Perias Jenazah

Perias Jenazah
Jenazah Menangis


__ADS_3

Pagi hari ini aku diminta Jeni untuk menggantikan dirinya merias jenazah. Jeni bilang ia harus datang ke pentas perpisahan sekolah anaknya yang bungsu dan dia baru teringat pagi ini. Mungkin terdengar lucu seorang wanita berumur 47 tahun masih mempunyai anak kecil. Tapi yang namanya anugerah dari yang Kuasa tidak dapat kita tolak.


Untung saja aku sudah mandi dan sarapan. Jadi aku tidak tergesa-gesa untuk berangkat merias. Setelah menutup telepon dari Jeni aku berganti baju dan merias diri senatural mungkin.


"Dandannya kurang menor, Bu. Masa kalah sama mayat yang ibu rias nanti." ceplos Mita. Mita ini anaknya suka berbicara ceplas-ceplos walaupun terkadang ucapannya selalu benar.


"Hushh ... Kalau ngomong dijaga dek." tepuk Maya dipundak Mita


"Bukan masalah ibu tapi kalau yang tersinggung justru hantunya gimana. Dia datang kerumah ini lalu ..."


"Usst. Dia datang jangan dibicarakan lagi." jari telunjukku sudah berada didepan bibir. Menyisakan Mita dan Maya yang terpaku akan ucapanku.


"Bu, aku ikut ya." Maya sudah terlihat takut dari mimik wajahnya.


"Ehh apaan. Terus kalau kakak ikut, akunya sama siapa?" sahut Mita setengah kesal


"Ya, kamu sama temanmu dek. Lagipula kamu kan berani tidak seperti aku yang penakut." balas Maya tak kalah


"Sudah-sudah jangan pada bertengkar. Jangan lupa masak ya, nanti ibu bawakan martabak kalau pulang."


"Yeah." Saking senangnya mereka berdua melompat-lompat.


"Maya ... Mita ... Ibu berangkat dulu ya." kataku kembali


"Iya, Bu." kata mereka bersamaan


Saat berada diangkot sosok yang berada dibelakang Mita kini duduk diangkot bersamaku. Dia duduk disamping pengeras suara, menangis sesenggukan seolah menyesali sesuatu yang ia lakukan.


"Huu ... hikss ... huu."

__ADS_1


Kemudian ia tertawa cekikikan seolah tak pernah menangis. Aku sampai heran ternyata bukan hanya manusia yang bisa depresi. Kira-kira wanita ini meninggalnya karena apa?


Hingga angkot ini berhenti ditempat yang aku tuju. Ia masih tetap menangis dan tertawa bergantian. Jika ada orang yang bisa melihat hantu sama sepertiku, mungkin ia akan turun sebelum sampai ditempat.


"Panti Asuhan Dharma Bhakti." kataku membaca plang didepan pagar.


Sekali lagi aku melihat lokasi yang dibagikan Jeni dipesan Whatsapp untuk memastikan kembali. Panti asuhan ini terlihat sepi hanya 5 orang sedang duduk-duduk dibalkon depan. Lalu ada seorang ibu tua yang mungkin usianya sudah 65 tahun datang menghampiri aku.


"Ibu Sarti bukan temannya Ibu Jeni yang menggantikan merias ?" kata ibu Wina. Aku pun mengiyakan dan dipersilahkan masuk. Panti asuhan ini sepertinya sudah sangat tua terlihat dari bentuk ornamen jendela dan lantai ubinnya. Lampu yang menggantung menggunakan besi yang menjuntai serta kipas angin putar diatas plafon.


Aku lalu dibawa keruang tengah dimana jenazah yang dengan baju cantiknya tertidur pulas untuk selamanya. Wajah wanita itu sama dengan sosok yang mengikuti aku dari rumah. Saat ditinggal sendiri diruang tengah, aku merasa merinding. Bagaimana tidak sepasang mata disetiap sudut melihatku merias wanita ini.


"Bismillah." Tak lupa aku membaca surat Al-Fatihah untuk si mayit. Lalu aku mulai merias dengan mengusapkan pelembab yang aku campur dengan alas bedak. Sesudahnya ketika aku ingin merias bagian mata, air matanya mengalir dari sudut kanan kearah telinga dan sudut kiri dekat hidung. Berulang kali aku hapus air matanya hingga alas bedaknya pun memudar. Aku dekatkan jari telunjukku ke hidung jenazah wanita ini dan memegang denyut nadinya.


