
"Nyonya..." pekik Ina sesaat setelah pulang berbelanja, dia disuruh Safia membujuk Saka turun untuk makan siang.
Akan tetapi, Ina malah berteriak saat mendapati kamar yang sudah kosong, pintu lemari juga terbuka dan ada beberapa pakaian yang hilang dari dalam sana.
Ina tentu kaget, dia lantas berhamburan meninggalkan kamar dan berlarian menuruni anak tangga.
"Ina, kenapa teriak-teriak begitu?" tanya Safia ketika berpapasan dengan pelayan itu di dasar tangga, teriakan Ina membuat Safia hampir saja mengalami serangan jantung.
"Sa-saka, Nyonya-" Ina terbata-bata dalam berucap, dia kesulitan menggerakkan lidahnya.
Lalu Ina mencoba mengatur nafas dan menceritakan apa yang dia lihat tadi. Safia sontak terperanjat dengan mata melotot tajam.
Safia menaiki anak tangga tergesa-gesa, wajahnya nampak panik.
Sesampainya di kamar Saka, Safia merasa jantungnya ingin copot melihat keadaan kamar yang berantakan, beberapa pakaian putranya berserakan di lantai.
"Ina, kemana Saka?" bentak Safia dengan suara meninggi, dia tidak bisa menahan emosi.
Saka tidak mungkin pergi 'kan? Dia masih terlalu kecil, pikiran dari mana? Akan tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi setelah semua yang mereka lalui.
Ina menundukkan kepala, dia benar-benar tidak tau kemana perginya Saka.
Safia yang panik, tiba-tiba teringat dengan Salman. Dia cepat-cepat meninggalkan kamar Saka dan mengambil ponselnya yang ketinggalan di kamar Salman pagi tadi.
Setelah ponsel itu ada di tangannya, Safia menghubungi mantan suaminya itu. Tanpa berbasa-basi, Safia langsung saja memaki Salman dengan kata-kata yang tidak enak didengar.
Salman yang tidak tau apa-apa tentu bingung mendengar suara Safia yang sangat lantang. Apa kesalahan yang sudah dia lakukan? Kenapa Safia langsung membentaknya seperti ini?
Salman memberanikan diri membuka suara, menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Safia tiba-tiba marah padanya?
Safia menjelaskan semuanya sembari menangis terisak, dia yakin Salman lah yang sudah membawa Saka pergi dari rumah.
Seketika darah Salman berdesir hebat mendengar penuturan Safia.
Saka hilang?
Bagaimana mungkin? Bukankah tadi Safia melihat sendiri bahwa dirinya meninggalkan rumah seorang diri? Kapan Salman membawa Saka?
Karena panik, Salman langsung saja memasukkan ponselnya ke saku celana, dia tidak sadar panggilan itu masih tersambung.
__ADS_1
Salman berlari kencang menuju ruangan manager, dia menceritakan semuanya dan meminta izin untuk mencari putranya.
Awalnya terdengar suara manager itu membentak Salman, baru bekerja sudah minta izin seenaknya. Manager itu bahkan merendahkan Salman yang katanya tidak bertanggung jawab.
Salman yang tersulut emosi kemudian menggebrak meja dengan kasar. Suara dentuman yang sangat keras membuat Safia terperanjat.
Ya, Safia sengaja membiarkan telepon itu tersambung meski Salman tidak lagi mendengarnya. Safia ingin tau apa yang sebenarnya direncakan mantan suaminya itu.
Tiba-tiba Salman berkata bahwa putranya lebih berharga dari pekerjaan itu, dia lebih baik kehilangan pekerjaan dan mati kelaparan dari pada melihat putranya menderita.
Seketika itu juga Salman bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu. Dengan pakaian montir yang sudah kotor dipenuhi oli, dia meninggalkan sorum terburu-buru.
Apalah artinya sebuah pekerjaan, Saka lebih berharga baginya melebihi apapun di dunia ini.
Lalu Salman mengendarai sepeda motor dan menyisir setiap jalanan untuk mencari keberadaan Saka.
...****************...
"Saka?"
