
Aku menyusuri kembali lorong-lorong rumah sakit yang dilewati saat berjalan dengan Susan. Mencoba mengingat dan menghapal sampai pada akhirnya aku sudah berada didepan gerbang rumah sakit. Dari kejauhan aku melihat kubah masjid diseberang jalan. Segera saja aku menyeberang berjalan menuju masjid tersebut.
Alas kaki kulepas saat menaiki lantai masjid. Dengan langkah gontai kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Aku berusaha sholat dengan khusyuk walaupun aku tahu ada yang mengawasi gerak-gerikku. Dzikir kubaca sebagai bentuk rasa syukurku atas segala kebaikan yang kudapatkan hari ini.
Saat aku berjalan keluar dari masjid, aku merasa masih dibayangi dan diawasi oleh seseorang. Kuhembuskan napas kasar tak menghiraukan dan fokus untuk menghadang angkot. Tak lama kemudian angkot itu berhenti didepanku hanya menyisakan satu tempat duduk. Suasana didalam angkot ini panas dan pengap walau jendela-jendela angkot sudah terbuka. Tiba-tiba terdengar bunyi gebrak dari atas angkot. Semua penumpang yang mayoritasnya muslimah mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullahaladzim!"
"Mang berhenti dulu, coba dilihat dulu diatas kap angkot ada apaan." sergah salah satu penumpang
Sopir angkot ini mau tidak mau segera menepikan kendaraanya. Dengan menaiki salah satu ban depan ia mulai celingukan menatap kap angkot yang memang kosong tak ada barang. Ia juga bingung darimana suara benda jatuh itu berasal.
"Tidak ada apa-apa bu, kosong." teriak sopir angkot saat menurunkan satu kakinya kebawah.
Satu sama lain penumpang diangkot ini bergosip akan hal aneh yang terjadi.
"Dia masih saja duduk diatas sana." gumamku
Perempuan yang menyurupi tubuh Jeni mencoba mengikutiku sampai ke kosan. Sudah ku bacakan ayat kursi berkali-kali ternyata dia masih belum jengah. Hingga dia berbuat jahil dengan mengempiskan ban angkot secara tiba-tiba. Untung saja tidak sedang mengebut jika tidak mungkin angkot ini sudah oleng. Karena aku takut dia berbuat yang lebih ekstrim, ku putuskan untuk berhenti 200 meter dari jalan depan kosanku.
Tak jauh dari beberapa meter aku berjalan, ada kedai pecel lele yang sedang menyiapkan dagangannya. Ku percepat langkah dan menghampiri kedai tersebut.
"Bu, saya pesan nasi pecel lele dan tahu goreng dibungkus ya. Daun kobisnya digoreng ya bu." kataku mantap
"Putrinya tidak dibelikan sekalian bu?" tanya ibu penjual
"Putri?"
"Iya, yang berdiri disamping ibu." jawab ibu penjual itu
Ketika aku menoleh, aku tak melihat siapa-siapa.
"Loh, kok menghilang padahal tadi jelas-jelas saya lihat disamping ibu. Tapi kok sekarang tidak ada ya?" ibu itu menggaruk kepalanya
"Duh maaf bu, mungkin saya tadi salah lihat. Ditunggu sebentar ya bu pesanannya." kata ibu itu meninggalkan aku
__ADS_1
15 menit kemudian pesananku sudah siap dan tak ada gangguan yang terjadi setelahnya.
"Ini bu, totalnya 17 ribu rupiah." kata ibu penjual menyerahkan bungkusan
"Uang pas ya bu."
"Terima kasih bu. Alhamdulillah pelanggan pertama, laris manis." Ibu pemilik kedai tersebut menepuk-nepuk uang ke arah dagangannya. Sebuah mitos diantara para penjual termasuk yang pernah aku lakukan saat aku masih menjadi penjual sayur keliling.
Setelah melewati beberapa ruko dan minimarket akhirnya aku sampai didepan gerbang kosanku. Kos tersembunyi dipinggir jalan yang tak banyak orang tahu termasuk diriku dulu.
"Alhamdulillah akhirnya sampai dikosan." kataku merogoh kunci dari dalam tas.
Ceklek
"Assalamualaikum." Kebiasaanku saat masuk kedalam rumah
Ku letakkan tas dan lauk makan diatas meja. Tak lupa kota make up aku taruh dibelakang pintu. Rasanya gerah sekali berada diluar seharian. Jadi ku putuskan untuk mandi sebelum melaksanakan sholat ashar.
Setelah mandi segera aku berwudhu dan melaksanakan sholat ashar karena jam sudah menunjukkan pukul 16.30.
