
"Mas Salman..." Safia bangkit dari duduknya dan berlari kencang menyusul ayah putranya itu.
Saat Salman hendak menaiki motor, Safia tiba-tiba memeluknya dari belakang dan meremas dada Salman kuat. "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi! Aku masih sangat mencintaimu, aku tidak bisa kehilangan kamu lagi."
Deg...
Salman terperanjat kaget dengan mata membulat sempurna, air matanya kembali tumpah seiring rasa ngilu menyentak dada. Apa dia sedang bermimpi?
"Tolong jangan pergi! Aku akan mati jika kamu meninggalkanku untuk kedua kalinya." imbuh Safia mendekap Salman erat.
"Safia..." desis Salman dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Aku tidak mau menjadi ibu yang egois, aku menyesal menjadi istri keras kepala. Aku mencintai kamu, Mas. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu." isak Safia berderai air mata.
Semakin Safia menegaskan perasaannya, semakin perih pula hati Salman mendengarnya.
Salman seketika berbalik badan dan memeluk erat Safia di dekapan dadanya.
"Aku juga mencintaimu, Safia. Aku sangat mencintaimu."
Tangisan keduanya pecah di bawah guyuran hujan yang masih setia membasahi bumi.
"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, aku hanya tidak ingin menyakitimu terlalu dalam."
Salman merenggangkan pelukannya dan menangkup tangan di pipi Safia lalu menghujani wajah mantan istrinya itu dengan kecupan bertubi-tubi.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf." isak Salman lalu mencium bibir Safia dan kembali mendekapnya.
Safia tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan balas memeluk Salman.
...****************...
"Mandilah, jangan sampai kamu sakit!" Safia mengambilkan pakaian ganti di dalam lemari dan menyodorkannya ke tangan Salman.
"Safia, apa aku sedang bermimpi?" tanya Salman bingung, dia belum bisa mempercayai ini sepenuhnya.
Tiba-tiba dia bisa menginjakkan kaki lagi di kamar yang dulu menjadi miliknya dan hanya ada dia dan Safia di sana.
"Tidak, ini bukan mimpi." jawab Safia menggelengkan kepala.
"Safia..."
"Sudah, mandi sana!" Safia mendorong lengan Salman mendekati pintu kamar mandi.
"Iya iya, aku mandi." angguk Salman lalu membuka pintu dan menutupnya kembali setelah menghilang dari pandangan Safia.
Safia tertegun sejenak, sudut bibirnya bergerak membentuk senyuman tipis. Entah pilihan ini benar atau tidak, Safia tidak mau memikirkannya. Dia harus melawan ego demi kebahagiaan Saka.
__ADS_1
Cukup dirinya saja yang kehilangan kasih sayang kedua orang tua ketika. masih sangat membutuhkan mereka. Safia tidak ingin Saka mengalami hal yang sama.
Lalu Safia meninggalkan kamar itu dan masuk ke kamar Saka. Safia memasuki kamar mandi dan dengan cepat membersihkan diri usai hujan-hujanan bersama Salman.
Setelah Safia mengenakan pakaian, dia kembali ke luar dan turun ke lantai satu. Safia memasuki dapur dan membuatkan teh untuk Salman.
Tok Tok Tok...
"Masuk saja!" seru Salman dari dalam sana.
Safia mendorong pintu perlahan lalu melangkah menghampiri sofa. "Ini, minumlah agar tubuhmu kembali hangat!" ucap Safia pada Salman yang tengah merapikan rambut di depan cermin.
Safia menaruh cangkir yang dia bawa di atas meja. Saat hendak berbalik, tiba-tiba Salman memeluknya erat dari belakang. "Mau kemana?" desis Salman tepat di telinga Safia.
Safia menaikkan bahu, hembusan nafas Salman yang hangat membuat tubuhnya meremang. "Aku akan kembali ke kamar Saka." jawab Safia dengan suara bergetar, rasanya sangat canggung berada di pelukan ayah putranya itu.
"Di sini saja, temani aku!" pinta Salman lalu mencium pundak Safia dengan penuh kelembutan.
Safia tiba-tiba terpaku dengan mata terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang seperti tengah lari maraton.
"Tapi, Mas. Kita-"
"Aku sangat merindukanmu, Safia. Biarkan aku melepaskan rasa rindu ini padamu, aku hanya ingin memelukmu saja." desis Salman dengan nafas memburu.
