Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 43.


__ADS_3

Sebuah sedan mewah berwarna putih melesat kencang mengikuti taksi yang tengah melaju menuju arah utara.


Ya, sedan itu dikemudian oleh Safia yang tadinya berhasil mengintai jejak Salman saat meninggalkan rumah sakit.


Sesuai dugaannya, Safia pun mendapatkan jawaban atas kecurigaannya terhadap Alex.


Beruntung sebelum menemui Alex tadi, Safia sudah lebih dulu mengutus orang untuk berjaga di parkiran, dia tau dokter muda itu bekerja sama dengan Salman untuk mengelabuinya.


"Di sini saja, Pak!" ucap Salman dengan suara bergetar, matanya tampak memerah menahan rasa sakit di area luka bedah yang baru saja dilakukan.


Sesaat setelah taksi itu menepi di gerbang sebuah perumahan, Salman turun perlahan sambil meringis kesakitan. Akan tetapi, dia berusaha kuat mengingat luka yang tidak seberapa dibanding luka yang dirasakan Safia selama ini.


Setelah membayar tagihan taksi yang dia tumpangi, Salman berjalan terhuyung-huyung menuju rumah yang terletak di deretan nomor tiga. Deru nafasnya terdengar sendat dengan pandangan menggelap.


Meskipun begitu, Salman tetap tersenyum mengingat semua yang baru saja dia lakukan untuk menyelamatkan nyawa putranya. Dia cukup bahagia setelah memastikan bahwa Saka baik-baik saja pasca operasi.


Tidak lama setelah Salman memasuki rumah yang dia tempati, Safia pun bergegas turun dari mobil usai mengamati pergerakan mantan suaminya itu dari kejauhan.


Safia benar-benar marah, tangannya mengepal kuat dengan tatapan tajam mematut rumah yang tidak terlalu kecil itu.


Safia yang belum mengetahui apa-apa tentang kehidupan Salman, berpikir bahwa selama ini Salman sengaja menyendiri di rumah itu. Dia bahkan sempat ragu untuk melangkah menghampiri pintu.


Bukan tanpa alasan, Safia takut kedatangannya malah mengganggu ketenangan Salman. Selama ini dia berpikir bahwa Salman sudah kembali pada Mika dan memulai kehidupan baru.


Namun demi mewujudkan keinginan Saka, Safia terpaksa menahan rasa malu jika harus bertemu dengan wanita itu. Dia tidak ingin membuang waktu dan siap menghadapi konsekuensi yang harus dia terima.


Dengan langkah tertatih, Safia memberanikan diri berjalan mengampiri pintu. Sebelum mengetuknya, dia pun menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar, mencoba mengumpulkan energi untuk menghadapi apa saja yang bisa terjadi nantinya.


Tok Tok Tok...


Sembari menunggu pintu terbuka, Safia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan panas. Ada perasaan takut, cemas dan ragu yang membaur jadi satu.


Bagaimana jika ternyata malah Mika yang membukakan pintu untuknya? Dia bingung harus berkata apa di depan wanita itu, dia tidak ingin dicap sebagai pelakor yang merusak rumah tangga orang lain.


Setelah berpikir cukup lama, Safia akhirnya menjauh dari pintu. Keraguan itu tiba-tiba muncul usai berpikir dengan akal sehat, dia tidak bisa melakukan ini meski demi Saka sekalipun, dia tidak mau merusak kebahagiaan Salman.

__ADS_1


Saat Safia melangkah menjauhi teras, pintu tiba-tiba berderit yang membuat Safia berbalik seketika itu juga. Sontak tatapannya dengan Salman bertemu seiring hening yang menerpa.


Tidak hanya Safia yang terkejut melihat Salman yang sudah berdiri di ambang pintu, mata Salman bahkan ikut membulat mendapati keberadaan mantan istrinya yang berjarak beberapa meter saja darinya.


"Sa-Safia..." gumam Salman dengan suara tercekat di tenggorokan.


Safia pun terperanjat dan mengerjap memutus pandangannya. "Ma-maaf, aku harus pergi sekarang."


Saat Safia berbalik cepat dan mengayunkan kakinya, Salman tiba-tiba berhamburan mengejarnya tanpa peduli dengan rasa sakit yang kian mendera. "Tunggu, Safia!" cegat Salman sembari meraih tangan wanita yang sudah melahirkan putranya itu.


Safia sontak terdiam dan mematung dengan dada berdegup kencang, detak jantungnya seakan berhenti beroperasi, dunia bagai berguncang seperti diterpa gempa. Safia tidak tau harus bagaimana dan berkata apa untuk mengobati kecanggungannya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Saka?" tanya Salman sembari melepaskan tangan Safia lalu berdiri di hadapannya.


Safia tidak langsung menjawab, dia menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah Salman.


"Safia, katakan padaku! Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ada di sini?" cerca Salman yang membuat kemarahan Safia terpancing.


Safia mendongak dan menatap Salman dengan tajam seperti seekor serigala yang sudah lama tidak diberi makan.


Tiba-tiba saja tangan Safia mendarat di dada Salman, dia memukuli pria itu untuk melepaskan semua rasa kecewa yang sedari tadi dia tahan.


"Bajingan, ayah tidak tau diri, pria jahat, dasar tidak punya hati!" maki Safia mengeluarkan sumpah serapah mengumpati Salman, dia terus saja memukul dada Salman tanpa henti seiring cairan bening yang jatuh di pipi.


Sadar akan kesalahan yang sudah dia perbuat, Salman hanya diam menerima makian dan pukulan yang dilayangkan Safia kepadanya, bahkan rasa sakit akibat luka bedah kemarin sudah tak lagi terasa, dia merasa pantas mendapatkan itu semua.


