
"Safia, aku ke kantor dulu, ada meeting penting yang harus aku hadiri pagi ini. Oh ya, di kamar tamu ada sahabatku, nanti kalau dia bangun, tolong bilang padanya bahwa aku sudah pergi!" ucap Hendrik pada Safia sesaat setelah menyantap sarapan pagi yang terhidang di atas meja.
Pria itu sudah sangat rapi dengan setelan jas berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Meskipun begitu, Safia sama sekali tidak mau menatapnya. Bagi Safia ketampanan seseorang bukanlah tolak ukur, dia selalu saja menundukkan pandangan saat berbicara dengan pria itu.
Safia tau siapa dia dan bagaimana posisinya di rumah itu, dia tidak ingin dianggap memanfaatkan kesempatan, apalagi dia sama sekali tidak tertarik pada pria itu.
Bagi Safia, Hendrik tidak lebih dari seorang majikan. Meski pria itu sudah melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah, tetap saja Safia bersikukuh dengan pendiriannya.
Dia tidak mau menumpang gratis tanpa melakukan apa-apa, apalagi dia sangat senang mengerjakan pekerjaan rumah, dengan begitu pikirannya pada Salman bisa sedikit teralihkan.
Namun siapa sangka ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor, sejauh manapun Safia mencoba menghindar, kini takdir malah membuat mereka berada di bawah satu atap yang sama. Entah apa yang akan terjadi jika kedua insan itu kembali bertemu?
Mungkin bagi Salman hal itu akan menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupnya, akan tetapi bagaimana dengan Safia?
Apa wanita itu akan senang jika bertemu lagi dengan suaminya, atau malah sebaliknya?
Setelah Hendrik berlalu pergi meninggalkan rumah, Safia bergegas membereskan meja makan dan menaruh piring kotor di dapur. Seorang pelayan mengambil alih pekerjaan Safia dan mencuci piring itu.
"Mbak, aku ke kamar sebentar ya. Nanti kalau sahabat Tuan sudah bangun, tolong katakan padanya bahwa Tuan sudah ke kantor!" ucap Safia dengan pandangan berkabut.
Ya, dua hari ini tubuh Safia sepertinya sedang tidak sehat. Kepalanya sering pusing dan perutnya terasa begah, namun entah mengapa selera makannya semakin meningkat seperti orang yang sudah berhari-hari tidak makan.
Terkadang dia merasa malu ketika menemani Hendrik makan, dia sendiri tidak tau entah apa yang membuatnya berubah menjadi sangat rakus.
Setelah Wati sang pelayan menyanggupi permintaannya, Safia pun meninggalkan dapur terburu-buru.
Namun saat kakinya mendekati pintu kamar tamu, tiba-tiba darah Safia berdesir, jantungnya yang tadi normal seketika berdetak kencang seperti tengah mengikuti lomba lari.
Sesak?
Ya, dada Safia mendadak sesak sehingga sulit baginya untuk bernafas. Dia terperangah di sisi lemari dan menumpukan sebelah tangannya di sana. Dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, sakit sekali." rintih Safia sembari mengurut dada. Selama yang dia tau, dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, tapi kenapa tiba-tiba saja semuanya terasa begitu menyakitkan?
Saat Safia masih diam di samping lemari pajang, tiba-tiba telinganya mendengar suara kenop pintu yang ditekan lalu pintu itu berderit dengan sangat jelas.
Safia yang sebenarnya tidak sanggup berjalan, terpaksa menguatkan diri untuk melangkah ke kamar yang ada di sebelah. Safia tidak ingin orang lain melihat keadaannya.
"Hei," seru Salman ketika sudut matanya tidak sengaja menangkap punggung Safia, hitungan detik saja wanita itu langsung menghilang yang membuat Salman mengerutkan kening bingung.
Meski semalam Salman mabuk, tapi dia masih bisa mengingat ucapan Hendrik saat di bar. Dia pikir mungkin wanita itulah yang dimaksud sahabatnya, namun sayang Salman tidak sempat melihat wajahnya.
"Wanita aneh," gumam Salman geleng-geleng kepala, lalu meninggalkan tempat itu dan masuk ke ruang makan.
