
Sesudah sholat isya aku sengaja melakukan ruqiyah mandiri untuk diriku sendiri. Tidak menampik saat aku sudah mengalami hal ghaib seperti tadi aku langsung masuk angin. Badanku terasa pegal dan berat seperti menahan beban. Aku siapkan botol air minum berukuran 2 liter yang kuisi penuh dan ku taruh didepanku. Masing aku bacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat kursi sebanyak 3 kali dengan 7 kali pengulangan. Lalu setiap satu kali pengulangan aku tiupkan kedalam air minum. Terasa pusing tapi tidak kurasakan mual. Selanjutnya masih dengan bacaan yang sama tapi diusapkan keseluruh bagian tubuh. Saat menyentuh bagian pundak dan punggung terasa sesuatu keluar dari tubuhku dan berangsur-angsur membaik. Terakhir bagian betis dan telapak kaki, rasanya pegal-pegal dikaki pun menghilan dan tak lama dari itu aku tertidur.
Hingga aku terbangun saat adzan subuh dan melalaikan ibadah sholat tahajudku. Aku sama sekali tidak mendengar bunyi alarm handphone yang berdering. Tidurku terlalu nyenyak terlebih aku tidak bermimpi buruk. Aku langkahkan kaki untuk menggosok gigi dan mengambil air wudhu.
Selesai sholat aku berdoa agar hari ini ada keajaiban rezeki yang tiba-tiba datang. Maklum saja aku masih belum punya pekerjaan lain selain merias. Tentu saja aku bingung pekerjaan apa yang cocok untukku jika panggilan merias tiba-tiba mendesak dan mengharuskan aku datang saat itu juga.
Kring ... kring
Panggilan masuk tanpa nama menghubungiku pagi-pagi buta seperti ini.
"Halo, Assalam-" belum sempat aku teruskan kalimat tetapi sudah dipotong oleh si penelepon.
"...."
"Ya ampun, Rita. Aku kira siapa, ada menelpon sepagi ini?" tanyaku
"...."
"Ya sudah, kamu kirimkan saja alamatnya. Aku usahakan sebelum jam 8 sudah berada disana." kataku kembali
"...."
"Sama-sama, Rita." kataku mengakhiri telepon.
Rita bercerita kalau keponakannya dinyatakan meninggal oleh dokter dari kemarin sore. Tepatnya tak lama setelah Rita sampai dirumah. Setelah jenazah dimandikan dan dipakaikan baju kesayangannya tubuhnya bergerak dan mengejang. Semua orang disekitar jenazah berlari keluar rumah termasuk keluarga kandungnya. Padahal pastur gereja tempat mereka biasa beribadah telah memercikan air suci yang sudah dibacakan doa. Tapi jenazah tetap mengejang dengan kondisi mata tertutup. Tak ada satupun orang yang berani mendekat. Semua orang menjaga jarak sekitar 3 meter dari peti jenazah tersebut.
Untuk itu Rita meminta tolong kepadaku agar melihat kondisi keponakannya. Rita berpikiran bahwa jenazah keponakannya yang berumur 15 tahun itu dikuasai oleh jin. Dia beranggapan mungkin aku bisa membantunya seperti aku menolong Jeni waktu itu.
Sama seperti hari-hari biasanya aku membereskan dan membersihkan kamar sebelum aku pergi ke suatu tempat. Teras kecil kamarku yang penuh dengan daun berguguran aku sapu dan dikumpulkan untuk dibakar. Gurat cakaran dipintu yang meninggalkan bekas membenarkan kejadian semalam adalah nyata terjadi.
******
Setelah mandi dan berdandan seadanya, aku sarapan dengan sebungkus roti dengan teh manis. Aku butuh gula lebih agar tidak merasakan pusing dikepala. Kotak make up dibelakang pintu aku bawa untuk persiapan jika Rita nanti membutuhkan.
__ADS_1
"Jalan anggrek no.10 ?" kataku membaca pesan dari Rita. Aku merasa familiar dengan alamat ini seperti pernah mengunjunginya.
Didalam angkot aku mengingat-ingat dimana jalan anggrek itu.
"Ya Allah, aku baru ingat jalan anggrek itu tempat kontrakan aku dan Lastri dulu." batinku
Aku sambung perjalanan ini menaiki ojek untuk sampai dilokasi yang dikirim Rita. Setibanya disana aku baru ingat kalau rumah ini bertetangga dengan Ci Rika yang pernah aku dan Lastri rias.
