Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 24.


__ADS_3

"Permisi Bu, apa Safia ada?" tanya Salman pada Bu Ani yang tengah duduk di ruangannya. Pria itu hanya berdiri di ambang pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu.


"Nak Salman, ayo masuk dulu!" Bu Ani menyambut Salman dengan senyum manis karena dia pikir tidak ada apa-apa diantara Safia dan suaminya itu.


Tidak enak hati menolak permintaan wanita itu, Salman pun akhirnya memilih masuk dan duduk di seberang meja Bu Ani. Keduanya berbincang-bincang kecil, sesekali suara tawa menggelegar saat Bu Ani menceritakan kelakuan nakal Safia saat kecil. Entah mengapa Salman merasa tertarik sehingga lupa dengan tujuan awalnya mendatangi panti asuhan itu.


Bu Ani mengungkap semuanya pada Salman, dimana dia menemukan Safia dan bagaimana keadaannya saat itu. Bu Ani juga mengatakan bahwa Safia terkena alzheimer sejak menginjak umur belasan tahun.


Menurut Bu Ani mungkin semua itu karena pikiran Safia yang tidak bisa lepas dari masa lalunya. Dokter sendiri tidak pernah menjelaskan penyebab pasti Safia menderita penyakit itu.


Tanpa terasa sudah satu jam saja mereka berdua mengobrol. Salman akhirnya mengembalikan pembicaraan pada topik awal yang ingin mencari keberadaan Safia. Bu Ani pun mengatakan bahwa Safia ada di kamar, dia sedang istirahat setelah puas bermain dengan anak-anak.


Salman seketika menghela nafas lega saat tau bahwa Safia memang pulang ke panti itu. Setidaknya dia cukup senang karena tau bahwa Safia baik-baik saja.


Lalu Salman berpamitan dan meminta izin untuk menemui Safia. Setelah izin didapatkan, dia pun meninggalkan ruangan Bu Ani terburu-buru dan berjalan menuju kamar istrinya.


Ceklek...


Saat pintu terbuka sedikit, Salman mengulas senyum mendapati tubuh Safia yang tengah terbaring di atas kasur. Salman memasuki kamar itu dan menutup pintu perlahan, lalu menghampiri Safia dan duduk di tepi ranjang.


"Cantik, tapi sayang tidak mau menurut." gumam Salman mematut Safia dengan intim. Salman menggerakkan tangganya dan mengelus pipi Safia lembut. Hatinya mencair menyaksikan muka polos istrinya yang sangat meneduhkan hati.


Kemudian Salman mengikis jarak dan memberanikan diri mencium dahi Safia, turun ke pipi lalu berakhir di bibir mungil istrinya. Entah mengapa, Salman rasanya ingin sekali melu*mat bibir itu. Hawa kamar seketika terasa panas hingga pori-pori Salman mengeluarkan keringat.

__ADS_1


"Huft..." Salman menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Dia tau betul posisinya tidak memungkinkan untuk meminta itu.


Sadar akan sentuhan yang dilayangkan Salman di pipinya, Safia sontak terbangun dan membuka mata perlahan. Seketika netranya membulat mendapati wajah Salman yang sangat dekat dengannya. Safia hendak mendorong suaminya itu, akan tetapi Salman dengan sigap menahan tangannya.


"Jangan bergerak!" ucap Salman menatap lekat wajah Safia. Hatinya mencelos, matanya berbinar menahan cairan yang menggenang. Salman tau diri, tapi dia tidak bisa menahan keinginan untuk tidak menyentuh Safia. Ada dorongan kuat yang membuatnya ingin berdekatan dengan istrinya itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Menjauhlah dariku!" ketus Safia membuang muka, dia sangat gugup saat tatapan mata mereka saling bertemu.


"Kenapa masih bertanya? Aku di sini menyusul istriku, kenapa memangnya? Apa aku salah?" cerca Salman dengan pertanyaan beruntun, keningnya mengernyit menanyakan itu.