Nihil. Bahkan tangannya terasa dingin menandakan sudah tak ada lagi roh dalam tubuhnya. Aku bacakan lagi surat Al-Fatihah sebanyak 3 kali tak lupa surat Al-Ikhlas. Perlahan air mata yang keluar sedikit berkurang.


"Aku mohon, berdamailah dengan takdir. Tolong jangan persulit pemakamanmu." kataku berbisik


"Apa ada yang bisa aku bantu? Mungkin kau ingin aku menyampaikan pesan kepada pemilik panti ini." Detik itu juga tangisan wanita ini berhenti. Dia berbisik ditelingaku.


"Aku mohon sampaikan maafku untuk bu Wina. Selama 15 tahun terakhir ini aku selalu menyusahkannya bahkan aku tak peduli dengan keadaannya. Sampaikan juga rasa terima kasihku karena sudah menjadi ibu angkat terbaik yang sangat sayang kepadaku sedari aku dipanti ini. Satu hal lagi, aku ingin membawa cincin pernikahanku. Letaknya dilemari baju bagian bawah, aku simpan didalam kartu undangan pernikahanku dulu."


"Baiklah kalau itu adalah permintaan terakhirmu. Tetapi sebelumnya aku ingin meriasmu terlebih dahulu." kataku gugup


"Lakukanlah."


Lima belas menit berlalu dan jenazah wanita itu sudah selesai aku rias. Tak lama kemudian bu Wina datang mendekati aku. Dengan penuh hati-hati aku menyampaikan pesan terakhir wanita itu kepada bu Wina. Tanpa ada kata, bu Wina menggandeng tanganku menuju kamar didepan peti jenazah itu. Ia membuka lemari dan mencari kartu undangan tersebut. Pecah tangis ibu Wina menemukan kartu undangan yang telah lusuh apalagi setelah cincin itu jatuh ke lantai.


"Wulan ... Maafkan ibu, maafkan ibu nak."

__ADS_1


"Huu ... hiks ... hiks."


"Mengapa hidupmu sangat malang, Nak. Kau ditinggalkan ibumu dipanti asuhan ini."


"Huu ... hiks ... huu."


"Setelah kau menikah tak lama suamimu meninggal dan keluarga suamimu mensia-siakan hidupmu dan membuatmu menjadi gila selama 5 tahun."


"Bahkan 10 tahun terakhir kau tak kunjung mendapat jodoh kembali dan dicemooh oleh semua orang."


"Huu ... hiks ... hiks."


"Maafkan ibu yang tak bisa berbuat lebih untukmu. Ibu mohon tenanglah bersama Tuhan dan disurga dengan suamimu."


Perasaan terpendam ibu Wina tercurah sambil memeluk foto Wulan. Aku yang melihat bu Wina menangis juga ikut menangis. Betapa kuat ikatan batin mereka walau bukan sedarah. Wulan tersenyum ke arahku dan menunjukkan jarinya.


"Ibu, Wulan sudah tenang sekarang. Ibu harus ikhlas menerima kepergian Wulan. Cincin ini lebih baik kita pasangkan dulu bu, sebelum lupa." Aku menuntun ibu Wina ke ruang tengah menuju peti jenazah Wulan. Bu Wina terlihat menahan tangis saat memakaikan cincin ke jari manis Wulan.


"Ibu ... Maaf, bolehkah saya bertanya?" tatapku ke bu Wina


"Tentu saja boleh, bu Sarti."


"Mengapa hanya sedikit orang yang mengantar kepergian Wulan?" tanyaku penuh arti


Bu Wina menghela napas menatap jendela luar.


"Bu, maaf saya telah lancang. Tidak perlu dijawab, Bu." kataku pelan. Bu Wina berbalik badan dan berjalan ke arahku. Dia memegang tanganku erat dan tubuhnya bergetar. Aku memeluknya dan mengusap-usap punggung bu Wina.


"Sa-saya ti-tidak ingin dihari te-terakhir Wulan didunia, dia mendapat hinaan dan cemooh dari orang-orang. Termasuk anak panti disini, mereka bahkan takut dengan Wulan. Wulan itu hanya terguncang batinnya selama ini." Bu Wina melepaskan pelukanku, ia mengucapkan banyak terima kasih. Bahkan aku diberi uang cukup banyak dibandingkan yang dulu-dulu.

__ADS_1


"Bu, ini terlalu banyak." Tapi Bu Wina memaksaku untuk menerimanya.


"Uangnya buat keperluan anak ibu sekolah." tutup Bu Wina. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada bu Wina. Wulan tengah berdiri dibelakang bu Wina, dia mengucapkan terima kasih terhadapku lalu ia berubah menjadi kepulan asap putih dan menghilang.


__ADS_2