
Aku pulang berjalan kaki sembari membeli martabak telor kesukaan lastri.
"Bang, martabak telor spesialnya 1 ya"
"Siap bu, silahkan duduk"
"Huftt.. hari ini sungguh melelahkan. Semoga lastri udah sehat dan gak digangguin lagi" gumamku dalam hati
"Bu, ini martabaknya" kata abang martabak sambil ngasih bungkus martabaknya
"Berapa bang?"
"35 ribu saja bu"
"Uang pas ya bang, trimakasih"
***
"Assalamualaikum" ucapku pelan
"Sepi sekali, apa lastri lagi tidur?"
Aku langsung menuju kamar mandi belakang dan mengambil air wudhu untuk sholat maghrib.
Setelah sholat kulanjutkan dengan membaca al-quran sampai adzan sholat isya berkumandang.
Allahu akbar .. Allahu akbar
"Kok lastri belum bangun ya, lebih baik aku sholat isya dulu baru nanti kubangunkan dia"
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Lailahaillallah wahdahulah syarikalah wa..
"Arghh .. tidak-tidak jangan sakiti saya, saya minta maaf, pergi.."
__ADS_1
"Astaghfirullah lastri" cepat-cepat aku beranjak dan masuk kekamar lastri
"Astaghfirullahalladzim"
Kulihat ada jin berkepala kerbau sedang duduk didada lastri, dia ingin mencekik leher lastri.
Dengan cepat kubacakan "la hawla wala quwwata illah billah" dan kuarahkan tasbihku ke setan itu. Seketika dia menghilang dan langsung aku bangunkan lastri.
"Tri, bangun.. bangun tri"
lastri seketika terbangun dan langsung memelukku.
"Sar, aku takut. Ada lelaki yang ingin membunuhku.. "
"Kamu tenang tri, udah gak apa-apa sekarang" kataku sambil mengusap punggung lastri
Aku kaget ketika aku melepas pelukanku, kulihat tangan lastri lebam.
"Tangan kirinya lastri membiru, gak salah lagi dia memang diganggu dan bukan bunga tidur"
"Sekarang kamu cuci muka dulu tri, kamu pasti belum makan kan? Aku beli martabak telor kesukaan kamu"
Aku kembali kekamar dan melepas mukenahku. Ku lihat ada pesan masuk dari anakku.
"*Ibu aku kangen, kalau udah gak sibuk telepon aku ya bu"
"Iya nak, nanti ibu telepon seperti biasa ya jam 9 malam" balasku*
"Sar, ayo kita makan. Aku tunggu diruang tv ya.." teriak lastri
"Iya, tunggu sebentar"
Kuambil honor merias tadi dari tas.
"Ini tri, honor rias tadi. Belum aku lihat dikasih berapa" kataku menyerahkan amplop ke lastri
__ADS_1
"Tidak usah sar, ini kan kerja keras kamu. Jadi ini hak kamu"
"Kan kita partner tri"
"Udah simpen aja, buat tambahan sekolah anakmu dikampung. Udah simpen, ini martabaknya dianggurin dari tadi" senyum lastri
"Makasih ya tri, kamu selalu baik sama aku" senyumku balik
"Tadi ada cerita horor apa?" lanjut lastri sambil menguyah martabak
Aku menoleh kearah lastri dan ku ceritakan apa yang aku alami tadi sore. Lastri mengangguk dan menatapku serius, tak lupa mulutnya selalu menguyah martabak.
"Aku boleh nanya sesuatu sar"
"Boleh, mau nanya apa sar?" kataku sambil menenggak air putih
"Apakah hantu atau apalah itu bisa menuntut balas dendam kepada manusia?"
Seketika aku tersedak, tak pernah lastri mau tahu tentang dunia ghaib. Yang ada dia tidak percaya.
"Bisa saja sih tri, makanya ada arwah penasaran ya itu sebabnya. Mungkin ada hal yang masih belum dia selesaikan didunia. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" kataku sambil mengeryitkan dahi
"Sejak kamu ikut denganku, banyak hal aneh yang terjadi. Seperti sudah takdirnya harus seperti itu"
"Maksudnya?" aku menghentikan menguyah martabak
"Kamu ingat waktu kamu bertanya dimana saudara kembar aku "kasman". Dan aku jawab dia sudah meninggal.." lastri menghela napas
"Iya, terus hubungannya apa?"
"Aku mau cerita sedikit tentang kematian kasman"
"Kasman kecil dulu gagah seperti lelaki pada umumnya. Tapi semenjak 2 tahun dia tinggal di jakarta dia berubah seperti perempuan. Sebut saja banci. Dan dia juga yang mengajakku dan mengajariku merias jenazah. Dandanan kami selalu sama bahkan baju pun kembaran. Suatu hari ada panggilan merias jenazah disalah satu perumahan elit. Jenazah perempuan itu mengenakan perhiasan yang mewah. Aku khilaf dan mengambil kalung perempuan itu sedangkan cincinnya aku ambil dan aku masukkan ke tas kasman untuk berjaga-jaga jika ketahuan nanti maka kasman yang ditangkap. Benar saja tak berapa lama setelah kami pulang, kami dikejar polisi utusan keluarga itu. Berulang kali kasman memberi alasan bahwa bukan dia yang mencuri, dia juga menuduhku kalau akulah yang mengambil perhiasan itu. Aku diam dan membiarkan saudaraku satu-satunya mendekam dipenjara. Selang seminggu aku diberitahu polisi bahwa kasman bunuh diri di selnya sendiri"
"Dan akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentang kasman sar. Bahwa aku harus mendapat balasan setimpal atas perbuatanku" kata lastri menundukkan kepalanya
__ADS_1
Aku menghela napas dan aku kaget melihat jin berkepala kerbau itu menyeringai didepan kamar lastri.
"Kau harus mati lastri"