"Ya, kamu salah." angguk Safia tanpa mau menatap wajah Salman, dia benci situasi seperti ini. Dia ingin pergi tapi Salman terlalu kuat menekan dirinya.


"Safia, cukup membuatku marah, aku hanya ingin memperbaiki hubungan ini. Tolong jangan keras kepala begini! Aku benar-benar menyesal Safia, aku-" Salman terdiam sejenak, dia tidak tau harus berkata apa lagi untuk meyakinkan istrinya itu.


Safia yang merasakan tetesan itu seketika memutar leher dan mematut Salman dengan intens, alisnya bertautan antara percaya tidak percaya mendengar ucapan Salman.


"Tidak mudah memaafkan kesalahan yang sudah kamu lakukan, aku sakit melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Lalu kenapa kalau aku tidak mau memaafkan mu? Kamu sendiri yang merusak kepercayaan yang aku berikan padamu, kamu juga yang membuatku menjauh darimu." sahut Safia menelan tangisan, suaranya terdengar serak mengatakan itu semua.


Ya, apa yang dikatakan Safia itu memang benar adanya. Kesalahan Salman terlalu besar sehingga sulit bagi Safia untuk membuka hatinya kembali.


"Safia..." lirih Salman menjatuhkan wajahnya di muka istrinya itu, kening mereka saling menyentuh begitupun dengan hidung bangir keduanya yang saling beradu.


"Pergilah, biarkan aku sendiri!" usir Safia dengan tubuh bergetar menangisi keadaan yang sangat sulit dia terima.

__ADS_1


"Tidak Safia, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sampingmu sampai pintu maafmu terbuka untukku." geleng Salman menolak permintaan Safia.


"Berapa kali harus aku katakan padamu? Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" tegas Safia yang mulai tersulut emosi. Dia kehilangan akal menghadapi sikap Salman yang selalu saja mendesaknya.


"Terserah kamu saja Safia, aku pun akan tetap pada pendirianku." terang Salman yang tidak mau kalah dari Safia. Dia kemudian membaringkan diri di samping Safia dan memeluknya erat. Seberapa kerasnya hati Safia, Salman yakin lambat laun istrinya pasti akan luluh.


"Lepaskan aku, aku... Mmphh..."


Safia sontak terdiam dengan mata membulat sempurna saat Salman menahan ucapannya. Salman mencium bibir Safia dan melu*matnya dengan penuh kelembutan.


Sejenak Safia terdiam seperti patung yang tak bernyawa menikmati sentuhan kecil yang dilayangkan Salman di bibirnya. Baru kali ini Safia merasakan sensasi aneh setelah satu minggu menjadi istri pria itu.


Tidak berselang lama, Safia tersadar dan mencoba mendorong dada Salman namun kekuatannya tidak cukup kuat untuk memberontak.


Salman malah semakin memperdalam ciumannya sehingga kini Salman bisa leluasa membelit lidah Safia. Salman menghisapnya kuat dan menelan saliva mereka yang sudah membaur jadi satu.


"Mmm..." Safia lagi-lagi berusaha keras mendorong Salman namun hasilnya tetap sama. Tangan Salman bahkan mulai bergerak menggerayangi lekuk tubuhnya.


"Please, tolong terima aku sebagai suamimu!" desis Salman dengan nafas tercekat di tenggorokan. Dia mulai hilang akal saat tangannya sudah merayap ke dalam pakaian yang dikenakan Safia.


"Jangan lakukan ini padaku, aku mohon!" gumam Safia dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Kita harus melakukannya Safia, kamu harus mau menerimaku seperti waktu itu. Aku tidak akan kasar lagi, aku janji." ucap Salman dengan nafas kian memburu, kepalanya mulai berdenyut sebab tak bisa lagi mengendalikan keinginan yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau." geleng Safia ketika wajah Salman sudah tenggelam di dadanya. Sentuhan sentuhan kecil yang diciptakan Salman membuat Safia hilang kesadaran beberapa saat. Dia sampai mende*sah saat rangsangan Salman berhasil membuat tubuhnya merinding dan membeku seperti boneka.


__ADS_2