Perias Jenazah

Perias Jenazah
Pergi Untuk Kembali? (1)


__ADS_3

Sudah 3 hari sejak kejadian bau bangkai tikus itu, aku dan anak-anakku rajin membaca al-quran. Tak menampik aku takut anak-anakku diganggu oleh makhluk lain lagi saat aku tidak ada dirumah. Jujur aku masih kepikiran dengan amanat lastri. Kemarin malam tiba-tiba aku mimpi tentang lastri. Kalian tahu bukan "Jika kalian bermimpi tentang orang yang sudah meninggal artinya arwah mereka masuk ke mimpi kita"?. Dan ketika kita mengobrol dengan mereka, mereka seperti diam.


Ada beberapa orang yang indigo jika bermimpi tentang orang yang sudah meninggal tubuhnya akan merasa lemas tak bertenaga, seperti alm. ibuku dulu. Nasib baik aku tidak begitu tetapi aku mudah mendapati lebam jika aku disentuh oleh "mereka".


Balik lagi tentang mimpiku, aku bermimpi tentang lastri kemarin malam. Dalam mimpi itu aku berada di kontrakan waktu itu. Bercengkrama dan mengobrol seperti biasa, tapi dalam mimpi itu hanya anggukan lastri yang terlihat. Dalam mimpi itu aku sadar kalau lastri sudah meninggal tapi anehnya aku tidak takut melihatnya. Ya, lastri datang dengan mengenakan pakaian yang indah dengan rupa yang sempurna juga. Lastri pamit untuk pergi, ketika aku ingin mengejarnya lastri sudah menghilang.


Seperti tersadar dari mimpi, aku terbangun dan mengucek mataku. Melihat keadaan sekelilingku hingga aku tertegun melihat asap putih mengepul ke atas dipojok dinding.


"Ya Allah, sudah jam setengah lima?" teriakku pelan


Aku segera bergegas untuk mengambil air wudhu dan segera sholat. Tak lupa saat aku berdoa, aku mendoakan lastri agar dia mendapatkan kelapangan kubur.


Hari ini hari minggu. Jadi mita si bungsu dan kakaknya maya belum terbangun dari tadi. Padahal jam menunjukkan pukul 05.00 pagi.


"Sepertinya tidak akan mempan jika aku membangunkan mereka dengan menepuk tangan" gumamku dalam hati.


Aku mengambil sedikit air digayung lalu aku cipratkan ke arah muka anakku.


"Ayo bangun, sudah siang. Kapan mau sholat subuh?" kataku menahan ketawa


Maya yang kaget akan cipratan air langsung terbangun.


"Ibu... Kok muka maya dicipratin air sih. Lihat tuh mita saja masih tidur belum bangun" Kata maya mengucek-ngucek matanya


"Kalau tidak gitu nanti kalian malah kebablasan sholat subuhnya. Bangunin adekmu juga. Padahal dia yang paling banyak ibu cipratkan air, malah dia yang belum bangun. Ckckck" kataku mendesah


tok tok tok


"Bu, siapa ya yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" Kata mita yang tiba-tiba terbangun. Dia mengucek-ngucek matanya sambil terduduk dipinggir kasur.


"Ibu juga tidak tahu. Ya sudah cepat kalian sholat, ibu saja yang buka pintu untuk tamunya" kataku meninggalkan kamar menuju pintu depan


Ketika aku membuka pintu depan, aku terkejut dan senang ternyata yang datang adalah anakku yang sudah menikah, ana dan desta. Tak lupa mereka datang dengan suami dan anak mereka.

__ADS_1


"Loh, kalian datang kok tidak ngabarin ibu dulu" kataku sambil memeluk cucuku yang menggemaskan


"Kalau bilang dulu namanya bukan surprise bu" kata desta menyalami aku. Tak lupa ana dan anak menantuku juga menyalami


"Ayo masuk dulu, ngobrolnya sambil didalam saja" kataku menuntun kedua cucuku


"Maya dan mita pada kemana bu? Kok rumah sepi?" kata zaini suami ana


"Tadi mereka mau sholat pas kalian baru datang. Maya.. Mita ini kakaknya pada datang kok gak disambut?" kataku memanggil


Tak lama kemudian maya dan mita menghampiri kami diruang tamu.


"Mbak ana.. Maya kangen banget sama mbak" kata maya memeluk erat ana.


