Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 37.


__ADS_3

"Salman, kau dimana? Aku dengar katanya kau sudah kembali ke Jakarta. Apa itu benar?"


"Mmm... Hanya untuk sementara waktu. Jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan pergi."


"Kenapa harus pergi? Bukankah-"


"Maaf Alex, aku sedang sibuk. Lain kali kita sambung,"


"Salman, aku serius, tolong jangan dimatikan dulu! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, ini menyangkut nyawa seseorang. Aku tunggu di Exco malam ini, aku tidak mau tau sesibuk apapun dirimu."


"Tapi, Alex. Aku-"


"Tidak ada tapi-tapi, aku akan menunggumu sampai datang. Jangan sampai kau menyesal jika melewatkan kesempatan ini!"


Setelah mengatakan itu, Alex mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak. Salman hanya diam sambil menatap layar ponselnya yang sudah hening dengan banyaknya pertanyaan yang timbul di benaknya.


Apa maksud Alex? Nyawa siapa yang dia katakan? Lalu apa hubungannya dengan Salman?


Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Safia? Apa penyakit Safia masih sering kambuh?


Tidak, tidak, ini rasanya tidak mungkin. Sekarang Safia sudah memiliki segalanya, dia pasti bisa menangani penyakit yang dia derita.


Lagian Safia nampak baik-baik saja saat bertemu dengannya kemarin. Safia tidak terlihat seperti orang sakit, lalu apa maksud Alex sebenarnya?


Sore hari, Salman pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di hari pertama menjadi seorang montir.


Cukup melelahkan memang, namun Salman harus melewatinya dengan penuh semangat. Dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk bertahan hidup selain mengambil kesempatan ini.


Sekitar pukul delapan malam, Salman meninggalkan rumah terburu-buru. Dia penasaran dengan apa yang disampaikan Alex di telepon tadi. Dia harus tau apa yang terjadi sepeninggal dirinya.


Sesampainya di depan bar yang dikatakan Alex, Salman memarkirkan motor miliknya di depan bangunan itu. Dia melangkah masuk dan celingak celinguk mencari keberadaan sahabatnya.


Tiba-tiba seorang pelayan bar menghampirinya dan membungkukkan punggung memberi hormat. Siapa yang tidak mengenal Salman yang dulunya merupakan orang berpengaruh di kota itu. Meski sudah tujuh tahun berlalu, Salman masih sangat dikenali.


Lalu pelayan itu mengantarkan Salman ke ruang VIP yang sengaja dipesan Alex untuk mereka berdua. Pria itu sengaja memesan tempat khusus agar bisa leluasa berbicara dengan Salman, dia tidak ingin ada gangguan yang datang dari pengunjung lain.

__ADS_1


Setibanya di ruangan itu, sang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan Salman untuk masuk, setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Akhirnya kau datang juga, aku pikir-"


"Tidak perlu berbasa-basi, aku tidak punya banyak waktu." potong Salman seraya duduk di hadapan Alex.


Keduanya nampak canggung setelah sekian lama tidak berjumpa. Alex tertawa terbahak-bahak menyaksikan penampilan Salman yang nampak jauh lebih tua dari biasanya.


Tidak ada lagi ketampanan yang selama ini menjadi kebanggaan Salman, dia justru terlihat seperti orang awam yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa.


"Lama tidak bersua ternyata banyak sekali yang berubah pada dirimu. Apa perpisahanmu dengan Safia sudah membuatmu frustasi?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Katakan apa yang ingin kau katakan sebelum aku berubah pikiran!"


"Hmm... Aku mengerti, maka dari itu tolong dengarkan aku baik-baik!"


Alex meraih gelas berisi minuman yang terletak di atas meja. Setelah menyeruput minuman itu, Alex menatap lekat pada Salman yang hanya diam tanpa menyentuh minumannya.


Ya, sejak berpisah dari Safia, Salman tidak pernah lagi menyentuh minuman yang berbau alkohol. Hidupnya lebih teratur dan lebih sehat dari sebelumnya.


"Safia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Sejak status kami dinyatakan berpisah, aku sudah tidak memiliki hak untuk mencampuri urusannya. Aku-"


"Hahaha..."


