menekan kenop tapi tidak berhasil membukanya, ternyata pintu itu dikunci dari dalam.


"Mama, Papa, kenapa pintunya dikunci segala? Ini sudah pagi loh, apa kalian masih tidur?" sorak bocah itu seraya menggedor-gedor pintu berulang kali.


Safia yang masih berada di pelukan Salman sontak terkejut mendengar suara putranya. Wajahnya nampak pucat, begitu pula dengan Salman yang tak kalah terkejutnya.


"Saka, Mas." desis Safia dengan raut cemas lalu buru-buru menjauh dari Salman. Dia turun dari ranjang dan mengemasi pakaian yang berserakan di lantai. Salman pun ikut turun dan memungut celananya dari lantai.


"Masuklah ke kamar mandi, biar aku saja yang membukakan pintu untuk Saka!" ucap Salman seraya mengenakan celana terburu-buru.

__ADS_1


Safia mengangguk lemah dan cepat-cepat berlari memasuki kamar mandi, dia bahkan belum sempat memakai apa-apa, tubuhnya benar-benar polos usai pergulatan tadi.


Selepas Safia menutup pintu kamar mandi, Salman pun merapikan seprai yang berantakan karena ulahnya lalu berjalan menuju pintu setelah memastikan tidak satupun pakaian Safia yang tertinggal di lantai.


"Mama, Papa, buka pintunya! Kenapa kalian lama sekali sih?" seru Saka lagi, wajahnya nampak manyun menahan rasa kesal di hatinya.


Ceklek...


Salman memutar anak kunci dan membuka pintu sedikit. "Sayang, anak Papa sudah bangun?" Salman berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Saka lalu memeluknya dan mencium pipi putranya itu.


"Kenapa lama sekali sih, Pa? Apa yang Papa lakukan di dalam sana? Lalu Mama dimana?" Saka memanjangkan leher menatap setiap sudut kamar tapi tidak melihat Safia di mana-mana.


"Tadi Papa ketiduran, sayang. Mama lagi di kamar mandi." alibi Salman mencari alasan, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada bocah ingusan sekecil itu.


Salman membulatkan mata dan meneguk ludah dengan susah payah. Apa yang harus dia katakan? Bodohnya dia karena tidak mengenakan baju sebelum membuka pintu.


"AC nya kurang dingin, mungkin minta diservis." jawab Salman asal dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus berkata apa.


Saka menaikkan sebelah alis kemudian berjalan memasuki kamar itu. Dia naik ke ranjang dan duduk menunggu sang mama keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Tiba-tiba Saka menatap Salman dengan tatapan yang sulit dimengerti, Salman yang menyadari itu cepat-cepat menutup pintu dan memilih duduk di sofa.


"AC nya dingin kok, Pa." seru Saka.


Salman mengernyit sembari mendongakkan kepala. Apa yang harus dia katakan?


"Saka belum mandi ya?" tanya Salman mengalihkan pembicaraan. Saka pun menggeleng dengan bibir manyun.


"Mau Papa mandiin?" tawar Salman, dia bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Saka.


"Tidak, Saka mau mandi sama Mama saja." tolaknya, dia masih kesal karena Salman meninggalkannya sendirian di kamar. Ternyata Salman memilih tidur bersama sang mama ketimbang dirinya.


Salman mengusap wajah kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Disaat bersamaan pintu kamar mandi terdengar berderit, Safia keluar dengan tubuh dan kepala dililit handuk.


"Saka..." sapa Safia seakan-akan terkejut melihat penampakan putranya.


"Kalian jahat, kenapa meninggalkan Saka sendirian di kamar?" ketus bocah itu, dia membuang muka dengan tangan terlipat di dada.


Safia menautkan kedua alis dan melirik ke arah Salman, pria itu mengangkat bahu dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Ya, Salman sendiri sudah kehilangan akal menjawab pertanyaan putranya. Biarkan saja Safia yang menjelaskan, lagian Safia lebih mengerti bagaimana watak sang putra dibanding dirinya yang sudah kehilangan banyak sekali momen berharga.


Safia menghampiri Saka dan duduk di sebelahnya. Akan tetapi, Saka malah melompat turun dari ranjang dan pergi meninggalkan kamar itu.


__ADS_2