Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 31.


__ADS_3

"Astaga, dicariin kemana-mana, ternyata malah di sini."


Seorang pria berperawakan tinggi kekar dengan tubuh proporsional menghampiri Salman yang tengah duduk di sebuah bar. Pria itu menarik kursi dan duduk di samping Salman.


"Hmm... Ada apa?" tanya Salman santai sambil memegang gelas kecil berisi minuman.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin curhat sedikit. Itupun kalau kau bersedia mendengarkannya."


"Masalah wanita lagi?"


"Hehe... Tau saja kau ini,"


"Bagaimana tidak? Kucing garong sepertimu tentu saja hanya ingin membahas masalah itu."


"Kucing garong itu sudah berubah menjadi kucing dapur, jinak dan sangat manis."


"Preet... Kau pikir aku percaya?"


"Seharusnya iya,"


"Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi. Aku tidak punya banyak waktu,"


"Ceilah, buru-buru banget sih. Apa ini ulah wanita itu? Hebat juga dia, bisa merubah orang hutan menjadi anak monyet. Kapan-kapan, coba kenalkan aku pada istrimu itu. Aku ingin tau seberapa menariknya dia sehingga bisa merubah mu menjadi patuh seperti ini."


"Tidak akan, aku tidak mau istriku bertemu dengan pria hidung belang sepertimu. Kau itu tidak punya otak,"


"Hahaha... Tapi sekarang otakku sudah berfungsi dengan normal, semua itu karena seorang wanita yang membuatku tergila-gila."


"Wanita lagi?"


"Tentu saja, tapi kali ini berbeda. Aku sangat tertarik padanya, dia tidak seperti wanita-wanita yang aku kenal sebelumnya, dia sangat istimewa."

__ADS_1


"Hmm..."


Begitulah bunyi percakapan Salman bersama seorang teman yang sudah cukup lama tidak bertemu.


Ya, pria itu bernama Hendrik, dia pernah satu kelas dengan Salman saat mengecap bangku pendidikan menengah atas. Mereka cukup akrab, namun sempat berpisah saat pria itu melanjutkan studinya di luar negeri.


Beberapa tahun yang lalu mereka berdua tidak sengaja bertemu saat melakukan perjalanan bisnis di negeri tetangga, sayang Salman kurang respek setelah tau bahwa Hendrik merupakan seorang playboy yang suka mempermainkan perasaan wanita.


Sejak saat itu, keduanya tidak pernah bertemu lagi. Hari ini merupakan pertemuan pertama mereka setelah cukup lama tidak berkomunikasi.


"Tunggu sebentar!" Hendrik menarik kursinya sedikit merapat ke arah Salman. "Kenapa mukamu keriputan seperti ini? Apa yang kau pikirkan?" cerca Hendrik setelah menyadari perubahan raut muka Salman yang jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.


"Namanya juga sudah tua, wajar kalau keriput." sahut Salman enteng dengan kening semakin mengkerut.


"Hahaha... Iya juga sih, tapi kau cukup beruntung, diusia segini kau sudah memiliki seorang istri, sementara aku... Aku belum menemukan yang terbaik, kalaupun ada, susah sekali menaklukkan hatinya." ucap Hendrik dengan raut muka putus asa.


"Makanya perbaiki dulu kepribadianmu itu, cukup bermain-main dengan perasaan wanita!" ketus Salman dengan tatapan kesal. Tanpa dia sadari, dia tengah menasehati dirinya sendiri.


"Aku tidak seperti itu lagi, aku sudah tobat, wanita ini membuatku semakin penasaran." terang Hendrik.


"Aku menyukai wanita itu, tapi sikapnya padaku selalu dingin seperti melihat hantu setiap hari." keluh Hendrik, lalu menghela nafas berat. Dia kewalahan menaklukkan hati wanita idamannya yang selalu tertutup saat bersamanya.


"Setiap hari?" lagi-lagi Salman mengerutkan kening mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Iya, wanita itu pernah membantuku saat terluka di sebuah desa. Aku pun membawanya pulang karena saat itu keselamatannya terancam. Namun sampai detik ini, dia tidak pernah menatapku sekalipun, setiap berbicara kepalanya selalu menunduk ke bawah. Apa aku semenakutkan itu?" jelas Hendrik sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Mungkin dia tau bahwa kau bukanlah pria yang baik," jawab Salman yang kembali meneguk minumannya.


