
Setelah Mika menghilang dari pandangannya, Salman menutup pintu dengan kasar. Dia bergegas memasuki kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower yang sudah menyala.
"Maafkan aku Safia, aku tidak bermaksud mengkhianatimu."
Salman mengusap wajah kasar, sekaligus menggosok bibir yang tadi sempat dicium oleh Mika. Salman ingin menghapus bersih jejak wanita itu, menurutnya hanya Safia lah yang pantas menikmati semua yang ada di tubuhnya, bukan wanita lain.
Ya, mungkin sebentar lagi Salman akan gila jika tidak kunjung menemukan Safia. Entah ini adalah obsesi semata, entah cinta itu benar-benar sudah tumbuh di hatinya.
Dia hanya ingin Safia kembali ke sisinya, dia bahkan tidak peduli dengan penyakit yang diderita istrinya. Wanita itu sudah merasuk ke dalam dirinya sehingga Salman tidak bisa lagi melihat wanita lain.
...****************...
Malam sudah berlalu, mentari pagi mulai terbit dan bersinar menerangi bumi. Safia yang tadinya terlelap, kini sudah bangun dan turun dari ranjang.
Sesaat setelah membuka pintu, Safia mengernyit mendapati ruangan yang sudah rapi. Pria semalam sudah tidak ada lagi di lantai.
Seketika Safia pun menghela nafas lega sambil mengusap dada yang tadinya berdetak kencang. "Syukurlah, ternyata dia benar-benar menepati janji." gumam Safia, lalu berjalan memasuki dapur menuju kamar mandi yang terletak di belakang sana.
"Pagi..." sapa pria itu, dia baru saja keluar dari kamar mandi dan tak sengaja berpapasan dengan Safia.
Tentu saja Safia sangat terkejut melihat pria itu, padahal dia sudah sangat senang karena berpikir pria itu sudah pergi dari kontrakan.
Safia pun lekas menjauh dan menjaga jarak dengan pria itu, dia tidak ingin berdekatan apalagi bersentuhan dengannya. Agaknya Safia sedikit trauma setelah semua yang terjadi padanya.
"Kenapa masih di sini? Bukankah katamu akan pergi saat pagi tiba?" tanya Safia menagih janji.
"Ya ampun, gak percayaan banget sih jadi orang. Aku memang ingin pergi dari sini, tapi tunggu sebentar, sopirku masih di jalan." jelas pria itu dengan kening mengernyit.
"Kalau begitu tunggu saja di luar!" usir Safia secara tidak langsung.
"Jangan dong, aku tidak bisa menampakkan wujud ku di luar sana. Kamu lupa semalam aku hampir saja mati karena terluka?" tolak pria itu, dia merasa akan lebih aman jika menunggu di dalam rumah.
__ADS_1
"Itu urusanmu, aku sama sekali tidak peduli. Sekarang pergilah dari sini, atau aku akan berteriak agar orang-orang berdatangan dan memukulmu." gertak Safia dengan tatapan tajam membunuh.
"Ya Tuhan, jutek banget sih jadi orang. Pakai acara mengancam segala," keluh pria itu, dia pikir Safia terlalu norak jadi wanita.
Disaat para gadis cantik berebutan mengejar dirinya, Safia justru tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada ketampanannya.
Apa Safia tidak normal? Entahlah, pria itu malas memikirkannya.
Baru saja pria itu hendak menghampiri Safia, tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi dari halaman sana. Pria itu menahan langkahnya dan memutarnya ke arah depan.
Dari balik tirai yang disingkap, pria itu tau persis bahwa yang datang adalah sopir dan beberapa orang pengawal yang dia perintahkan menjemputnya.
Mau tidak mau, dia pun berpamitan pada Safia, tak lupa pula dia mengucapkan terima kasih atas bantuan Safia semalam.
Safia hanya menganggukkan kepala tanpa banyak bicara, dia pun berdiri di teras rumah melepas kepergian pria itu.
Saat pria itu sudah duduk di dalam mobil, Safia memasuki rumah dan menutup pintu. Dia ingin mandi agar tubuhnya kembali segar, setelah itu dia ingin menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.
