
"Ma, apakah Saka sudah sembuh?" tanya bocah laki-laki itu sesaat setelah bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali.
Barusan bocah itu bermimpi bertemu dengan sosok laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya. Dia pikir mimpi itu nyata, namun saat terbangun tidak seorang pun yang berada di sampingnya kecuali Safia.
Seketika tatapan Saka berubah sendu, jelas raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Dia mematut Safia dengan sorot mata tajam seakan tak percaya atas apa yang dia lihat dengan mata kepalanya.
"Kata Paman itu, ini terakhir kalinya Saka masuk rumah sakit. Setelah ini Saka akan sembuh dan bertemu dengan Papa. Lalu dimana Papa, Ma? Kenapa Papa tidak datang menjenguk Saka? Apa Paman itu berbohong?" cerca bocah berusia tujuh tahun itu dengan sederet pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Safia.
Safia terdiam untuk beberapa saat, dia mencoba menyusun kata-kata agar Saka tidak menanyakan itu lagi padanya.
Safia benar-benar bingung, dia tidak tau harus menjawab apa.
Apakah sudah saatnya Saka tau bahwa Salman lah pria yang dirindukannya selama ini? Safia ragu untuk mengatakan kebenaran pada putranya.
"Saka, Papa pasti datang. Sekarang Saka tidak boleh berpikir macam-macam, Saka harus sembuh dulu, nanti Saka akan tau siapa Papa Saka." jawab Safia memberi alasan yang menurutnya cukup masuk akal, dia mengusap rambut bocah laki-laki itu untuk menenangkannya.
"Tapi Ma, Saka ingin tau sekarang." desak bocah itu. Dia tidak mau menunggu lagi, sudah terlalu lama dia bersabar, dia tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin sekali bertemu sang papa dan memeluknya, mencurahkan segala rasa yang dia pendam selama ini.
"Iya sayang, Mama tau, tapi-"
"Katakan Ma, Papa dimana? Kalau Mama tidak mau bicara, Saka akan pergi dari sini, Saka bisa kok mencari Papa sendirian."
Saka bangkit dari pembaringan dan berusaha turun dari brankar, beruntung Safia dengan cepat mencegahnya.
"Iya, sayang. Mama akan membawa Papa ke sini, Saka sabar dulu ya, Saka bobok lagi ya!" ucap Safia sembari membantu Saka berbaring kembali.
Sepertinya tidak ada cara lain lagi selain memberitahu Saka tentang siapa Salman sebenarnya, bagaimanapun Saka berhak tau siapa ayahnya. Safia juga tidak tega menyembunyikan kenyataan ini terlalu lama.
__ADS_1
"Saka tunggu di sini dulu ya, Mama mau keluar sebentar, Mama akan membawa Papa ke sini." bujuk Safia sembari mengusap kepala putranya dengan sayang, dia akan menemui Salman dan membawanya menemui Saka.
"Mama tidak bohong, kan?" tanya Saka memastikan dengan tatapan mengintimidasi.
"Tidak sayang, Mama tidak bohong, Mama janji akan membawa Papa ke hadapan Saka. Tapi Saka juga harus janji sama Mama, siapapun yang Saka lihat nanti, Saka tidak boleh marah apa lagi membenci Papa!" tegas Safia mengingatkan putranya.
Safia yakin Saka pasti terkejut jika melihat Salman nantinya, dia hanya ingin memastikan bahwa Saka akan menerima Salman sebagai ayah kandungnya.
Meski diantara dia dan Salman sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, setidaknya Safia harus mengalah demi kebaikan putranya. Safia tidak ingin Saka kehilangan kasih sayang seorang ayah.
"Iya, Saka janji." angguk bocah itu sembari mengaitkan jari tengah dan telunjuk.
Setelah mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari Saka, Safia pun tersenyum dan meninggalkan ruangan itu barang sejenak. Dia melangkah menuju kamar Salman yang bersebelahan dengan kamar putranya.
Sesaat setelah pintu terbuka, Safia tercengang menyaksikan kamar yang sudah kosong dan rapi, tidak ada jejak pasien yang baru menginap di ruangan itu. Semua tampak seperti kamar yang belum ditunggu sama sekali.
