
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam akhirnya aku sampai dikota. Tak banyak yang kami lakukan selama dimobil. Yosi dan alifah pun tertidur pulas selama perjalanan. Mungkin karena mereka kemarin bermain cukup puas saat di air terjun.
"Bu, rumah mbak diana dimana? Belum terlewat bukan?" tanya desta kepadaku
"Belum kok.. Ini hanya lurus saja mengikuti mengikuti jalan nasional. Masih sekitar 7 km melewati jalan nasional. Ibu tidak tertidur nak" kataku kepada desta
Tiba-tiba yosi mengigau ditengah mimpinya.
"Ibuk... Ini mbah lastri bilang supaya kita minum teh sebentar dirumah anaknya. Belicik nihh, telinga yosi juga ditiup melulu" yosi menggaruk telinganya karena risih.
Seketika aku menoleh ke arah yosi dan memandang lastri yang tiba-tiba menghilang.
"Oh iya, ibu sudah menelpon mbak diana belum? Nanti dia sudah menunggu diterminal bagaimana" tanya ana
Hampir saja aku melupakan diana. Cepat-cepat aku mengambil handphone dan menghubungi diana.
tut tut tut
"Halo bu Sarti, sudah sampai dimana? Kira-kira jam berapa sampai diterminal?" tanya diana di telepon
"Ibu sudah hampir sampai nak, ini sudah sampai jalan sudirman. Oh iya, ibu diantar dengan anak ibu langsung kerumah nak diana. Jadi nak diana tidak perlu repot-repot menjemput ibu diterminal" kataku menjelaskan
"Syukurlah kalau seperti itu bu. Hati-hati dijalan ya bu" kata diana menutup telepon
Lalu aku meletakkan kembali handphone didalam tas.
"Mbah, apakah masih lama kita sampai dirumah tante diana? Alifah ingin pipis sudah tidak tahan lagi" kata alifah sambil menggerak-gerakkan kakinya
"Ia alifah sabar ya sebentar lagi kita akan sampai dirumah tante diana. Zaini itu disamping kanan ada gapura besar belok ke kiri ya" Kataku menerangkan jalan kepada zaini
__ADS_1
"Lurus saja nanti ada rumah kuning berpagar putih itu dia rumahnya diana" kataku kembali
Akhirnya kami sampai dirumah diana. Aku menurunkan barang dan oleh-oleh untuk diana.
"Biar saya saja bu yang membawanya" kata zainal
Aku pun mengangguk pelan dan membuka pagar rumah diana. Rupanya si empu pemilik rumah sudah menunggu kami didepan pintu.
"Ayo-ayo pada masuk dulu dinikmatin dulu jamuannya" kata diana mempersilahkan kami untuk masuk
"Tante aku boleh pinjam kamar mandinya tidak?" kata alifah sambil memegang kedua kakinya
"Boleh dong.. Kamu nanti lurus terus ke kiri ya" terang diana
"Mau ditemani ibu tidak?" kata ana memandang alifah
"Tidak perlu bu, alifah kan sudah besar" kata alifah setengah berlari menuju kamar mandi
Diana menjamu kami makanan yang sangat lengkap, mulai dari makanan ringan hingga cemilan berat yang aku yakini diana membelinya semua. Diana sadar bahwa dia tidak akan memberi kami makan yang tidak halal.
Diana mempunyai dua orang anak dan dua-duanya perempuan. Mereka mengajak yosi dan alifah bermain boneka dikamarnya. Jadi kami yang orang dewasa dapat berbicara sedikit lebih lega.
"Diana, ibu mau memperkenalkan anak dan menantu ibu. Disamping ibu ini ana dan suaminya, yang duduk dikursi sana desta dan suaminya" kataku memperkenalkan
"Salam kenal ya. Oh iya ibu berangkat jam berapa tadi?" tanya diana
"Kami tadi berangkat jam 7an mbak dari rumah" sahut desta
"Mbak diana, mohon maaf saya ingin menanyakan perihal tempat tinggal untuk ibu saya itu berupa kosan atau kontrakkan kecil?" Tanya ana memandang diana
__ADS_1
"Oh iya saya sampai lupa memberi tahu bu. Tidak jauh dari rumah saya ini ada rumah milik teman saya yang sedang tidak ditempati, kamarnya ada 3"
"Atau ibu lebih memilih tinggal dikosan? Ada juga yang kosong" tambah diana
"Untuk rumah kontrakkan, harga per tahunnya berapa nak diana?" tanyaku pada diana
"Harga setelah tawar-menawar jadinya 6 juta bu, lumayan kan untuk tinggal dikota besar seperti ini. Awal harganya sekitar 8 jutaan bu" kata diana lagi
"Mungkin lebih baik aku tinggal dikosan dulu sementara menunggu kelulusan maya 5 bulan lagi" gumamku dalam hati
"Bu, bagaimana ibu mau tinggal dikontrakkan?" kata desta mengagetkan aku
"Ibu sih setuju dengan harga kontrakkannya tapi ibu mau menunggu adik-adikmu datang. Ibu tidak mau tinggal sendirian" kataku pelan
"Saya juga kalau jadi ibu tidak ingin tinggal sendirian. Saya jadi heran bu, mengapa dulu ibu saya mau tinggal dikontrakkan sendirian waktu sebelum ibu datang" sahut diana
Tiba-tiba lastri datang berdiri disamping diana. Dia tersenyum ke arahku. Kali ini dia menampakkan wajah yang bersinar dan berbau wangi.
"Kok tiba-tiba saya merinding ya. Ada yang ikut merasakan?" kata diana mengusap-usap leher dan tangannya
"Memang ada yang beldili di sebelah ante" ceplos yosi
"Ustt.. Jangan bilang yang aneh-aneh" kata desta menggendong yosi yang keluar dari kamar.
"Tapi aku tidak belbohong bu, malah sekalang dia lagi menguping pembicalaan kita" bisik yosi
Aku lalu memegang jemari diana seraya berkata
"Kamu harus selalu mendoakan mendiang ibumu dan maafkan kesalahannya dimasa lalu. Dia hadir bersama kita saat ini dan kamu tidak perlu takut" kataku menatap diana
__ADS_1
Diana tersenyum padaku dan mengusap air disudut matanya.
"Ibu, kau memang punya salah tapi aku tidak berhak menghakimi penuh atas kesalahanmu. Karena setiap orang berhak untuk dimaafkan". Diana