Seorang pria menghentikan laju mobilnya saat tak sengaja menangkap keberadaan seorang anak kecil yang tengah duduk di trotoar. Ciri-ciri anak itu sama persis seperti Saka.
Ya, anak itu benar Saka, matanya tidak salah melihat.
Lalu pria itu berlari kecil menghampiri bocah itu.
"Saka, apa yang kamu lakukan di sini? Dimana Mama?"
Saka mendongakkan kepala saat mendengar namanya disebut. Sesaat setelah memastikan siapa orang yang memanggilnya, Saka pun langsung berhamburan dari duduknya.
"Paman..." lirih bocah itu dan memeluk pria yang ternyata adalah Alex.
"Iya sayang, ini Paman. Apa yang Saka lakukan di sini? Dimana Mama?" tanya Alex lagi.
Saka menangis terisak-isak sembari menggelengkan kepala. Hal itu membuat Alex tidak tega bertanya lebih banyak.
Alex kemudian menggendong bocah itu dan membawanya masuk ke mobil. Saat dia mengatakan hendak mengantar Saka pulang, bocah itu langsung menolak dan mengancam akan turun.
Saka tidak mau pulang ke rumah besar itu, dia ingin diantar ke rumah Salman saja, dia ingin tinggal bersama sang papa.
__ADS_1
Alex yang mendengar itu nampak kebingungan, apa yang harus dia lakukan?
Lalu Alex mencoba menghubungi Salman, dia menceritakan bahwa Saka sekarang ada bersamanya. Alex pun meminta alamat Salman dan memutuskan mengantar Saka ke rumah sahabatnya itu.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Alex melajukan mobilnya menuju alamat yang dikatakan Salman tadi.
Di jalan lain, Salman menghela nafas lega. Dia bersyukur karena Saka ditemukan oleh sahabatnya sendiri, Salman pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Setengah jam berselang, mobil Alex dan motor Salman beriringan memasuki gerbang perumahan. Keduanya sama-sama berhenti tepat di depan rumah Salman.
"Papa..." seru Saka sesaat setelah turun dari mobil, dia berhamburan ke pelukan Salman tanpa peduli pada pakaian papanya yang kotor dipenuhi oli.
Salman mendekap putranya itu sangat erat lalu menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Salman benar-benar takut, dia bisa gila jika Saka tidak berhasil ditemukan.
Alex yang melihat pemandangan itu sontak mengukir senyum. Benar kata pepatah, darah memang sangat kental.
Namun tiba-tiba Alex mengernyit mematut penampilan Salman yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Pakaian montir?
"Pakaian apa ini?" tanya Alex penasaran, dia juga memperhatikan rumah yang ditinggali Salman saat ini.
Ini sangat tidak masuk akal. Seorang Salman yang selama ini dikenal dengan segala kelebihannya, kini berubah drastis seperti orang-orang menengah ke bawah.
Kemana Salman yang dulunya selalu mengenakan pakaian bermerek, mobil mewah dan fasilitas serba instan? Alex seperti tidak mengenali sahabatnya sendiri.
"Terima kasih sudah membawa Saka kemari, aku berhutang budi padamu." ucap Salman tanpa menjawab pertanyaan Alex.
"Hmm... Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus ke rumah sakit sekarang."
Alex tidak bisa berlama-lama di sana, dia harus kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.
Setelah kepergian Alex, Salman menggendong Saka memasuki rumah. Sebelum menanyakan apa yang terjadi, Salman meminta Saka mandi terlebih dahulu, tubuh putranya itu sudah lengket dibanjiri keringat.
Saka sama sekali tidak menolak. Setelah menaruh ranselnya di atas kasur, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sembari menunggu Saka selesai mandi, Salman dengan cepat mengirim pesan kepada Safia. Dia mengatakan bahwa Saka sudah ada di rumahnya.
Lalu Salman menaruh ponselnya di sofa, dia memilih membersihkan tubuhnya di kamar mandi belakang.
__ADS_1
Usai mandi dan mengenakan pakaian, Salman memasuki dapur, dia menyiapkan makanan untuk Saka, beruntung masih ada persediaan makanan di kulkas.