
"Hendrik, kau dimana? Aku butuh bantuanmu segera, cepat pulanglah!" tulis Salman pada layar iPhone miliknya dan mengirim pesan itu kepada sahabatnya.
Sudah berkali-kali Salman mencoba menghubungi Hendrik melalui panggilan telepon, akan tetapi pria itu tak kunjung mengangkatnya.
Entah Hendrik sengaja atau memang karena kesibukan yang membuatnya menonaktifkan nada dering ponselnya.
Salman mulai gelisah setelah hampir satu jam berdiri di depan pintu kamar. Dia terduduk di lantai dengan punggung tersandar di daun pintu.
Salman menumpukan sepasang sikunya di ujung lutut yang ditekuk sambil memutar-mutar iPhone miliknya menunggu balasan dari Hendrik.
Jika saja Salman tau bahwa wanita yang berada di kamar itu memang benar Safia, dia rasanya ingin sekali membuka paksa pintu itu.
Namun dia ragu dan takut jika nantinya salah orang, dia tidak mau dianggap melecehkan wanita yang disukai Hendrik.
Tapi entah kenapa hati Salman sangat meyakini bahwa wanita itu benar-benar Safia. Salman bisa merasakan kehadiran istrinya, dari tadi jantungnya bergemuruh kencang seakan ada sesuatu di dalam sana.
Setelah lama terpaku dalam pemikirannya, Salman mengusap wajah kasar dan bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan tempat itu sejenak dan kembali ke ruang makan.
Sesampainya di dekat meja makan, Salman memanggil Wati sembari mengotak-atik layar gawai miliknya. Dia membuka galeri dan mencari foto pernikahan yang sempat dia simpan.
"Mbak, apa Safia yang kamu maksud itu adalah orang ini?" tanya Salman setelah berhasil menemukan foto dia dan Safia saat berada di pelaminan, lalu menyodorkan iPhone miliknya ke tangan Wati.
Wati yang tidak mengerti apa-apa menurut saja saat Salman memberikan iPhone itu kepadanya. Seketika mata pelayan itu membulat dengan sempurna, dia bingung sekaligus terkejut menyaksikan gambar Safia yang terlihat sangat cantik kala dibalut gaun pengantin.
Benar saja, wanita yang ada di foto itu memang sama persis dengan wanita yang ada di dalam kamar.
Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Wati benar-benar tidak percaya ketika menyaksikan gaun pengantin yang melekat di tubuh Safia.
Apa itu artinya Safia sudah menikah? Dan sekarang suami wanita itu tengah berdiri di hadapannya.
Lalu bagaimana dengan Hendrik? Yang Wati tau majikannya itu sudah terlanjur kepincut pada Safia. Apa yang akan terjadi jika Hendrik tau bahwa wanita yang disukainya merupakan istri dari sahabatnya sendiri?
__ADS_1
"Mbak, kenapa kamu diam saja?" imbuh Salman mengipas tangan di depan wajah Wati.
Wanita itu tersentak kaget dan beralih menatap Salman dengan alis bertautan. "I-iya, ini orangnya." angguk Wati terbata-bata membenarkan apa yang ditanyakan oleh Salman.
Duarr...
Bak disambar petir di siang bolong, badan Salman seketika bergetar hebat dengan kaki mendadak lemah.
Tubuhnya tiba-tiba terhuyung dan hampir tersungkur di lantai, beruntung dia dengan cepat meraih sandaran kursi untuk menahan bobot tubuhnya yang cukup berat.
"Tu-tuan..." pekik Wati seraya memegang lengan Salman spontan, dia sangat terkejut melihat Salman yang tiba-tiba terguncang seperti itu.
"Ti-tidak apa-apa," desis Salman yang merasa baik-baik saja, dia hanya syok setelah melihat Wati menganggukkan kepala.
Salman pun meraih gelas berisi air putih yang terletak di atas meja lalu menyeruputnya sampai tandas. Mendadak tenggorokannya terasa kering setelah tau bahwa wanita itu ternyata benar-benar istrinya.
"Mbak, boleh aku minta kunci cadangan kamar itu? Aku mau masuk, aku ingin bertemu dengan Safia, dia istriku, aku sudah lama mencarinya, aku sangat merindukannya." pinta Salman lirih menatap Wati dengan wajah mengiba.
Dia tidak bisa menunggu lagi. Sampai kapan dia harus menunggu Hendrik pulang, sementara pada kenyataannya wanita itu memang benar Safia. Dia tidak lagi membutuhkan izin untuk bertemu dengan istrinya sendiri.
