
Didalam mobil aku duduk dikursi paling belakang bersama bu Risma dan pak Wito. Rasanya sungguh aneh duduk bersama hantu yang semasa hidupnya pernah berbicara denganmu. Suasana didalam mobil sekarang sangat hening bahkan untuk memulai pembicaraan pun aku merasa sungkan. Tak berapa lama akhirnya kami sampai dirumah mendiang bu Risma dan pak Wito. Tak ada raut kesedihan atau belasungkawa diwajah para pelayat yang datang. Tak ada tangisan sama sekali. Disamping pria yang mengenakan pakaian rapi berdiri makhluk-makhluk yang mereka kirim untuk mencelakai mendiang pak Wito dan bu Risma. Mereka menyeringai dan tertawa bahagia karena mereka bisa melumpuhkan lawan majikannya.
Ditengah kerumunan banyak orang, hanya dua orang yang menangis disamping jenazah bu Risma dan suaminya. Sekilas aku mendengar bahwa mereka adalah orang kepercayaan mendiang semasa hidup.
"Ibu.. bapak.. maafkan kami berdua. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong bapak dan ibu."
"Seandainya kami bisa mencari dukun yang lebih hebat, mungkin kita masih bercengkrama disini."
Air mata lelaki tak akan pernah jatuh untuk hal yang sepele. Aku yakin mendiang sangat baik dengan mereka berdua semasa hidupnya.
"Sudahlah pak, kalian jangan menangis lagi. Malu dengan pelayat lain yang hadir. Orang yang sudah tiada itu hanya perlu di doakan, tak perlu ditangisi segala, tak membuat hidup lagi." kata Levin dengan kesal
"Maaf den Levin, kami hanya begitu kehilangan ibu dan bapak."
"Sana menyingkir, ini sudah ada yang akan merias ibu dan bapak." usir Levin dengan bahasa tangannya
"Silahkan bu, dimulai saja. Oh ya bu, jenazah satunya ada didalam kamar diujung sana. Nanti diantar dengan mereka berdua setelah ibu selesai merias kedua orang tua saya."
"Baik nak, Levin." kataku mengangguk
__ADS_1
Dengan cekatan aku mulai merias yang dimulai dengan mendiang pak Wito. Secara ghaib tak ada lagi pasung maupun jahitan dibibirnya. Aku mulai berada di dimensi yang berbeda. Ketika aku mulai memoleskan bedak diwajahnya. Pertarungan yang berada dikamar amatlah sengit. Aku tidak melihat dimana bu Risma, yang kulihat adalah seseorang berilmu sakti yang melawan para lelembut itu. Pada babak pertama sang dukun yang berada dipihak pak Wito menang, hingga ia bisa melepaskan jeratan pasung dan benang yang menjahit mulut pak Wito. Tapi saat ia lengah para lelembut yang memanggil kawanannya berhasil membuat dukun tersebut terpental.
Dua leak yang berbadan tinggi besar menghampiri sang dukun yang tengah sekarat. Mereka berdua menyuruh dukun itu menelan paksa buntelan yang berisi sesuatu yang aku tidak tahu, itu apa. Benar saja usai menelan barang satu menit, tubuh sang dukun menggembung dan membiru. Hingga saat sakaratul mautnya, kuku leak yang panjang dan runcing dihujamkan ke arah jantungnya. Disaat pak Wito menyaksikan kematian dukun yang menolongnya, dia berusaha untuk turun dari kasur untuk menyelamatkan diri. Tapi pergerakan pak Wito yang lambat disadari oleh makhluk lainnya.
"Arghh."
Tubuh pak Wito dibanting begitu keras ke lantai, lalu mereka tarik tangan dan kaki pak Wito hingga terdengar bunyi tulang patah.
"Arghh.. ampun." jerit pak Wito
Tiba-tiba daun pintu terbuka dan bu Risma menjerit keras melihat fase terakhir kematian suaminya. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan kepala suaminya diputar 360° dan keluar darah dari mulutnya.
"Astaga, bapak bangun pak. Jangan tinggalkan ibu."
"Arghh... Kita harus menghabisi nyawa istrinya juga, dia telah melihat bagaimana kematian suaminya. Dia ancaman bagi kita. Bunuh dia." perintah leak ke dayang-dayangnya
Tubuh ibu Risma terangkat naik dan melayang untuk sesaat.
"Apa.. apa yang terjadi.. To.. Tolong aku."
__ADS_1
Dengan begitu keras tubuhnya dihempaskan ke lantai dan dibenturkan ke arah dinding. Pelipis bu Risma sudah penuh dengan darah yang mengalir. Berulang kali dia meminta tolong tapi tak ada seorang pun yang datang.
"Astaghfirullah alladzim." tiba-tiba aku tersadar dan keluar dari dimensi tersebut
Berulang kali aku istighfar dalam hati dan melanjutkan pekerjaan. Saat aku merias bu Risma ia terlihat begitu tegar. Pelipisnya yang membiru aku beri concealer dan foundation sedikit banyak agar bisa menutupi.
"Inilah akhir kisah cinta dan hidupku bu Sarti. Aku sudah berusaha mengikhlaskan usaha kami di Bali dan menjual saham terbesar kami dengan mereka. Tapi mereka picik dan membunuh kami. Aku yakin Tuhan akan membalas kejahatan yang mereka perbuat."
Tak terasa air mataku ikut menetes, merasakan kesedihan yang dialami keluarga ini.
"Sudah selesai, bu?"
"Mari saya antar ke kamar bu, jenazah yang satu lagi ada didalam kamar. Ibu harus mengenakan masker ya." kata pak Trisno, orang kepercayaan mendiang
Aku mengenakan masker yang diberi pak Trisno dan masuk kedalam kamar itu.
"Ibu mau saya temani apa tidak? Saya saja merasa merinding bu, berada disini." kata pak Trisno bergidik ngeri
Memang tidaklah salah prasangka pak Trisno, karena arwah dukun tersebut ada didalam kamar beserta jin pengikutnya. Ia memintaku untuk menggantikan merawat jin peliharaannya. Tapi aku menolak dengan keras. Sesudah merias akhirnya aku keluar dari kamar dan menemui Levin.
__ADS_1
"Tunggu, apakah kau benar-benar menolak? Aku janji akan membuatmu kaya dan tak hidup susah seperti sekarang. Ilmumu cukup lumayan untuk menjadi majikan baruku."