"Mbak juga kangen sama kamu dek" kata ana menepuk pundak


"Jadi maya tidak kangen sama mbak desta? Jahat.." kata desta memonyongkan bibirnya


"Mbak maya lebay banget sih. Mita saja tidak segitunya" gerutu mita


Kami semua pun terkekeh melihat kelakuan kakak beradik yang masih bertingkah seperti anak kecil.


"Aduh. Keasyikan ngobrol jadi lupa menyiapkan suguhan untuk kalian. Ibu juga belum masak nak" Kataku sambil memegang kening


"Ibu.. Hari ini lebih baik kita bersenang-senang saja. Kita jalan-jalan sekeluarga mumpung lagi libur kan? Lagi pula aku dan desta sudah menyiapkan makanan untuk kita nanti. Jadi ibu tidak perlu repot-repot lagi" kata ana memegang tanganku


"Hore kita mau jalan-jalan" kata maya dan mita bersamaan


Kami pun berberes rumah sembari sarapan sambil menunggu antrian untuk mandi. Maklum saja rumah tua ini hanya memiliki satu kamar mandi saja.


*****


Didalam mobil

__ADS_1


"Kita mau kemana buk?" kata alifah cucuku dari ana


"Kita itu mau lihat ail teljun kak alip" kata yosi cucuku dari desta


"Kenapa gak ke pantai aja sih. Air terjun kan serem banyak pohon-pohon besar" kata alifah lagi


"Kak alip kenapa halus takut? Ail teljun kan asik, ailnya dingin telus nda ada ombaknya" kata yosi sambil menirukan tangannya membentuk ombak


"Tapi yosi janji ya, jangan kasih tahu kak alip kalau yosi lihat hantu" kata alifah sambil menyodorkan jari kelingkingnya


"Kalau itu yosi tidak bica janji kak. Nah kan panjang umul, tuh ada kakek tua duduk diatas mobil kita" seraya yosi menunjukkan keatas atap mobil


"Sssttt.. Yosi tidak boleh ngomong gitu lagi ya. Diam saja" Kataku pelan dengan mengusap kepala yosi. Sedangkan alifah hanya memeluk ibunya erat karena takut.


Aku juga bingung anakku tidak ada yang dapat melihat hal ghaib. Justru hal itu menurun ke satu cucuku "yosi".


Karena penumpang dimobil berjumlah 7 orang ditambah ada "penumpang ghaib" diatas mobil, kurasa zaini begitu susah saat melewati tanjakan. Deru mesin mobil pun begitu terdengar.


"Kakek sana pergi, kasihan om jai yang nyetil mobilnya" kata yosi tiba-tiba


"Nak jangan bicara gitu lagi ahh, kita doa saja yuk" kata desta mengusap tangan yosi.


Yosi pun mengangguk. Aku menuntun semua yang didalam mobil untuk membaca al-fatihah dan ayat kursi. Tak lama kemudian mobil melewati kuburan tua dan disusul menghilangnya sang kakek.


"Alhamdulilah, akhilnya kakek pelgi juga mbah putli" kata yosi menatapku disusul anggukan dariku.


Akhirnya kami sampai ditempat wisata ini. Tempat yang sejuk disaat matahari telah singgah. Aku sudah mewanti-wanti yosi untuk tidak bicara sesuatu yang dilihatnya. Yosi pun hanya mengangguk memegang tangan ibunya. Yosi yang masih kecil mengundang ghaib ditempat wisata ini menunjukkan batang hidungnya. Walaupun ini siang hari, ada beberapa yang menampakkan wujudnya.


"Ibuk, yosi digandeng sama mbah putli saja" kata yosi yang lari mendekat kearahku lalu yosi membisikkan sesuatu ditelingaku.


"Mbah, yosi takut ada kuntilanak belambut panjang melambaikan tangannya ke yosi" kata yosi tiba-tiba. Aku melihat ke arahnya dan aku alihkan perhatian yosi. Kuntilanak itu menyeringai dan tertawa seolah tahu keberadaannya ditakuti.


"Yosi jangan takut ya, kan ada mbah putri. Tidak apa-apa yang penting yosi jangan main jauh-jauh. Ayo kita kesana"

__ADS_1


Kulihat anak dan menantuku mencoba terlihat tidak takut hanya alifah yang gusar karena takut, merinding katanya.


__ADS_2