Baru saja Salman menempelkan bokongnya di kursi, Wati langsung menghampirinya dan menanyakan minuman apa yang diinginkan sahabat majikannya itu. "Mau minum apa, Tuan?"
"Kopi saja," sahut Salman santai, namun matanya masih mengarah pada pintu kamar yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Ya, Salman sangat penasaran pada wanita itu. Secantik apakah dia sehingga mampu meluluhkan hati playboy kelas teri seperti sahabatnya Hendrik.
"Siapa wanita tadi?" tanya Salman pada Wati yang baru saja kembali membawakan secangkir kopi.
"Wanita yang mana, Tuan?" tanya Wati balik.
"Itu, yang tadi masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar tamu." jelas Salman.
"Oh, itu Nona Safia. Temannya Tuan Hendrik," jawab Wati apa adanya.
"Safia?"
Darah Salman tiba-tiba mengalir deras memacu detak jantungnya yang tiba-tiba berdenyut secepat badai topan. Mendengar nama itu saja sudah membuatnya ingin mati berdiri seketika itu juga.
"Kamu yakin namanya Safia?" tanya Salman memastikan dengan tatapan tajam menyiratkan rasa penasaran yang begitu besar.
__ADS_1
Apa mungkin Safia yang dimaksud adalah istrinya? Tapi bagaimana mungkin Safia bisa tinggal serumah dengan Hendrik?
Bukankah kata Hendrik wanita itu ditemuinya di desa? Apakah Safia sampai sejauh itu melarikan diri darinya?
"Tu-tuan mau kemana?" seru Wati saat Salman tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan begitu saja. Dia bahkan belum sempat menyeruput kopi yang dibuatkan Wati untuknya.
Karena rasa penasarannya yang begitu tinggi, Salman tak lagi peduli pada Wati. Dia terus saja berjalan sampai kakinya mendekati pintu kamar Safia.
Salman mengetuk pintu itu pelan, sayang tidak ada sahutan dari dalam sana.
Meskipun begitu, Salman masih enggan menjauhi pintu itu. Dia menumpukan satu telapak tangan pada kusen, dia tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui siapa wanita itu sebenarnya.
Salman terus saja mengetuknya, lagi-lagi Safia tidak menyahut sama sekali.
Salman kemudian menekan kenop dan mencoba mendorong pintu itu, akan tetapi ternyata pintu itu malah terkunci dari dalam, Salman tidak mengerti bagaimana cara agar bisa masuk dan memastikan siapa wanita itu sebenarnya.
"Safia, tolong buka pintunya! Apa ini kamu? Apa kamu istriku? Tolong Safia, ini aku Salman, suamimu." seru pria itu lirih, dia sudah kehilangan akal karena harapan yang begitu besar di hatinya.
Salman berharap wanita itu benar-benar istrinya Safia, dia tidak bisa meninggalkan rumah itu sebelum mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang membelenggu jiwanya.
Di dalam sana, Safia tiba-tiba terhenyak di sisi ranjang, dia bisa mendengar dengan jelas apa yang Salman katakan barusan.
Seketika dada Safia kembali ngilu hingga rasa sesak pun kian mendera, sulit baginya untuk bernafas dengan normal.
"Maafkan aku Mas Salman. Aku memang istrimu, tapi aku tidak bisa menemui mu, aku sudah kalah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." batin Safia dengan mata berbinar menahan cairan yang tiba-tiba menggenang di kelopak mata.
Meski rasanya terlalu berat, Safia berusaha menguatkan dirinya dan meyakinkan bahwa hubungan mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Untuk apa? Semua sudah terlanjur rusak akibat kecerobohan Salman sendiri. Andai saja Salman tidak menyakitinya sampai sedalam ini, mungkin Safia akan sangat bahagia membukakan pintu untuknya.
Akan tetapi keadaan sudah tak lagi sama, Safia harus ikhlas menerima kenyataan bahwa Salman bukan jodohnya. Safia juga yakin suatu saat nanti mereka berdua akan bahagia dengan pilihan masing-masing.
__ADS_1
Walau pada dasarnya Safia sudah tidak mempunyai semangat lagi membuka hatinya untuk pria manapun, dia menyerah.