
Salman mengerang hebat sesaat setelah berhasil membuat Safia melayang tinggi di udara. Akhirnya rasa itu terbayarkan sudah, Salman mendekap Safia erat di dalam selimut yang sama.
"Kamu jahat, kamu-"
"Ya, aku memang jahat." potong Salman sebelum Safia berhasil menyelesaikan ucapannya. Safia menutup mata menahan rasa sakit yang kembali Salman perbuat padanya. Dia tidak ingin dijadikan istri pelampiasan hasrat semata.
"Aku membencimu, sangat." lirih Safia menitikkan air mata yang sudah tidak bisa lagi dia bendung.
"Ya, aku tau itu. Dan aku akan membuatmu kembali mencintaiku seperti sebelumnya." jawab Salman sambil mengusap punggung Safia.
"Jangan mimpi, itu tidak akan pernah terjadi!" ketus Safia berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Salman terlalu kuat sehingga sulit baginya untuk menghindar.
"Kita lihat saja nanti, sekarang tidur saja dulu!" balas Salman enteng sembari mengulas senyum kemenangan.
Salman berpikir ingin membuat Safia hamil secepatnya, dengan begitu pernikahan mereka akan terselamatkan dari perpisahan yang diinginkan Safia.
Begitu juga dengan warisan yang jelas sudah menjadi hak mereka berdua, Salman tidak ingin membagi harta itu, lebih baik semuanya tetap seperti semula. Semua itu nantinya akan jatuh ke tangan buah hati mereka.
Mungkin sekilas terkesan egois, tapi Salman tidak mempunyai pilihan lain. Dia hanya ingin menjaga amanat yang sudah dititipkan sang ayah padanya.
"Aku tidak mau tidur, tolong lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini." pinta Safia dengan nada memohon sembari menggerakkan tubuhnya yang diapit oleh Salman.
"Kita pulang ya!" ajak Salman melembutkan suara.
"Tidak mau," tolak Safia dengan tegas dan lantang.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku juga akan tetap di sini sampai kamu benar-benar siap untuk pulang bersamaku. Kita akan tinggal di tempat ini sementara waktu," ucap Salman gamblang dan mengecup kening Safia dengan sayang.
"Gila kamu, untuk apa kamu mengekori ku di sini? Pulang saja sendiri, pergilah pada kekasihmu itu!" kesal Safia menatap Salman dengan tajam membunuh.
"Hehehe... Cemburu ya?" seloroh Salman tersenyum lebar.
__ADS_1
"Cemburu kepalamu," umpat Safia kesal, seketika darahnya langsung mendidih hingga ubun-ubun melihat sikap sok manis Salman yang membuatnya ingin muntah.
"Hihi... Manis sekali," ucap Salman yang tak hentinya menggoda Safia.
"Cukup Salman, jangan membuatku marah, atau-"
Safia menghentikan ucapannya saat Salman kembali membungkam bibirnya. Ingin sekali Safia berteriak saking jengkelnya tapi tidak mungkin mengingat posisi mereka yang masih berada di panti asuhan. Safia tidak ingin membuat keributan yang nantinya akan mengganggu kenyamanan anak-anak panti.
"Ya Tuhan, tolong bantu aku menyingkirkan manusia tidak punya malu ini!" imbuh Safia yang sudah pasrah dengan keadaan, dia berharap ada bantuan yang datang dari Sang Pencipta untuknya. Lama-lama dia bisa gila jika terus saja berhadapan dengan suami brengseknya itu.
"Wkwkwk..." Salman tertawa cekikikan melihat muka masam Safia yang sangat menggemaskan.
Ya, entah mengapa makin kesini Salman semakin nyaman berada di samping Safia. Apakah ini pertanda bahwa dia sudah mulai mencintai istrinya itu? Entahlah, hanya dia dan Tuhan saja yang tau apa yang dia rasakan saat ini.
"Sudah, jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." imbuh Salman mendekap Safia erat di dadanya lalu mencium pucuk kepala Safia dengan sayang.
"Biarin, mau tua, mau peot sekalipun, bukan urusanmu!" tukas Safia yang sudah pasrah dengan keadaan. Sekuat apapun dia mencoba menghindar, Salman tetap saja bersikukuh ingin mempertahankan dirinya. Safia tidak tau lagi bagaimana cara menyikapi masalah ini.
