
Tengah asik menyantap makanan bersama Saka, keduanya tiba-tiba terkejut saat mendengar suara benturan keras yang berasal dari pintu.
Kepala keduanya menoleh ke arah sumber suara, keduanya semakin terkejut melihat Safia yang sudah berdiri di ambang pintu dan menatap mereka dengan sorot mata menyala.
Saka nampak ketakutan melihat wajah marah Safia, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan memilih bersembunyi di balik punggung Salman.
Safia yang melihat itu seketika tersenyum getir. Segitu takut kah Saka padanya? Apa yang sudah dia lakukan sehingga Saka memilih pergi darinya?
Melihat raut kecewa yang tersirat jelas di wajah Safia, Salman pun dengan cepat menaruh piringnya di meja. Dia memutar badan ke belakang dan mengangkat tubuh Saka lalu memangku nya.
"Tidak boleh begitu, sayang. Itu Mama Saka loh." ucap Salman merasa tidak enak hati, tidak pernah terbersit di pikirannya untuk menghancurkan hubungan ibu dan anak itu.
Salman menjadi serba salah melihat Saka yang seakan menghindar dari Safia, Salman bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Sudah cukup, ayo pulang!" sergah Safia dengan suara jelas dan lantang.
Saka menggelengkan kepala dan mengalungkan tangannya di tengkuk Salman. "Saka tidak mau pulang, Saka ingin di sini sama Papa." lirih bocah itu.
Salman mengusap punggung putranya itu sembari menghela nafas berat. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak menyangka Saka akan sekeras ini.
"Puas kamu, jangan bilang kalau kamu tidak tau apa-apa tentang ini! Aku pikir sifatmu sudah berubah, tapi ternyata-"
Safia membentak Salman dan menatapnya dengan tatapan penuh benci, dia yakin Salman lah yang telah mempengaruhi putranya sehingga berani meninggalkan rumah tanpa izin.
Salman tertegun mendengar tuduhan Safia itu, dadanya terasa ngilu bak ditikam pedang tajam.
Akan tetapi, dia tidak berani membela diri. Dia hanya menunduk menahan bongkahan kristal yang menumpuk di kelopak matanya.
"Pulanglah Nak, tolong dengarkan Papa kali ini!" lirih Salman membujuk Saka agar mau pulang bersama Safia. Dia tidak ingin merebut kebahagiaan mantan istrinya itu.
Agaknya Salman salah memilih kembali ke kota itu, dia tidak menyangka kehadirannya akan memperkeruh suasana. Sedikitpun tidak pernah terlintas di benaknya untuk mengambil Saka dari Safia.
Namun sekarang Safia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, dia hanya bisa pasrah menerima tuduhan itu.
"Jangan berpura-pura bodoh di depanku, aku-"
Safia terdiam saat ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering, dia membuka resleting tas itu dan mengangkat panggilan yang berasal dari Alex.
Tiba-tiba wajah Safia memerah mendengar ucapan pria itu, manik matanya menatap Salman dengan sendu.
__ADS_1
Salman hanya diam sembari memeluk putranya erat. Jangankan berbicara, menatap Safia saja dia tidak sanggup.
Lalu Salman bangkit dari duduknya sembari menggendong Saka, dia berjalan menghampiri Safia dan memberikan putranya ke tangan wanita itu.
Tanpa berkata sepatah katapun, Salman meninggalkan keduanya dan memilih masuk ke kamar.
Tidak ada lagi yang perlu dikatakan, semua sudah sangat jelas. Salman hanya bisa menangis menyesali keadaan yang semakin pelik.
"Saka tidak mau pulang, Ma. Saka ingin tinggal sama Papa." tangis bocah itu pecah di telinga Safia, dia memberontak sehingga Safia terpaksa melepaskannya.
"Papa..." teriak Saka lalu berlari menyusul Salman ke kamar.
Saka berhamburan memeluk tubuh Salman yang tengah terduduk lesu di kaki ranjang, ayah dan anak itu saling memeluk mencurahkan segala air mata yang tersisa.
Dari ambang pintu, Safia ikut menangis melihat keduanya. Safia menyesal membentak Salman karena kesalahan yang tidak dia buat.