Seketika air mata Salman ikut jatuh berlinangan melihat betapa hancurnya Safia. Ingin sekali dia memeluk wanita itu dan mendekapnya dengan erat, namun Salman sadar dia tidak punya hak untuk menyentuh Safia yang kini bukan istrinya lagi.


"Apa salahku padamu? Kenapa membuatku terjerat dalam situasi sesulit ini? Kenapa, Mas? Aku tau kamu tidak pernah menginginkan aku, aku tidak keberatan dengan itu, tapi kenapa melakukan hal yang sama pada putraku? Apa yang harus aku katakan padanya? Dia memintaku untuk membawamu padanya, dia merindukanmu sebagai sosok seorang ayah, apa yang harus aku lakukan?"


Safia meraung sejadi-jadinya, tubuhnya seketika merosot di lantai sambil mencengkeram betis Salman dengan kuat. Dia pun memukulkan kepalanya ke lutut Salman seakan sudah tak sanggup lagi menahan beban hidup yang harus dia lalui.


"Aku tau hubungan kita sudah berakhir sejak lama, aku juga sadar dimana posisiku, tapi kenapa harus putraku yang menanggung semua ini? Tidak bisakah dia merasakan kasih sayangmu walau hanya sesaat saja, apakah putraku juga tidak berharga di matamu?" isak Safia sesenggukan sambil memeluk kaki Salman. Dia tidak peduli lagi seperti apa penilaian Salman terhadapnya, yang dia tau dia harus menepati janji pada putranya yang masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Cukup Safia, ayo berdirilah!" Salman membungkukkan punggung dan mencoba membantu Safia bangkit dari kakinya, namun Safia bersikeras tak mau melepaskan Salman sebelum mengatakan sesuatu padanya.

__ADS_1


"Safia..." lirih Salman berderai air mata.


"Tolong bantu aku kali ini saja! Saka ingin sekali bertemu denganmu, hatiku hancur mendengar permintaannya. Aku janji tidak akan merusak hubunganmu dengan wanita itu, bila perlu aku akan memohon dan bersujud di kakinya agar mengizinkanmu bertemu dengan Saka." raung Safia menurunkan kepala, tanpa ragu dia pun mencium kaki Salman mengharap belas kasihan.


"Safia, apa yang kamu lakukan?" Salman menjauhkan kakinya dan lekas berjongkok di hadapan Safia.


Tidak tahan melihat air mata Safia yang terus berjatuhan, Salman pun mendekapnya erat di pelukan dada. "Cukup Safia, kamu tidak perlu merendahkan diri seperti ini! Aku tau kamu sangat menyayangi Saka, aku pun demikian. Aku juga sangat menyayanginya, aku berterima kasih karena kamu sudah bersedia mengandung dan melahirkan darah dagingku hingga tumbuh menjadi anak yang kuat. Tapi aku tidak mungkin berada di samping kalian, aku ini seorang bajingan, aku tidak ingin Saka mengetahui siapa ayahnya, dia akan sangat kecewa setelah tau bahwa ayahnya bukanlah pria yang baik, dia lebih pantas bersamamu, kamu wanita hebat, aku yakin kamu bisa menjadikannya pria yang bertanggung jawab."


"Tapi Saka merindukan kamu Mas, dia ingin sekali mengenalmu sebagai ayahnya. Tolong lakukan ini demi Saka, dia sudah cukup tersiksa menanti kedatanganmu." pinta Safia memohon.


Mendengar itu, Salman tiba-tiba terdiam sambil terus memeluk Safia. Untuk sejenak hatinya menjadi tenang setelah sekian lama menahan rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan.


Andai Safia tau betapa tersiksanya Salman menanggung perasaan itu seorang diri, mungkin Safia tidak akan pernah mau melepaskannya untuk kedua kali.


"Baiklah, aku akan datang menemui Saka. Sekarang kamu pulang saja dulu, aku-"


Tiba-tiba ucapan Salman terhenti kala rasa nyeri menggerogoti area bekas luka bedahnya. Seketika itu juga Salman melepaskan pelukannya dan menjauh dari Safia sambil menggigit bibir bawah untuk menetralisir rasa sakit yang kian menyiksa, dia tidak ingin Safia mengetahui apa yang tengah dia rasakan.


"Pulanglah, aku akan menyusul nanti!" Salman mencoba bangkit dan berjalan menjauhkan diri, namun saat hendak masuk ke dalam rumah, Safia bersorak ketika menyadari ada cairan merah yang menempel di telapak tangannya.


"Mas, tunggu!" Safia pun bergegas bangkit dan berhamburan menyusul Salman. "Mas, luka kamu-"


"Tidak apa-apa Safia, aku baik-baik saja, tidak usah pedulikan aku! Pergilah, Saka pasti sangat membutuhkanmu!"


"Tapi, Mas-"


"Sssttt... Aku sungguh tidak apa-apa, aku hanya butuh waktu untuk istirahat. Pergilah, aku-"


Belum sempat Salman menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Safia berteriak histeris saat tubuh Salman tumbang membentur tubuhnya. Beruntung punggung Safia menyentuh dinding sehingga keduanya tidak sempat terjatuh.


Tentu saja Safia panik ketika merasakan cairan panas yang sudah menyebar di pakaian yang melekat di tubuh Salman.


"Mas..." pekik Safia lantang menahan bobot tubuh Salman yang cukup berat, sekuat tenaga dia mencoba bertahan dan memapah Salman menuju sofa yang ada di ruang tamu.


Setelah berhasil membaringkan Salman di sofa, Safia pun berlarian memasuki dapur, mencari apa saja yang bisa dia gunakan untuk membantu menghentikan pendarahan yang terjadi pada luka mantan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2