"Entahlah, bisa juga ini merupakan karma untukku." Hendrik manggut-manggut menyadari betapa nakalnya dia selama ini.


Disaat banyaknya para gadis yang mengantri mengharapkan cintanya, wanita yang benar-benar dia sukai malah menjauhkan diri darinya. Hendrik tidak mengerti bagaimana cara meluluhkan hati wanita itu.

__ADS_1


"Bersabar saja. Intinya perbaiki dulu dirimu, pada saatnya tiba, cinta itu akan datang dengan sendirinya." ucap Salman yang berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Hendrik, padahal selama satu bulan ini dia nyaris gila memikirkan Safia yang tak kunjung tau dimana keberadaannya. "Sudahlah, aku pulang dulu."


Salman berusaha bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan kembali terduduk di atas kursi.


"Makanya jangan banyak minum!" Hendrik tertawa kecil melihat raut muka Salman yang nampak menyedihkan.


Tidak tega membiarkan Salman yang tengah mabuk berat, Hendrik pun membantunya berdiri dan memapah sahabatnya itu meninggalkan bar.


Setelah menidurkan Salman di bangku belakang, Hendrik kemudian membuka pintu depan dan duduk di bangku kemudi. Tidak lama setelah Hendrik menyalakan mesin, mobil itupun melaju kencang menyusuri jalan raya.


Bukannya mengantar Salman ke kediamannya, Hendrik justru membawa sahabatnya itu ke rumahnya. Dia tidak mau kondisi Salman malah mengundang pertengkaran diantara Salman dan istrinya.


Hanya dalam kurun waktu setengah jam saja mobil Hendrik sudah tiba di garasi. Setelah mematikan mesin, dia turun lebih dulu dan membantu Salman memasuki rumah.


"Dimana ini?" desis Salman dengan suara parau dan mata memerah seperti serigala kedinginan. Dia pun masih menyempatkan diri menatap setiap sudut rumah yang dia pijak.


"Maafkan aku, aku terpaksa membawamu ke rumahku, besok pagi aku akan mengantarmu pulang." sahut Hendrik lalu membawa Salman ke kamar tamu.


"Hmm... Ini cukup bagus," angguk Salman dalam keadaan setengah sadar.


"Tidurlah, aku juga harus istirahat. Besok pagi ada miting penting yang harus aku hadiri."


Setelah membantu Salman berbaring di atas kasur, Hendrik menyelimutinya dan meninggalkannya sendirian. Dia pun masuk ke kamarnya mengingat jam yang sudah stay diangka dua belas.


"Safia, kamu dimana sayang? Kembalilah, aku mohon, aku sangat merindukanmu. Aku rasanya ingin mati menanggung rasa rindu ini sendirian, tolong pulanglah!" gumam Salman dengan mata tertutup rapat. Setetes bongkahan bening tiba-tiba jatuh di sudut matanya.


Sudah satu bulan Safia menghilang dan sejak saat itu Salman seperti kehilangan kewarasan. Setiap malam kerjaannya hanya minum-minum untuk menutupi rasa sedih yang bersemayam di hatinya.


Salman sudah tak lagi seperti dulu. Semangat kerjanya menurun, gairah hidupnya ikut lenyap seiring kepergian Safia yang tak tau dimana rimbanya.


Dunia Salman berubah gelap, dia tidak memiliki semangat lagi untuk melanjutkan hidup.

__ADS_1


Kian hari hanya Safia dan Safia saja yang terlintas di benaknya. Beberapa kali Mika mencoba menemuinya tapi Salman selalu mengusir wanita itu. Tidak ada tempat lagi di hatinya untuk wanita lain kecuali Safia yang sudah mengacak-acak perasannya.


Andai saja waktu bisa diulang, Salman tidak akan pernah menyakiti Safia sedalam itu. Namun nasi sudah terlanjur jadi bubur, enak tidak enak Salman terpaksa menelannya seorang diri.


__ADS_2