Alex tiba-tiba tertawa lantang sambil meneguk minumannya kembali. "Kau salah besar, justru hubungan kalian masih belum berakhir sampai detik ini. Ada nyawa lain yang saat ini sangat membutuhkan kalian berdua."


Seketika Salman mengerutkan kening mendengar perkataan Alex. "Apa maksudmu?"


Lalu Alex pun menceritakan semua yang terjadi setelah kepergian Salman tujuh tahun yang lalu.


Alex juga mengatakan bahwa dia menyukai Safia dan sudah berusaha mendapatkan hatinya. Akan tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil, Safia hanya menatapnya sebagai seorang teman, tidak lebih.


Alex kemudian mengungkapkan kebenaran pada sahabatnya itu. Dimana setelah Salman menghilang, Safia diketahui mengandung darah dagingnya. Dia juga menjelaskan bagaimana kondisi psikis Safia setelah mengetahui kehamilannya.


Safia tidak baik-baik saja saat itu, banyak sekali penderitaan dan rasa sakit yang harus dia tanggung ketika berjuang sendiri di masa-masa sulit itu.

__ADS_1


Beruntung Safia merupakan wanita yang kuat. Dia berhasil melahirkan putranya meski harus mempertaruhkan nyawa.


Safia bahkan pernah diminta untuk menggugurkan janin tersebut demi keselamatannya, akan tetapi Safia menolak keras karena ingin sekali melahirkan bayinya.


Tidak peduli seberapa sakit dan tersiksanya dia, Safia tidak ingin membunuh buah hatinya, satu-satunya harta yang dia miliki setelah kehilangan pria yang sampai detik ini masih bersemayam di hatinya.


Ya, walaupun keduanya sudah berpisah, namun cinta Safia pada Salman tidak susut sedikitpun. Safia tidak mau membuka hatinya untuk pria lain, dia yakin suatu saat nanti Salman akan kembali. Nyatanya, Salman memang kembali setelah bertahun-tahun menghilang dari hidupnya.


"Ada Saka diantara kalian, lihatlah dia, dia putramu, darah dagingmu. Saat ini hanya kau lah satu-satunya harapan bocah itu. Dia tidak akan bertahan lebih lama, kondisinya sangat buruk, dia membutuhkan donor sumsum tulang belakang darimu."


Duarr...


Serasa disambar petir di tengah hari, jantung Salman terpompa kencang sehingga sekujur tubuhnya terasa remuk, sakit dan ngilu. Kakinya tiba-tiba bergetar setelah mendengar semua penjelasan Alex.


Tanpa berucap sepatah katapun, Salman lekas bangkit dari duduknya. Dia pun meninggalkan Alex sambil berlari tergopoh-gopoh.


Tanpa terasa, air mata Salman berjatuhan seiring rasa kecewa dan penyesalan akan kebodohan yang sudah dia lakukan.


Dia tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Andai dia tau bahwa saat itu Safia tengah mengandung darah dagingnya, dia tidak akan mungkin mengambil keputusan sebesar ini.


Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia bisa mengambil tindakan sejauh ini?


Putra?


Dia memiliki seorang putra yang sama sekali tidak dia sadari. Ayah macam apa dia?


Semakin Salman mengingat semua penjelasan Alex tadi, semakin tercabik-cabik pula hati dan perasaannya.


Bagaimana bisa Safia menghadapi ini sendirian? Kenapa Safia tidak memberitahukan ini padanya dari awal?


Setelah menaiki motor dan menyalakan mesin, Salman memacu laju kendaraan metic itu dengan kecepatan tinggi. Dia tidak bisa menunggu lebih lama, dia harus segera bertemu Safia dan putranya.


Dia akan menebus semua kesalahan yang sudah dia lakukan di masa lalu. Dia bahkan rela memberikan nyawanya agar sang putra bisa sembuh dari penyakit yang diderita.


Tidak ada lagi yang bisa Salman lakukan untuk menebus dosa di masa lampau. Dia hanya ingin menjadi ayah yang berguna, bukan pecundang seperti yang dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2