Perias Jenazah

Perias Jenazah
Korban Santet (6)


__ADS_3

Dari sudut mata pak Wito terlihat bagaimana ia menahan sakit seperti sakaratul maut. Air matanya mengalir pelan, terjatuh ke arah telinga. Aku sama sekali benar-benar tak bisa membantu pak Wito. Dulu sewaktu aku masih gadis, aku pernah hampir meninggal karena menyelamatkan nyawa sepupuku karena pelet kekasihnya. Aku berkelahi dengan jin suruhan dukun kekasih sepupuku yang mengakibatkan aku mengalami koma selama satu bulan. Untuk kali ini leak, tidak main-main dengan ucapannya. Terbukti juga dengan banyaknya makhluk ghaib yang menghuni kamar pak Wito.


"Lalu saya harus mulai dari mana bu Lastri?"


"Saya bingung." kata bu Risma terisak


Aku memegang kedua tangan bu Risma seraya berkata.


"Sudah saatnya anak-anak ibu tahu perihal kondisi ayahnya. Baru setelah itu ibu dan anak-anak mencari tahu perihal pesaing bisnis ibu." kataku menasihati


Hari berganti hari dan minggu berganti minggu. Sudah dua minggu sejak terakhir aku kerumah bu Risma, tak kunjung dapat kabar setelahnya. Aku pun sungkan ingin bertanya dan takut jikalau leak itu mendatangi kembali rumahku.


Malam harinya aku bermimpi bertemu ibu Risma tetapi kali ini bersama suaminya, pak Wito. Mereka berdua tersenyum bahagia mengenakan pakaian putih model vintage seperti foto yang terpajang diruang makan mereka. Tak sepatah kata pun mereka berbicara hanya semburat senyum dan bahasa mata yang dapat aku simpulkan. Tetapi aku merasa berbicara dengan mereka berdua begitu intim dan sangat membekas dihati tetapi aku tidak bisa mengingat percakapan kami.


Keesokan Harinya

__ADS_1


Saat aku sedang mengepel bawah kursi ruang tamu, aku dikejutkan oleh dua pasang kaki sedang duduk dibelakang kursi yang sedang aku pel. Ketika aku melihat kedua sosok pemilik kaki tersebut aku terkejut.


"Astaghfirullah."


"Mengapa kalian menjelma sebagai pasangan suami istri, Wito dan Risma?" hardikku


"Bu Lastri, saya adalah Risma dan Ini adalah suamiku Wito Pranoto. Kami ingin engkaulah yang merias jenazah kami sebelum kami dimakamkan. Anakku Levin sebentar lagi akan ke rumahmu guna menjemputmu. Bersiap dirilah."


Lalu kedua sosok tersebut hilang bagai asap putih. Aku yang saat itu masih berpikir apakah ini nyata atau bukan, dikejutkan oleh suara ketukan pintu depan. Mita sudah mulai untuk bersekolah karena pemerintah telah menetapkan tanggal masuk. Sedangkan Maya sudah menuju kota untuk melanjutkan kuliahnya yang tertunda. Jadi saat ini, tinggalah aku dirumah ini.


Aku intip dari jendela berdiri sosok lelaki muda bersama istri dan anaknya yang masih balita. Aku membuka daun pintu dan pada saat yang sama arwah bu Risma dan pak Wito berdiri disamping anaknya.


"Iya benar, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Begini ibu, perkenalkan saya Levin anak bu Risma dan ini Sintia istri saya bu. Saya kesini ingin meminta ibu untuk merias jenazah kedua orang tua kami, itu adalah permintaan terakhir ibu saya sebelum meninggal."

__ADS_1


*Deg


"Jadi mereka berdua benar-benar sudah meninggal? Apa yang sudah terjadi? Mengapa bu Risma bisa meninggal? Bukankah terakhir bertemu, ia masih baik-baik saja?" Sejuta pertanyaan mengelilingi pikiranku, tak ayal aku sempat kaget dengan suara yang berbisik ditelingaku.


"Kau akan tahu jawabannya saat kau meriasku nanti." bisik suara tersebut*


"Oh ya bu, saya meminta tolong juga ada satu jenazah lagi yang harus ibu rias, tapi saya mohon tolong rahasiakan apa yang akan ibu lihat nanti." kata Levin mewanti-wanti


"Baiklah kalau begitu, saya izin untuk bersiap diri dulu Nak Levin dan istri mau menunggu didalam rumah?"


"Tidak perlu bu, kami menunggu didalam mobil saja."


Aku pun mengangguk dan menutup pintu. Sepanjang langkah kaki menuju kamar aku masih bertanya-tanya siapakah gerangan satu orang lagi yang dimaksud Levin?


"Itu karena dia berani bermain-main dengan kami. Hahaha."

__ADS_1


"Suara leak itu lagi? Mengapa masih saja dia menerorku?" aku masih bertanya-tanya sambil mengenakan pakaian


Aku mungkin terlalu pengecut dalam hal ini tapi aku sadar kemampuanku sama sekali tak bisa disandingkan dengan makhluk yang siap menyakiti aku kapan saja.


__ADS_2