
Langkah kaki Susan begitu cepat padahal ia mengenakan wedges dengan tinggi 7 cm. Ia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan santainya seperti ia sudah tahu seluk beluk ruangan yang ada dirumah sakit ini. Setiap lorong yang melewati bagian depan kelas perawatan maka bertambah juga barisan dibelakang Susan.
"Nah, kita sudah sampai." kata Susan yang tiba-tiba saja berhenti.
Sekretariat perias jenazah, begitulah tulisan diatas pintu yang aku baca. Paviliun yang terpisah dari bagian rumah sakit ini terlihat begitu wingit dan mempunyai aura yang gelap.
"Aneh. Kok bisa?" tanyaku dengan penasaran. Aku heran dan baru tahu ternyata ada ruangan yang dikhususkan seperti itu.
"Kalau sekretariat ini baru berdiri 2 tahun yang lalu. Sebenarnya ruangan ini dulu ruang hasil visum tapi karena pemilik rumah sakit mendedikasikan untuk berbuat kebaikan jadinya gitu deh." kata Susan merogoh kunci dari tasnya.
Ceklek
Pintu itu terbuka dan kami berdua masuk kedalam. Ruangan ini tak begitu besar seperti dua kamar yang disatukan. Hanya ada meja kecil diatas karpet yang digelar lalu dibatasi gorden tengah dengan dua ranjang kecil yang bersampingan.
Sepertinya ruangan ini sudah digunakan sebagaimana mestinya. Arwah-arwah yang mengikuti Susan berjalan kini berada didalam. Ada yang duduk ditepi ranjang, berdiri dipojokan dan menguping pembicaraan kami. Berdiri disamping kanan dan kiri Susan.
"Ayo duduk dulu Sar, maaf ya tempatnya kecil seperti ini. Sebenarnya aku ingin punya rumah khusus untuk tempat kita berkumpul tapi apa daya dananya belum cukup."
"Dulu sebelum punya tempat sekretariat ini kami dulu hanya bertemu ditempat makan saja. Tapi ya begitulah ... tak semua bisa berkumpul." kata Susan panjang lebar. Susan membuka kardus isi air mineral dalam kemasan dan ia memberikan kepadaku.
"Duh, maaf ya Sar hanya ada minum. Tadi aku lupa membeli jajanan saat diluar."
"Tidak apa, aku bisa mengerti kok." kataku yang sedang menegak air.
"Oh ya, aku boleh minta nomor handphone kamu tidak? Biar kalau ada panggilan merias terdekat rumah kamu aku bisa memberi tahu kamu. Sekalian kalau ada pas ada waktu kumpul kamu bisa datang."
Aku pun mendikte nomor handphone ke Susan. Lalu ia mencoba menelponku untuk memastikan apakah panggilan itu sudah benar. Handphone yang diletakkan didalam tas berdering dan aku mengambilnya. Saat aku mengeluarkan handphone, seketika Susan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun Sar ... ini sudah tahun 2020 loh. Tapi kamu masih saja menggunakan handphone jadul seperti itu."
"Hehehe." kataku yang sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Susan.
"Memang sih terkadang bayaran merias tidak bisa dipatok seberapa banyak." kata Susan lagi
Tak lama kemudian datang 3 orang yang terdiri dari 1 pria dan 2 wanita menenteng kotak sama seperti aku. Mereka masuk dan menyalami kami berdua.
"Ini siapa, San?" kata ibu berambut ikal itu
"Perkenalkan ini anggota baru kita namanya Sarti." kata Susan dengan sedikit penekanan di namaku.
"Oalah anggota baru. Namaku Rita." kata ibu berambut ikal itu
"Panggil pak Noto saja." kata bapak tersebut
"Kalau saya Jeni." Ini ibu terakhir yang aku salami.
Susan kemudian bercerita lagi sebenarnya jumlah anggota paguyuban ini berjumlah 30 orang untuk se Jabodetabek dikarenakan berjauhan maka yang aktif hanya mereka berempat saja.
__ADS_1
Mereka bercerita suka dan duka menjadi perias jenazah termasuk hal mistis yang dialami.
"Kalau saya ya paling tidak bisa dilupain itu saat mengurus jenazah dengan memandikannya. Kadang tubuhnya kaku dengan mulut dan mata yang terbuka. Tangannya mencekram menghadap ke atas." kata Noto
"Terus-terus." kata Susan dan Jeni bersemangat mendengar
"Lalu aku bilang, tolong dilemasin ya tubuhnya. Eh ajaibnya langsung lemas, matanya ku usap dan mulutnya aku rapatkan. Jari-jari tangannya pun bisa aku tekuk dan luruskan."
"Hiii ... Seram." Sahut Rita memegang lehernya
"Aku kira pekerjaan kita hanya merias saja." kataku menimpali
"Noto ini bergabung di Perkumpulan Urusan Kematian juga Sar, jadi semuanya Noto yang mengerjakan. Dia juga hebat loh make up perempuan." puji Susan
Aku manggut-manggut mendengar perkataan Susan.
"Mau mendengar ceritaku tidak?" tanya Jeni dengan kami
"Seram apa tidak? Kalau tidak seram aku tidak mau mendengar?" kata Rita dengan melipat kedua tangannya
"Kalau tidak bisa tidur jangan menelponku." ancam Susan
Kami bertiga tertawa melihat tingkah Rita dan Susan. Saat Jeni memulai cerita, semilir angin datang dengan cukup kencang dan lampu ruangan ini kedip-kedip.