"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa mewujudkan keinginan Saka. Saka pulang sama Mama ya, jangan buat Mama sedih lagi. Mama sangat sayang sama Saka, Mama tidak akan bisa hidup tanpa Saka." isak Salman membujuk putranya.
"Tapi, Pa-"
"Ingat Nak, surga itu di bawah telapak kaki ibu. Turuti kemauan Mama, jangan menjadi anak durhaka!" imbuh Salman.
"Papa tidak apa-apa, pergilah!"
Salman melepaskan pelukannya setelah berhasil membujuk Saka.
"Pergilah, bawa Saka bersamamu!" ucap Salman pada Safia yang masih berdiri di ambang pintu. Salman membuang muka, dia tidak sanggup melihat kepergian mereka.
Dengan berat hati, Saka terpaksa menggenggam tangan sang mama. Kepalanya tidak lepas memandangi Salman yang sama sekali tidak mau melihatnya.
"Ayo!" ajak Safia lalu menarik Saka menuju pintu utama.
Setelah keduanya menghilang, Salman menumpahkan seluruh air matanya. Dia pikir hubungan mereka akan membaik setelah kejadian semalam, tapi ternyata kenyataan tak seindah harapan.
Setengah jam kemudian, Salman menyeka wajah kasar lalu bangkit dari duduknya, dia membuka pintu lemari dan mengemas pakaiannya.
"Mau kemana?"
Salman terperanjat dan sontak menoleh ke arah pintu, matanya terbuka lebar mendapati Safia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Safia lagi.
Salman mengerjap dan mengalihkan pandangannya ke arah koper, dia menyibukkan diri menyusun pakaian tanpa menjawab pertanyaan Safia.
Ya, tadinya Safia sudah pergi meninggalkan perumahan. Melihat dan mendengar tangisan putranya yang mengiris relung hati, Safia pun urung membawa Saka pulang, dia memutar stir dan kembali ke tempat itu.
"Apa kamu ingin meninggalkan kami lagi?" imbuh Safia seraya berjalan mendekati Salman.
Salman menitikkan air mata dan cepat-cepat menyapu pipinya.
"Apa kamu ingin meninggalkan kami lagi?" sergah Safia meninggikan suara.
"Ti-tidak, a-aku..." Salman memberanikan diri menatap mata Safia. "Ini yang terbaik, aku tidak ingin melihat Saka membuatmu sedih lagi."
Safia tersenyum kecut mendengar ucapan mantan suaminya itu. "Apa kamu yakin kepergianmu akan membuat kami bahagia?"
"Hmm..." angguk Salman.
Bug...
Tiba-tiba saja tangan Safia mendarat di dada Salman dengan pukulan keras bertubi-tubi. Salman diam saja, dia merasa pantas mendapatkan pukulan itu.
"Bodoh, sepertinya kepalamu sudah tidak berfungsi dengan baik." umpat Safia lalu menenggelamkan wajahnya di dada Salman, dia memeluknya erat.
"Bukan ini yang Saka inginkan, kepergianmu hanya akan membuat Saka semakin menderita." lirih Safia mencakar kuat punggung Salman.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menyakitimu lagi, kamu lebih berhak atas Saka. Kehadiranku hanya akan membuatnya semakin bingung, pilihan ini sangat sulit baginya." jelas Salman, dia ingin mendekap Safia tapi tangannya tidak berani menyentuh wanita itu.
"Nikahi aku, dengan begitu Saka tidak perlu memilih!" pinta Safia dengan penuh penekanan.
Deg...
Salman terkesiap dengan jantung bergemuruh kencang, rasa ngilu menjalar hingga nadinya.
Apa yang baru saja dia dengar? Apa telinganya sedang bermasalah?
"A-apa yang kamu katakan?" tanya Salman terbata-bata, rasanya sangat sulit dipercaya.
"Nikahi aku, Salman! Nikahi aku!" tegas Safia, lalu menggigit dada Salman sekuat tenaga untuk melepaskan rasa kesal di hatinya.
__ADS_1
Salman meringis menahan sakit, namun dia berusaha tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal dadanya terasa sangat panas bak digigit semut rangrang.