Kruyuk
Aku sudah lapar dan perutku sudah meminta untuk di isi. Ku awali dengan membaca basmalah dan minum segelas air putih. Segera saja aku makan nasi pecel lele yang kubeli tadi. Rasa gurih dari lele dan pedas dari sambal menambah kenikmatan dimulut apalagi ditambah rasa manis dari kobis goreng.
"Alhamdulillah." Ku tenggak segelas air putih kembali untuk membasahi tenggorokanku.
Kring ... kring ...
"Halo assalamualaikum, May."
"...."
"Alhamdulillah ibu sehat, nak. Bagaimana dengan sekolahmu dan kabar adikmu Mita?
"...."
__ADS_1
"Alhamdulillah, anak ibu hebat bisa lolos dijalur SNMPTN undangan. Belajar yang rajin ya nak supaya bisa lulus Ujian Nasional. Jangan lupa adikmu diperhatikan ya. "
"...."
"Waalaikumsalam."
Aku sangat bersyukur Maya dan Mita bisa hidup mandiri dikampung. Mereka bisa belajar dengan rajin tanpa aku yang berada disamping mereka. Terlebih Maya bisa masuk di IPB tanpa tes dengan syarat dia lulus Ujian Nasional.
Tanpa sadar aku hanyut dalam pemikiranku sendiri hingga tak terasa adzan maghrib telah berkumandang. Kubawa langkahku menuju kamar mandi setelah sebelumnya aku membuang sampah bungkusan makanan.
Air wudhu yang membasahi tubuhku terasa segar tapi entah mengapa malam ini aku merasa takut. Buru-buru aku akhiri wudhu dan mengunci pintu belakang. Dikamarku ini kamar mandi terpisah oleh pintu dan bagian dapur kecil hanya aku saja yang belum sempat membeli peralatan masak dan kompor.
"Allahu Akbar."
Rakaat pertama aku masih bisa khusyuk dengan sholatku. Suara angin dan petir yang bergemuruh ditambah dengan derasnya hujan membuat sholatku sedikit terganggu. Rakaat kedua terdengar dari belakang suara ketukan dan daun pintu depan yang seolah-olah dipaksa untuk dibuka. Disaat itu imanku seperti runtuh, ketakutan mendengar sumber suara yang berbeda. Dan disaat rakaat terakhir terdengar suara cekikikan dengan daun pintu yang dimainkan begitu cepat.
"Assalamualaikum warahmatullahi." Aku akhiri dengan salam dilanjutkan dengan berdzikir. Al-quran yang sedari tadi aku siapkan disamping sajadah, aku baca dengan mengawali surat Waqiah. Hujan lebat diluar sedikit mereda tapi gangguan itu belum berhenti. Aku lanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Al-Baqarah.
Cekrek .... cekrek .... Suara dari pintu depan
"Hihihi .... Hihihi."
Duar .... duar .... Suara gebrakan dari pintu belakang
Sampai terdengar suara adzan isya berkumandang aku berhenti sejenak. Suara cakaran dipintu mulai terdengar dan bayangan didepan pintu terpantul dari lantai keramik. Mondar-mandir seperti berusaha untuk masuk. Setelah adzan isya selesai berkumandang, aku putuskan untuk sholat isya dan melanjutkan kembali membaca surat Al-Baqarah.
"Arghhh." Suara dari pintu belakang kembali terdengar sekarang terdengar seperti suara perempuan.
"Buka pintunya!" Suara serak dan parau milik seorang laki-laki yang aku pastikan adalah genderuwo.
Jantungku terasa mau copot dan napasku mulai terasa sesak. Tapi aku belum berhenti membaca ayat-ayat Al-Quran. Sedari tadi aku hanya bisa mendengar suara-suara tanpa aku tahu berapa banyak yang berusaha masuk kedalam kamar ini. Lalu aku buka bagian surat Al - Jinn dan mulai membacanya. Dibeberapa bagian ayat aku memejamkan mata.
"Astaghfirullahaldzim." gumamku dalam hati
Begitu banyak dari mereka yang mendekati kamarku dan kini suara gebrakan dari pintu semakin keras dan kencang. Ditambah lolongan anjing pemilik kosan kini didepan pintu kamarku. Ya, insting hewan tidak pernah salah. Karena aku merasa tidak sanggup untuk membaca hingga selesai surat Al-Jinn, maka aku akhiri bacaan Al-quran. Sesudahnya aku membaca ayat kursi sebanyak mungkin hingga suara-suara itu menghilang.
__ADS_1