"Jangan dilanjutkan!" kataku tegas
Susan dan Noto menatap tajam ke arahku. Seolah bertanya apa alasan gertakanku tadi.
"Ihh kamu, Sar. Masa begitu saja kamu sudah takut. Padahal pekerjaan kita kan berhubungan dengan mayat." lugas Rita
"Ya sudah aku lanjutkan saja. Jadi begini, siang itu aku mendapatkan panggilan merias korban kecelakaan. Celakanya luka jahitan wajahnya cukup jelas dan aku kesusahan saat menambal jahitan wajahnya yang banyak itu." ungkap Jeni
Asap putih didepan pintu perlahan menampakkan sosok wanita yang mukanya hampir hancur dengan darahnya mengalir, membasahi baju putihnya. Jalannya terseok mendekati tempati duduk kami.
"Dan salahnya, aku meriasnya dengan menggerutu." Jeni bercerita dengan wajah dan tangan penuh ekspresi
Wanita itu kini duduk dan menyenderkan kepalanya dibahu Jeni. Jeni mengusap-usap leher dan pundaknya.
"Kalian merasa merinding tidak sih." tanya Jeni
Rita dan Susan menggeleng begitu juga dengan Noto.
"Aku tidak merasa sepertimu. Ayo lanjutkan lagi ceritamu." kata Susan menarik tangan Jeni
Jeni menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Dia mengikuti aku sampai kerumah. Dan aku syok saat melihatnya duduk diatas meja tamuku dengan tertawa cekikikan. Bahkan ia duduk diatas lemari bajuku saat aku hendak tidur."
__ADS_1
Wanita itu membelai rambut Jeni perlahan ketika tangannya berada dipundak, ia langsung meremas dan menancapkan kukunya yang panjang.
"Auww." teriak kecil Jeni
Lalu ada darah yang menempel pada baju bagian pundak Jeni.
"Darah, Jen." pekik Rita
"Astaghfirullahalladzim, ini tidak bisa dibiarkan." batinku
Aku bacakan ayat kursi sebanyak 3 kali dan al-fatihah untuk wanita. Tapi rupanya ia marah kepadaku dan ia merasuk kedalam tubuh Jeni.
"Arghh ... arghh." Tubuh Jeni bergetar hebat dan menggelepar dilantai. Rita dan Susan mencoba untuk berdiri dengan payah karena ketakutan.
"Aku mohon keluar dari tubuh Jeni." kataku setengah membentak
"Hehh ... aku tidak ada urusan dengan kau. Aku menginginkan wanita ini karena dia sudah main-main dengan aku."
"Tolong maafkan Jeni, aku tahu dia bersalah." kataku lagi. Aku berusaha menepiskan rasa takutku demi menyelamatkan Jeni. Bisa-bisa Jeni akan meninggal jika tubuhnya dikuasai oleh makhluk lain. Roh Jeni yang sebenarnya sedang duduk berjongkok disamping Noto. Dia terlihat bingung dan ketakutan.
"Hihihihi. Aku tidak akan takut denganmu. Dasar manusia lemah." teriak Jeni, tapi bukan Jeni yang sebenarnya
"Baiklah kalau kamu menantang." kataku dengan lantang. Aku membacakan ayat pendek yang biasa aku rapalkan saat membantu orang kerasukan dikampungku.
Tubuh Jeni kembali tersungkur dilantai dengan kedua tangan menutup telinganya.
"Hentikan."
"Panas ... Panas."
Aku tak menyerah begitu saja dengan keadaan. Susan, Noto dan Rita membantu memegang tubuh Jeni yang menggeliat. Berulang kali dia menceracau tak tahu apa maksudnya. Lalu dengan menahan napas aku bacakan ayat kursi sebanyak 3 kali dengan menekan kedua jempol kaki Jeni. Makhluk itu menjerit hebat sampai pada akhirnya Jeni pingsan.
Rita menggosok minyak kayu putih dihidung Jeni. Sekitar 5 menit kemudian Jeni tersadar. Noto memberikan air mineral dan sebungkus roti untuk Jeni.
Jam menunjukkan pukul 14.00 dan aku teringat belum sempat sholat dzuhur. Aku izin pamit dengan mereka dan menyarankan Jeni untuk sering berdoa.
"Kamu berbeda dengan kita, Sar? Tapi mengapa?" tanya Susan kepadaku. Aku paham maksud perkataan Susan mungkin dia tak percaya.
"Ini amanat dari Lastri."
"Aku tak membedakan berteman atau menolong orang berdasarkan agamanya."
Jeni berusaha berdiri dan memelukku erat diambang pintu. Dia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan berkunjung ke kosanku.
"Sebenarnya aku ingin kita bisa berbicara lebih banyak lagi. Tapi mungkin kita bisa bertemu dikafe sambil makan-makan." kata Susan dengan tersenyum
Aku menganggukan kepala dan tersenyum dengan mereka berempat. Saat aku melangkahkan kakiku kedepan, aku teringat belum memberikan mereka suatu nasihat. Aku berbalik badan dan berucap.
__ADS_1
"Pura-pura buta dan bisu kadang membantumu." kataku tersenyum. Entahlah mereka akan mengerti atau tidak maksud perkataanku.