Wati tergagap dan terlihat ragu mengiyakan permintaan Salman. Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin membuat Hendrik marah jika terlalu lancang meminjamkan kunci cadangan pada Salman.
Akan tetapi, dia juga tidak tega menolak permintaan pria itu. Dia merasa kasihan melihat Salman yang sepertinya sangat terpukul setelah mendengar pengakuannya.
"Tolong aku Mbak, sekali ini saja!" pinta Salman memohon sembari menangkup tangan di depan dada. Tatapan matanya nampak sendu dan berkaca-kaca.
"Tuan, a-aku..."
"Aku tau dimana posisimu, aku sangat mengerti. Tapi aku juga tidak bisa seperti ini, aku merindukan Safia. Aku bahkan sudah mencarinya kemana-mana, tolong aku, Mbak!" mohon Salman sekali lagi, berharap Wati mau berbaik hati membantunya.
Melihat ekspresi Salman yang begitu tersiksa, Wati pun akhirnya mengangguk meski dalam keterpaksaan. Sebagai wanita, dia mengerti bagaimana perasaan Salman saat ini.
__ADS_1
"Ayo, aku akan membukakan pintu itu untuk Tuan!" ajak Wati, dia pun berjalan lebih dulu menuju lemari pajang dan membuka sebuah laci kecil.
Setelah mendapatkan anak kunci yang diminta Salman, Wati melanjutkan langkahnya menuju pintu. Dengan tangan sedikit gemetaran, dia pun memasukkan anak kunci ke lobang. "Silahkan!" ucapnya pada Salman sesaat setelah berhasil membuka pintu.
"Terima kasih banyak, aku berhutang budi padamu. Jika Hendrik marah akan hal ini, aku yang akan bertanggung jawab. Kamu tidak usah takut, aku bisa membawamu ke rumahku bila perlu," kata Salman pada Wati.
"Hmm..." angguk Wati pelan lalu meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin mengganggu Salman dan Safia yang seharusnya akan sangat bahagia setelah cukup lama tidak bertemu.
Meski Wati tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, namun dia meyakini bahwa Salman benar-benar merindukan istrinya. Dari tatapan dan cara Salman berbicara, Wati bisa melihat jelas ada cinta yang sangat besar di hati pria itu.
Ceklek...
Pintu terbuka selepas Salman menekan kenop. Dengan kaki bergetar dan jantung berdegup kencang, dia pun mendorong pintu perlahan.
Seketika Safia yang tengah duduk di tepi ranjang tersentak sambil mendongakkan kepala. Betapa terkejutnya dia saat menangkap tubuh jangkung Salman yang sudah berdiri di ambang pintu.
Seketika hening menerpa, baik Salman maupun Safia sama-sama terdiam dalam pemikiran masing-masing. Mata Safia membulat dengan sempurna kala menatap manik mata coklat milik Salman, sedangkan Salman tiba-tiba menitikkan butiran-butiran kecil bening yang jatuh tanpa dia sadari.
Entah berapa banyak luka yang sudah dia goreskan di hati Safia, entah seberapa sakit yang wanita itu rasakan selama ini?
Safia bahkan tidak merespon Salman dan hanya terdiam seperti patung lilin yang tak bernyawa. Tidak ada ekspresi sama sekali, datar seperti jalan tol di ujung sana.
"Sa-safia..." lirih Salman dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bibirnya tiba-tiba berat untuk digerakkan, bahkan denyut nadinya seakan ingin berhenti detik itu juga.
Salman kemudian menutup pintu dengan cepat lalu melangkah menghampiri Safia yang masih diam di tempat duduknya.
Safia tidak tau apakah ini nyata atau tidak, tubuhnya seperti tengah berada di atas udara.
Apakah ini mimpi? Jika benar, biarkan Safia tidur sedikit lebih lama agar bisa memandangi wajah suaminya barang sejenak.
"Safia..." ucap Salman lagi sembari menekuk kaki di hadapan Safia. Salman berlutut di lantai dengan air mata yang terus saja jatuh membasahi pipi.
__ADS_1
Lalu Salman meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat, dia pun mencium punggung tangan istrinya itu dengan lembut.
Tanpa terasa hujan semakin turun dengan lebat, Salman tidak bisa lagi membendung perasaannya. Dia tidak tau apakah tangisan ini akan membuat Safia percaya atau malah semakin membenci dirinya.