
Aku disuguhi berbagai macam hidangan yang tertata rapi dimeja makan. Bu Risma sempat khawatir denganku karena aku tak sadarkan diri hingga dua jam lamanya. Beliau khawatir ini salah satu muslihat yang dilancarkan oleh pesaing bisnis suaminya untuk menyakiti diriku juga.
"Bu Sarti, ayo makan."
"Saya sudah belikan untuk ibu makanan dari luar beserta alat makannya, jadi ibu tidak perlu merasa
khawatir dengan larangan dari agama ibu." kata bu Risma dengan mantap
Mendengar hal tersebut, aku merasa tidak enak hati dengan bu Risma. Ia mengerti dan memahami perbedaan antara aku dengan beliau.
"Nikmatilah makananmu sebelum kau kehilangan nyawamu. Hahaha."
__ADS_1
Aku hampir tersedak mendengar suara ghaib yang berasal dari leak. Tubuhku terasa lemas setelah mendengar ancaman itu. Seketika aku hentikan aktivitas makanku. Ku bacakan air putih yang disediakan dengan membaca surat Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas masing-masing sebanyak 7x. Mendadak kepalaku pusing setelah aku minum air yang telah aku baca tadi. Aku perbanyak istighfar dan sholawat dalam hati serta ayat kursi. Perlahan rasa pusingku menghilang dan normal seperti biasa.
"Apakah bu Lastri merasakan hawa ghaib dirumah ini?"
"Maaf jika saya bertanya, karena dari tadi saya perhatikan mimik muka ibu sangat serius. Seolah ada yang tak beres dengan rumah ini." Pertanyaan dari bu Risma membuatku terhenyak, sementara aku bingung harus menjawab apa.
Bu Risma menarik tanganku pergi dari kursi makan. Dia menuntunku ke arah kamar yang aku tidak tahu itu kamar siapa. Setelah daun pintu terbuka, demi Allah aku menggigil ketakutan demi melihat pemandangan yang ada didepanku.
Kalian tahu apa yang aku lihat?
Aku melihat begitu banyak makhluk ghaib dikamar suami bu Risma. Dimata ghaibku, mulut pak Wito di jahit dengan benang senar, kaki dan tangan terpasung, perutnya ditindih dengan dua kepala yang terlepas dari badannya. Sekelilingnya banyak sekali makhluk-makhluk duduk, berdiri dan melayang disetiap sudut langit-langit kamar. Tak lupa juga, dua leak yang aku lihat dirumah kontrakkan ada didalam kamar ini. Roh pak Wito terkunci didalam lemari, dia meminta tolong saat kami mulai masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Begitulah kondisi suami saya bu Lastri. Apakah ibu bisa menolong suami saya?" mata bu Risma berkaca-kaca menatap diriku. Berharap ada secercah harapan yang bisa aku berikan untuk membantu suaminya.
Aku menarik napas dalam-dalam mencoba mencari kata-kata yang tepat menjawab pertanyaan bu Risma.
"Ibu, sebagaimana dengan yang lain saya hanyalah manusia biasa. Sama seperti ibu hanya mungkin dimata orang lain saya punya kemampuan diluar yang lain. Saran saya ibu mencari tahu siapa saja pesaing bisnis keluarga ibu. Kemudian ibu mohon untuk minta dimaafkan kesalahan pak Wito lalu menjual saham pada mereka secara merata." terangku panjang lebar
"Apakah saya harus berbuat sedemikian rupa bu? Bisa-bisa kami kehilangan aset yang di Bali, bukan tidak mungkin juga suami saya akan meninggal juga." sanggah bu Risma. Disini terlihat bahwa ia lebih merelakan suaminya tetap sekarat dibanding ia harus kehilangan harta mereka. Aku menggeleng pelan, tak habis pikir bagaimana manusia sudah dibutakan oleh harta hingga lupa mencintai orang terdekat mereka.
"Maaf bu, saya tidak bisa membantu lebih jauh. Karena ini bukan ranah saya. Terkadang mengalah bukan berarti kita kalah kan bu? Ketika kita mencintai seseorang pengorbanan besar akan terlihat kecil jika kita bisa menerima takdir dengan ikhlas." lanjutku tersenyum
Bu Risma jatuh terduduk dan menangis sekencang-kencang seolah beban yang ada dipundaknya yang tak bisa ia curahkan, ia lepas sekarang. Setelahnya Aku baru tahu anak-anak bu Risma tak ada yang peduli dengan kedua orang tuanya. Bahkan selama dua tahun terakhir ini mereka tak pernah mengunjungi bu Risma dan pak Wito. Mereka hanya menelpon akan pulang setelah aset di Bali dibagi rata sebelum ayah mereka meninggal.
__ADS_1