Namun seketika pergerakan Safia terhenti di ambang pintu kamar mandi, telinganya tak sengaja mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari arah luar.
"Dimana pria itu?" tanya salah seorang dari keduanya.
Safia yang terkejut lantas menautkan alis bingung. "Pria yang mana? Di sini tidak ada orang lain kecuali aku," jawab Safia jujur.
"Jangan bohong, aku tau kau menyembunyikan seorang pria di tempat ini. Cepat katakan, atau..." pria itu berkata dengan nada mengancam.
"Aku benar-benar tidak tau apa yang kalian katakan, aku tidak bohong, tidak ada siapa-siapa di sini selain aku." terang Safia yang mulai ketakutan. Dia pun bergegas meraih daun pintu dan hendak menutupnya.
Braak...
Salah seorang pria itu mendorong Safia hingga punggungnya membentur pintu. Safia pun meringis kesakitan sambil memegang pundaknya, sedangkan kedua pria itu menyelonong masuk tanpa permisi.
__ADS_1
Keduanya menggeledah setiap sudut kontrakan dan mengacak nya seperti maling, bahkan kamar tidur pun tak luput dari pencarian mereka.
"Dimana dia?" tanya pria itu lagi, keduanya kembali menghampiri Safia dengan tatapan tajam mengerikan.
"Bukankah sudah ku bilang, tidak ada orang lain di sini, aku hanya sendirian." jawab Safia dengan suara sedikit meninggi.
Tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Safia, salah seorang pria itupun menariknya dan menyeretnya ke dinding.
Safia terperangah saat punggungnya kembali membentur dinding, kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Safia menitikkan air mata, namun pria itu sama sekali tidak peduli.
Lalu pria lainnya menghampiri Safia dan mengelus pipinya, Safia membulatkan mata dan dengan cepat membuang muka. Dia sangat jijik, dia tidak mau disentuh oleh para penjahat itu.
"Tidak apa kalau kamu tidak mau bicara, tapi setidaknya kita bisa bersenang-senang dulu kan?" ucap pria itu dengan senyum nakal. Safia terlalu cantik, mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Jangan, aku tidak mau. Tolong lepaskan aku, aku bukan wanita seperti itu. Aku sudah punya suami, kalian akan menyesal jika berani melakukan ini padaku. Suamiku tidak akan membiarkan kalian hidup." gertak Safia menjual nama besar suaminya. Dia pikir mungkin saja nama Salman dikenal sampai ke pelosok negeri.
"Heh, jangan membodohi kami dengan tipu muslihat mu itu, kami tidak akan percaya." pria lainnya menarik tangan Safia dan mendorongnya ke lantai.
"Aaaaw..." lagi-lagi Safia merintih saat tubuhnya sudah tidak memiliki kekuatan sama sekali. Safia mencoba beringsut tapi kakinya keburu ditahan oleh kedua pria itu.
"Tidak, jangan, aku tidak mau!" pekik Safia yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. "Mas Salman, tolong aku!" imbuh Safia memeluk tubuhnya sendiri.
Bug...
Tiba-tiba kedua pria itu terguling di lantai sesaat setelah tendangan keras mendarat di punggung mereka. Dua orang pria bertubuh tinggi besar berdiri di hadapan Safia, wanita itu menatapnya bingung.
Namun tidak lama setelah itu, pria semalam muncul di belakang keduanya. Safia pun menghela nafas lega, dia pikir mungkin dua pria itu adalah orang-orangnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu, lalu membantu Safia berdiri dan membawanya ke luar.
"Hmm... Terima kasih," ucap Safia gemetaran, dia tidak tau bagaimana jadinya jika pria itu tidak datang tepat waktu.
__ADS_1
"Bereskan mereka berdua, bila perlu patahkan tangan dan kaki mereka satu persatu!" titah pria itu pada kedua anak buahnya.
"Siap bos," angguk keduanya, lalu menyelesaikan kedua parasit itu sampai babak belur. Sementara Safia sendiri dibawa masuk ke dalam mobil.