Perias Jenazah

Perias Jenazah
Pintu Ghaib (1)


__ADS_3

Semenjak kejadian waktu itu aku dan Rita menjadi sahabat baik. Begitu juga dengan pertemananku dengan Jeni dan Susan. Kami sering bertemu dan bertukar cerita satu sama lain tanpa mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Menurutku jika masih dalam koridor yang lurus tidak masalah dan aku bersyukur selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik.


Hari demi hari kujalani dan tak terasa sudah 4 bulan aku disini. Aku diberikan pekerjaan oleh Susan menjadi salah satu admin toko online miliknya. Susan memberikan aku hp android agar memudahkan aku bekerja tentu saja aku memintanya memotong dari gajiku. Dia juga mengizinkan aku untuk tetap merias jenazah. Aku juga semakin dikenal sebagai salah satu MUA jenazah dikota ini karena kemampuanku berkomunikasi dengan ghaib. Tak ayal terkadang aku diberikan bayaran lebih dan aku harus membayar lebih atas itu. Maksudku arwah jenazah yang kurias sering datang agar aku mendoakan mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka menggangguku karena aku menolak permintaan agar menjadi teman.


Tiga hari lagi Maya dan Mita akan pindah ikut denganku dikota. Alhamdulilah Maya menjadi salah satu penerima Bidik Misi di ITB jurusan Teknik Arsitektur. Dia ingin almarhum bapaknya bangga jika suatu hari ia bekerja dibagian konstruksi karena pekerjaan suamiku dulu adalah buruh bangunan. Oleh karena itu ia lebih memilih melepas masuk jurusan Kehutanan yang ia inginkan. Rencananya aku ingin bertandang ke rumah Diana untuk diantar ke tempat kontrakan yang pernah aku tolak.


*****


Tok ... tok ... tok


Tak berapa lama dari selang aku mengetuk si pemilik rumah membuka pintunya.


"Ibu, akhirnya datang juga. Aku kira ibu sudah lupa letak rumah ini." sambut hangat Diana. Diana memelukku erat didepan pintu.


"Ibu kan sudah 3 kali datang kerumah ini. Mana mungkin ibu bisa lupa. Ini ibu tadi belikan roti sambil jalan ke sini." kataku menyodorkan kotak roti untuk Diana.


"Ayo masuk, Bu. Ibu itu harusnya tidak perlu repot-repot membawakan aku oleh-oleh." Diana mengajakku duduk diruang tamu.


"Ibu mau minum yang hangat atau dingin?"


"Air putih saja, ibu kehausan dijalan tadi." kataku tersenyum tipis


Diana berlalu menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih. Roti yang tadi aku beli disajikan juga diatas piring.


"Ibu mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Diana


"Ehm. Kalau bisa sekarang saja, Nak. Ibu tidak enak izin terlalu lama dari toko."


"Oke. Saya ambil jaket dulu ya bu dikamar."


"Yuk, berangkat." kata diana lagi

__ADS_1


"Ayuk." sahutku berdiri


Hanya melewati 3 gang dari jalan utama tibalah kami dirumah tersebut. Kebetulan pemiliknya sudah dihubungi oleh Diana terlebih dahulu, jadi kami tidak perlu menunggu lama didepan rumah kontrakkan. Ternyata pemiliknya merupakan seorang muslim, aku sedikit lega karenanya.


"Mau lihat-lihat ruangannya dulu bu?" kata pemilik kontrakkan dengan ramah.


"Iya, Bu. Saya penasaran dengan ruangan didalam secara langsung walaupun sudah pernah lihat difoto."


Si ibu memutar kunci kearah kiri. Sepertinya kunci rumah ini masih bagus terbukti dengan mudah kunci diputar.


Ceklek


"Mari, masuk."


Dari luar rumah ini berdinding keramik warna hitam dengan bagian sisi dinding samping berwarna putih. Bagian dalam rumah sudah di cat warna putih tetapi banyak bagian dinding yang berjamur.


"Belum di cat ulang ya, Bu?" tanyaku menoleh ke ibu Sari. Baru saja Diana membisikkan nama beliau.


"Sebenarnya sudah saya cat ulang, Bu. Mungkin karena kesalahan awal rumah ibu saya dibangun jadinya seperti ini." jawab ibu Sari. Aku merasa tidak enak hati karena sudah menanyakannya.


3 Hari Kemudian


"Ibu, kok rumahnya jelek?"


"Lebih bagus rumah kita yang dikampung tahu bu, bersih lagi." gerutu Mita


"Hush ... Jangan ngomong gitu ahh dek. Dosa tahu. Kamu mau ibu jadi sedih?" tanya Maya mendelik


"Bukan gitu loh kak, maksud adek rumahnya kok seperti tidak terawat seperti ini." kata Mita hati-hati


Aku lalu mendekati Maya dan Mita yang sedang mengeluarkan barang dari tas dan memilahnya.

__ADS_1


"Maaf ya nak, uang ibu hanya mampu mengontrak rumah ini. Do'akan ibu punya rezeki yang lebih untuk kalian." kataku mengusap kepala kedua anakku


"Bu, maafin Mita."


"Mita tidak bermaksud untuk membuat ibu sedih. Pokoknya Mita akan senang kalau bisa sama-sama terus sama ibu." peluk Mita erat kepadaku. Aku lalu mengusap punggung dan kepala Mita.


"Oh ya bu, Mita mau memiliki kamar yang itu ya. Kamarnya lumayan besar dibanding yang lain." tunjuk Mita kamar paling ujung dekat pintu belakang


"Jangan ya, Nak. Lebih baik kita jadikan saja kamar sholat. Kamu dan kakakmu sementara tidur berdua dulu." terangku menjelaskan


"Tapi kenapa, Bu? Pokoknya Mita mau tidur di kamar itu titik."


Mita meninggalkan aku dan Maya diruang tengah yang belum terisi barang-barang.


"Apa alasannya, Bu?" bisik Maya ditelingaku


"Beneran ingin tahu?" bisikku


Maya yang hapal akan tingkah laku ku lalu berlari kekamar Mita.


"Dek, ayo pindah kekamar tengah saja temani kakak. Lagi pula bulan depan kakak tinggal di asrama bukan dirumah ini." bujuk Maya ke Mita


"Adek kan ingin mandiri. Jadi kalau kakak pergi aku tidak akan ketakutan tidur sendiri."


Maya menghela napas, dia bingung menjelaskan ke adeknya keadaan sebenarnya.


"Dek ... dek ... Kamu sudah 16 tahun tapi belum hapal dengan kebiasaan ibu. Pasti kamar ini ada hantunya, jadi ibu sampai melarang kamu tidur disini." batin Maya


Gubrak


"Huuaa ... Ada hantu." pekik Maya

__ADS_1


Maya terbangun dari duduknya dan menghampiri aku diruang tengah. Sementara Mita terbengong melihat tingkah laku kakaknya.


"Dasar kakak penakut. Padahal tadi bunyi dari kipas angin yang tak sengaja aku tendang."


__ADS_2