Safia yang tadinya sudah mantap ingin mempertemukan Salman dengan putranya, kini nampak gelisah dengan kepala celingak celinguk ke setiap sudut ruangan, dia menyisir tempat itu sampai ke kamar mandi, memastikan bahwa Salman masih ada di kamar itu.
Namun siapa yang akan menyangka bahwa ternyata Salman benar-benar sudah tidak ada di ruangan itu. Safia menjadi semakin panik mengingat janjinya pada Saka barusan.
Safia tau betul bagaimana sifat putranya, bocah itu tidak akan tinggal diam jika tau bahwa Safia membohonginya.
Baru saja Safia hendak melangkah meninggalkan ruangan, pintu tiba-tiba berderit yang membuat darah Safia mengalir deras.
Setitik harapan tiba-tiba muncul di benak Safia, dia pikir itu Salman, namun setelah memutar pandangan ke arah pintu, raut muka Safia kembali menggelap seiring perasaan kecewa yang sangat dalam.
Bukan Salman, akan tetapi malah Alex yang muncul di hadapannya. Pria itu menghampirinya dan berdiri sembari mematut wajah Safia yang menyiratkan kesedihan.
__ADS_1
"Maafkan aku, dia sudah pergi. Aku tidak berhasil mencegahnya, dia bersikeras meninggalkan rumah sakit meski keadaannya masih sangat lemah. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan kalian berdua, dia juga minta maaf karena pergi tanpa berpamitan." lirih Alex merasa bersalah karena gagal menahan Salman untuk tetap berada di rumah sakit itu.
"Kenapa kamu tidak mencegahnya?" bentak Safia dengan suara yang tiba-tiba meninggi, dia marah dan kecewa pada Alex.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku-"
"Percuma minta maaf padaku. Kamu pikir dengan minta maaf semuanya bisa diulang kembali, hah?"
Safia diam sejenak, dia terduduk lesu di tepi brankar seiring air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi, dia merasa gagal menepati janji pada Saka.
"Apa yang harus aku katakan pada Saka? Putraku sangat ingin bertemu dengan ayahnya," imbuh Safia tersedu menangisi kepergian Salman yang sangat mengejutkan.
Bukan tanpa alasan Safia menangis seperti ini. Dia tau Salman bukan lagi suaminya, akan tetapi hubungan ayah dan anak tidak akan bisa putus meski keduanya sudah tak lagi bersama.
Sudah sejak lama Saka berharap bisa berjumpa dengan sang ayah. Namun ketika hari itu tiba, kenapa Salman justru pergi untuk yang kedua kalinya?
Tidak hanya marah pada Alex, Safia juga kesal pada Salman yang selalu saja pergi tanpa bicara dulu padanya. Tidakkah Salman menyayangi Saka walaupun hanya sebesar biji bayam?
Apa Salman tidak pernah berpikir bahwa Saka juga membutuhkan sosok ayah di sampingnya? Kenapa Salman selalu saja bertingkah sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain?
Dengan mata yang sudah sembab setelah membuang tangisan, Safia bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu terburu-buru. Bahkan kehadiran Alex sudah tidak ada artinya lagi di matanya.
Safia kemudian berlarian sepanjang koridor tanpa memikirkan pandangan orang-orang yang mengarah padanya. Dia berharap masih bisa menyusul Salman dan mencegahnya untuk pergi.
Namun semua usaha yang dilakukan Safia hanya berakhir sia-sia, tidak ada lagi jejak Salman yang tertinggal di rumah sakit itu, bahkan CCTV pun tidak bisa memperlihatkan apa-apa.
Salman sudah mengatur kepergiannya dengan sangat rapi sehingga tidak akan ada yang tau kemana dia pergi.
__ADS_1
Safia sendiri hanya bisa menangis di ruang monitor. Dia benar-benar kecewa dan memaki Salman dengan kata-kata yang cukup kasar. Dia bersumpah akan membunuh pria itu jika bertemu lagi dengannya.