Melihat Safia yang sudah tertidur di pelukannya, hati Salman mencelos, dia terenyuh memandangi muka polos istrinya.
Salman sadar dan mengerti kesakitan yang dirasakan Safia ulah perbuatan bejatnya. Dia sendiri sangat merasa bersalah atas kesalahpahaman yang sudah terjadi.
Jika saja dia bisa sedikit bersabar dan mencari tau penyebab kematian ibunya terlebih dahulu, mungkin Safia tidak perlu menderita seperti ini.
Tapi mungkin saja semua ini merupakan takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Tanpa kesalahan itu, tidak mungkin Salman bisa mengetahui siapa Safia sebenarnya.
Salman hanya menyesalkan pertemuan mereka yang didasari dengan kebencian. Dia bersalah karena sudah membuat Safia mencintainya lalu menyakitinya dengan mudah.
"Maafkan aku Safia, aku sungguh menyesal. Aku keliru, aku janji akan membayar lunas semua rasa sakit yang kamu alami. Aku akan belajar mencintaimu, aku akan membuatmu bahagia di sisiku. Ini janjiku, aku akan menepatinya." batin Salman dengan tatapan menggelap mematut wajah Safia, lalu mencium keningnya dan menutup mata perlahan.
...****************...
__ADS_1
"Alex, tolong bantu aku. Aku tidak bisa seperti ini, Salman mencampakkanku, dia lebih memilih wanita itu."
"Maaf Mika, aku tidak bisa membantumu. Ini sudah menjadi pilihan Salman, kamu harus bisa mengikhlaskan semuanya."
"Apa kamu sudah gila? Aku tidak mungkin menerima penghinaan ini dengan mudah, aku tidak bisa."
"Kamu harus bisa, Mika. Salman sudah menikah, apa lagi yang kamu harapkan darinya? Lupakan dia, lanjutkan hidupmu!"
"Tidak Alex, aku tidak mau. Aku tidak akan menyerah, sia-sia aku bertahan dengannya selama beberapa tahun ini. Kamu pikir ini mudah?"
"Aku tau ini tidak mudah, tapi ini sudah menjadi keputusan Salman, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang berani menentang keputusannya? Aku tidak ingin pekerjaanku terancam, kamu tau sendiri bahwa Salman lah yang memberiku akses sampai jadi dokter seperti saat ini. Aku banyak berhutang budi padanya."
"Sial, kalian berdua sama saja."
Plak...
Mika melempar iPone miliknya ke dinding hingga hancur berantakan. Dia sangat marah karena Alex tidak mau membantunya.
Ya, Mika berinisiatif untuk meminta bantuan pada Alex. Dia tau persis bahwa Alex masih mencintainya sampai detik ini, dia pikir Alex pasti mau membantunya untuk mendapatkan Salman kembali.
Namun kini harapannya hancur berantakan, Alex justru menolaknya dengan alasan pekerjaan. Mika benar-benar murka dan kembali menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Dia benar-benar frustasi dan terlihat seperti orang kesurupan.
Selama ini dia merasa bahwa Salman sudah mantap memilih dirinya. Mereka bahkan sudah tinggal bersama selama beberapa tahun terakhir dan sudah merencanakan pernikahan.
Meskipun begitu, sampai detik ini Salman tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Dia bahkan sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membangkitkan li*bido Salman tapi tak pernah berhasil memikatnya.
Dia pikir mungkin Salman belum siap sebelum menghalalkan dirinya, dia pun mencoba memahami itu.
Kini Mika hanya bisa menyesali kebodohannya yang hakiki, dia terlalu penurut sehingga lupa mengikat Salman agar tetap berada di sisinya.
"Aaaaaah... Brengsek, kalian berdua sama saja, tidak punya hati." teriak Mika lantang hingga menggema di setiap sudut ruangan.
__ADS_1
Dia kemudian menyambar tas selempang yang terletak di atas sofa, lalu meninggalkan apartemen dengan muka kusut dan rambut acak-acakan. Dia bahkan tidak peduli pada orang-orang yang menatapnya sambil tersenyum mengejek. Baginya hal itu tidak penting, dia hanya ingin Salman kembali padanya dan menikahinya sesuai janji yang pernah Salman ucapkan sebelumnya.