Perias Jenazah

Perias Jenazah
Jeritan Pilu (2)


__ADS_3

Setelah memasak aku pun segera mengambil handuk untuk mandi, rasa badanku sudah sangat lengket karena memasak tadi. Baru 3 gayung ku guyur kepalaku, ada suara cakaran diatas plafon.


kreekk kreekk


berulang-ulang kudengar suara cakaran itu


Ku percepat mandi dan mengeringkan badan. Ketika aku mandi aku terkesiap melihat lastri yang sedang menonton tv. Anak kecil itu bergelayutan ditangan dan kaki lastri.


"Sar, kamu capek gak?"


"Eng.. enggak tri kenapa?"


"Pijitin pundak dan kaki aku sebentar, tiba-tiba sakit kayak baru ngangkat koper berat"


Wajar tri kamu ngeluh sakit, lah wong anak kecil itu gendongan di badan kamu. Tapi kemana yang lainnya ya.


Ketika aku masih berpikir keras, kurasa ada tangan yang menjalar dari punggungku menuju kedua pundakku mencengkeram dengan keras.


Sambil berjalan mendekati lastri, aku memegang kedua pundakku dan kubacakan ayat kursi. Bukannya berkurang sakitnya justru menjadi ngilu. Kubiarkan beberapa saat dan sakitnya mulai berkurang.


Kupijat pundak lastri dan kutiup pundaknya dengan bacaan al-fatihah.


kring-kring


Ponsel lastri berbunyi, sepertinya iya enggan menjawab. Dengan malas ia mengangkat telepon itu.

__ADS_1


"Halo, maaf pak saya gak bisa, bapak cari orang lain saja"


"Saya mohon bu, gak ada yang mau merias mereka bu. Mereka takut dengan riwayat kematian mereka. Saya mohon pertimbangkan bu"


"Ehmm.. baiklah saya akan bicarakan dengan asisten saya dulu, beri saya waktu 10 menit. Nanti saya kabarin"


Lastri menghela napas panjang. Kulihat ia terlihat bingung.


"Ada apa tri?" kataku membuka obrolan


"Kamu tahu kan berita pembunuhan semalam?"


"Ehmm.. apa hubungannya?" kataku mengeryitkan dahi


"Dari aku masuk kamar, keponakan keluarga yang meninggal itu udah hubungin aku untuk merias mereka. Aku jelas menolak, terlebih ketika dia bilang aku harapan terakhir karena sudah banyak yang menolak untuk merias" kata lastri dengan nada kesal


"Jangan kesal tri, mereka benar-benar meminta kita yang merias. Lebih baik kita buru-buru kesana. Kasihan jasad mereka kalau gak dikubur"


"Mereka siapa sar? Sumpah ya selama ini, mayat-mayat yang aku rias itu yang matinya normal. Aku belum pernah ...


kring kring


"Iya halo, baiklah baiklah, saya akan kerumah mbaknya, 15 menit saya dan asisten saya sampai" kata lastri sambil menghela napas panjang


"Ganti baju sar, ayo kita tunaikan gerakan kemanusiaan"

__ADS_1


Aku pun berganti baju dan berdandan tipis. Lastri ternyata sudah menunggu di depan pintu.


"Kamu aja yang nyimpen kuncinya sar"


Ketika aku sedang mengunci ada yang berbisik ditelingaku.


"Jangan lama-lama kami sudah menunggu kalian daritadi"


deg


*******


"Trimakasih ibu sudah mau datang. Mari saya antar kekamar" kata gina (Gina adalah keponakan keluarga itu yang menghubungi lastri)


Kulihat ada 5 meja dan 5 jenazah diatasnya. Aku menelan liurku.


"Sar, kamu rias anak-anaknya, biar aku saja merias bapak-ibu itu"


Aku pun mengangguk dan mengambil beberapa peralatan makeup. Sambil aku merias tak luput aku bacakan al-fatihah. Aku tertegun saat aku merias gadis didepanku ini, kukunya panjang indah tapi terawat sempurna.


"Jadi kamu ya yang mengganggu aku saat mandi tadi" kataku dalam hati


"Saya minta maaf"


Seketika darahku berdesir dan menatap lekat ke wajah gadis itu. Tiba-tiba jari gadis itu menyentuh tanganku.

__ADS_1


"Astaghfirullah" kataku pelan


Lalu ada yang memeluk kedua pinggangku dan aku merasa ada yang mencium kedua pipiku. Rasanya dingin..


__ADS_2