"Punten." teriakku dari gerbang. Ternyata Rita sudah menungguku. Tak berselang beberapa lama ia menghampiri aku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.
Rita menggandeng lenganku saat berdiri didekat peti jenazah. Aku memeriksa denyut nadi dan hidungnya.
"Keponakanmu masih hidup, Rit."
"Apa!" pekik Rita keras
Orang tua si jenazah datang mendekati dan ikut memeriksa denyut nadi anaknya.
Aku dan Rita diajak untuk ikut ke rumah sakit untuk memastikan jika ada hal-hal seperti ini lagi. Kami berdua duduk dibelakang tepat didepan keponakan Rita yang tidur terbaring. Didalam mobil, keponakan Rita terus mengejang hebat. Istighfar dan sholawat terus aku panjatkan sambil memegang tangannya. Pelan tapi pasti tubuh anak ini kembali normal tetapi melemas.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit akhirnya kami tiba dirumah sakit. Rita dan aku turun dari mobil dan menginstruksikan kepada perawat agar membawa kereta dorong. Saat sudah dipindahkan diatas kereta dorong, tubuh keponakan Rita mengejang kembali lalu perawat mendorong kereta menuju ruang IGD. Dokter memberi tahu kalau anak itu harus dipindahkan ke ruang ICU karena mengalami koma.
Cucuran air mata langsung tumpah seketika tatkala kereta dorong keluar dari ruang IGD. Kami mengikuti perawat memindahkan keponakan Rita ke ruang ICU. Lalu aku melihat roh anak itu menangis ikut mengiringi disamping ranjang.
"Ya Allah, sepertinya umur anak itu tidak lama lagi." batinku
Rita menarik tanganku dan menjauh dari keluarganya.
"Apa kamu lihat sesuatu dari keponakanku, Sar?" tanya Rita
"Kita serahkan semuanya pada Tuhan." jawabku pelan
"A-aku mendapat pertanda buruk, Sar."
__ADS_1
"Pertanda buruk apa? Jangan bicara sembarangan ahh." hardikku
Rita menggeser tempat duduknya. Ia menatapku dalam dan bingung bercerita hal tersebut.
"Kamu lihat? Jari tanganku kedutan per 5 menit sekali." kata Rita menatapku kembali
Aku merasa takjub melihat jari Rita bergerak sendiri. Bukan kedutan biasa tapi seperti pertanda. Aku yakin dengan analisaku.
"Sejak pertama kali merias jenazah, jari tangan kananku akan kedutan, 15 menit sebelum kematiannya."
*****
Ternyata benar praduga milik Rita. Mobil jenazah melaju dibelakang kami dengan suara sirine yang menyayat hati. Dokter menyatakan pasien telah meninggal karena tak bisa melewati masa kritisnya. Rumah kembali berduka dan untuk kali ini benar-benar tiada.
Aku membantu memakaikan pakaian yang dipakai sebelumnya dan membantu Rita merias jenazah keponakannya. Ketika proses make up, jari tangan anak itu kembali bergerak.
"Ya Tuhan, kamu masih hidup nak." pekik Rita
Selang Rita berkata demikian, jenazah itu terduduk dan mengejang kembali.
"Tante, tolong ikhlaskan kepergianku."
"Aku berat meninggalkan dunia ini jika tante tidak ikhlas. Terima kasih telah merawat dan membesarkanku. Sekarang aku akan menyusul ibu disurga." lirih anak itu
Arwahnya lah yang menggerakan, arwah yang sudah terpisah dari tubuh untuk selamanya. Surat Al-Fatihah aku bacakan sebanyak 3 kali dan memegang jarinya. Aku mengatakan kepada arwah keponakan Rita agar ikhlas menerima takdir yang digariskan.
"Kamu harus bisa ikhlas, Rit. "
Rita menghela napas dan mengangguk pelan. Seketika itu pula jenazahnya kembali berbaring dan terbujur kaku. Rita menyuruhku agar aku saja yang menyelesaikan merias keponakannya. Dengan cekatan aku merias dengan make up yang ku bawa.
Arwah keponakan Rita terus memperhatikan aku sampai aku selesai merias. Berdiri didepan peti jenazah.
"Terima kasih karena tante telah membantuku." senyum arwah keponakan Rita kepadaku. Aku pun mengangguk dan menyaksikan arwah tersebut berubah menjadi kepulan asap lalu menghilang.
__ADS_1