Perias Jenazah

Perias Jenazah
Kost atau Kontrak ? (2)


__ADS_3

Hai teman-teman pembaca sekalian, author meminta maaf kalau satu bulan kemarin absen untuk menulis. Selain karena sibuk untuk persiapan tes, author takut kalau lagi menulis novel sendirian. Tidak memungkiri ketika habis nulis episode yang penuh dengan detail adegan horor, adek author yang bisa lihat hal ghaib langsung didatangi. Entah "dia" berdiri diluar jendela atau berdiri dipojokan dinding dan memegang pundaknya. Author saat ini akan usahakan up antara senin-kamis biar berasa bacanya pas malam jumat hehe. Untuk jumlah episode author tidak bisa janji berapa banyaknya.


Jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote, poin juga boleh, yang banyak ya. Karena dukungan dari kalian sangat berarti untuk membangun mood menulis author 😀😀😀. Yuk lanjutin bacanya...


----------------------------------------


Setelah semua masakan sudah matang, aku segera menuju kamar mandi mumpung alifah dan yosi belum terbangun.


Jam menunjukkan pukul 05.45, aku menata baju dan keperluan tambahan lainnya. Semalam saat ingin menatanya, badanku sudah lelah. Aku membawa beberapa helai baju dan sprei untuk tidur. Tak lupa aku membawa kotak make up warisan almh. lastri.


"Yosi sama alifah sudah mandi apa belum hayo" kataku keluar dari kamar, kudapati yosi dan alifah sedang lari-larian di ruang tamu


"Sudah dong mbah, ini lagi nunggu ibu ambilin makan buat aku sama yosi" celetuk alifah


"Ayo makan dulu, makannya diruang tv saja jangan diruang tamu. Kasihan tante maya sudah menyapu rumah" kata ana membawa dua piring nasi hangat dan telur dadar.


"Loh kok tidak ada semur kentangnya?" tanyaku pada ana

__ADS_1


"Oh iya ana lupa bu hehe" kata ana balik menuju dapur


Aku pun menggeleng kepala lalu menuju kamar maya dan mita.


"Ayo sarapan dulu, handphonenya ditaruh dulu nanti baru main lagi" kataku kepada maya dan mita, yang disindir hanya tertawa kecil.


Akhirnya kami makan pagi bersama lagi, rasanya sedih sekali harus meninggalkan maya dan mita.


"Bu.. Sekarang kan ibu bekerja sendiri, rencananya ibu mau tinggal di kosan atau mengontrak rumah 1 kamar?" tanya mita


"Itu namanya bedeng adek" timpal desta


"Aku tidak begitu pintar mbak" timpal maya


"Peringkat 3 itu artinya pintar dek, mbak dulu waktu masih dibangku sekolah paling masuk 10 besar" kata desta


Maya hanya mengangguk pelan mendengar ucapan kedua kakaknya. Sedangkan mita hanya memasang muka melas.

__ADS_1


"Kalian kok tidak ada yang memperhatikan perasaan aku sih. Masa nanti aku tinggal sendirian dikampung" gerutu mita


Aku langsung berpikir keras atas pernyataan mita. Aku sampai lupa kalau selisih umur maya dan mita hanya berjarak 2 tahun.


"Mita.. Ibu akan memikirkan lagi tentang sekolah kamu. Ibu akan bekerja keras supaya kamu bisa sekolah dikota dan kakakmu maya bisa berkuliah disana" kataku menatap maya dan mita


"Ibu tenang saja, aku akan belajar lebih giat agar aku dapat beasiswa full untuk berkuliah. Jadi ibu tidak perlu memikirkan biaya kuliah maya" kata maya bersemangat


"Lalu bagaimana dengan rumah ini bu?" tanya desta


"Mungkin untuk sementara bisa untuk dikontrakkan" kataku kembali


Kami melanjutkan makan kembali. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 06.45. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat lebih awal, karena langit terlihat mendung pagi ini.


"Ibu, berangkat dulu ya, kalian hati-hati dirumah. Jaga kesehatan dan jangan lupa belajar" kataku mengucapkan pesan ke maya dan mita.


"Iya bu.. Kami berdua janji akan belajar lebih rajin" kata maya dan mita bersamaan

__ADS_1


"Yosi sama kak alip pamit juga ya ante. Baik-baik dilumah jangan lupa beldoa, soalnya tadi yosi lihat kamalnya ante ada anak kecil lagi lali-lalian" kata yosi dengan polosnya saat habis mencium tangan maya dan mita


Maya dan mita hanya memelototkan mata ke yosi. Tak lupa aku menitipkan amplop berisi uang untuk kebutuhan maya dan mita untuk satu bulan kedepan. Masa liburku kurang lebih 2 minggu dikampung. Semoga saja ketika aku sampai dikota, langsung ada tawaran untuk merias jenazah lagi.


__ADS_2