Safia menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu berbalik dan mematut manik mata Salman sendu.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak kuat." Salman menarik pinggang Safia, dada keduanya saling menyentuh.
"Meski sudah tujuh tahun berlalu, kamu tidak berubah sedikitpun. Kamu semakin cantik walau sudah menjadi ibu. Bodohnya aku yang sudah menyia-nyiakan wanita sepertimu." gumam Salman dengan pandangan meredup, manik matanya bergulir memandangi mata, hidung, pipi dan bibir Safia.
Safia gelagapan saat tak sanggup menghindari tatapan Salman yang tak biasa. "Lalu kenapa kamu terlihat semakin tua? Apa selama ini kamu tidak bahagia?" tanya Safia penasaran.
"Hehe... Aku tidak tau lagi bagaimana cara untuk bahagia. Hidupku sudah berakhir sejak memutuskan pergi meninggalkan wanita yang sangat aku cintai." lirih Salman.
"Bohong, kamu tidak pernah mencintaiku, kamu hanya mencintai dirimu sendiri." sela Safia.
"Iya, kamu benar. Aku hanya mencintai diriku sendiri, aku sangat jahat." angguk Salman membenarkan.
"Hmm... Kamu sangat jahat." Safia meninjitkan kaki dan merengkuh tengkuk Salman.
"Aku membencimu, sangat membencimu." Safia memeluk tengkuk Salman erat dan menangis di dada mantan suaminya itu.
"Ya, aku tau itu." angguk Salman lalu mendekap Safia sangat erat.
Salman tidak tau harus berkata apa lagi. Yang dia tau, dia sangat menyesali semua perlakuan buruknya di masa lalu.
"Maafkan aku, aku terlambat menyadari perasaanku terhadapmu. Saat aku mencoba memperbaikinya, aku sadar sudah tidak mungkin lagi. Aku melihat kebencian yang sangat besar di matamu, sebab itulah aku memilih pergi. Aku takut membuatmu semakin menderita bila terus saja berada di dekatku." tanpa terasa air mata Salman terjun bebas begitu saja.
__ADS_1
"Ini bukan salahmu sepenuhnya. Aku juga salah, aku terlalu keras kepala." isak Safia sesenggukan.
"Hehe... Akhirnya kamu mengakuinya juga." Salman terkekeh meski air matanya terus saja mengalir.
"Sudah, lepaskan aku! Minum dulu tehnya, nanti keburu dingin!"
Safia mendorong lengan Salman hingga pelukan mereka terlepas lalu mengambil cangkir teh yang ada di atas meja dan menyodorkannya ke tangan Salman.
"Kamu dulu yang minum!" pinta Salman mengukir senyum.
"Aku membuatkannya untukmu, kenapa harus-"
"Minum saja!" desak Salman mendekatkan cangkir itu ke bibir Safia.
Mau tidak mau Safia terpaksa menyeruput teh itu dan kembali menyodorkannya ke tangan Salman.
Salman mengambil alih cangkir itu dan meneguknya tepat di mulut cangkir bekas bibir Safia.
"Apaan sih?" keluh Safia tersipu malu.
"Manis," ucap Salman mengulas senyum nakal.
Safia mengulum senyum lalu melangkah melewati Salman. Namun langkahnya lagi-lagi ditahan oleh Salman.
"Di sini saja, tidurlah bersamaku!" pinta Salman mencengkeram pergelangan tangan Safia pelan.
"Jangan gila, Mas. Kita-"
"Hanya tidur saja, Safia. Tidak akan lebih." terang Salman dengan wajah memelas.
"Tapi, Mas-"
"Please..." Salman menarik tangan Safia dan membawanya ke kasur.
"Mas, aku-"
"Sssttt..."
Setelah Safia terbaring, Salman pun ikut berbaring di sampingnya.
"Peluk aku!" pinta Salman merentangkan tangannya, memberi akses agar Safia menjadikan lengannya sebagai bantalan.
"Mas, ini-"
Safia terdiam saat Salman menariknya semakin dekat dan mendekap Safia erat di dadanya. "Tidurlah!"
Salman mengusap pucuk kepala Safia dan menciumnya dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"Terima kasih karena masih menyimpan rasa itu untukku." gumam Salman lalu memejamkan mata perlahan.
Tidak terbilang betapa bahagianya Salman saat ini, dia hanya ingin memeluk Safia untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini dia pendam seorang diri.