Perias Jenazah

Perias Jenazah
Pulang Kampung


__ADS_3

Aku membopong diana ke ranjang. Dia terlihat letih dan pucat. Aku ragu meninggalkan diana tidur sendiri dikamar, takut jika ada ghaib yang ingin meminjam raganya kembali. Jadi aku putuskan untuk tidur menemani diana.


Aku lanjutkan dzikirku hingga aku mengantuk disajadah. Disaat aku tidur aku merasa ada jari yang menyentuh telapak kaki, dia mencoel kakiku. Aku tak menghiraukan keberadaannya dan masih memejamkan mata. Tak lama dari itu, ada yang tidur disampingku. Sosok itu membelakangi aku, tapi aku lebih memilih tidur hingga pagi menjelang.


Aku terbangun saat adzan sholat. Karena aku begadang, aku tak terbangun saat tahajud. Saat aku hendak berdiri untuk keluar kamar ada yang berdiri dipojok lemari membelakangi aku, aku terpaku beberapa detik. Cepat-cepat aku keluar kamar untuk mengambil wudhu.


Sesudah sholat aku berdoa untuk kelapangan kubur lastri dan semoga diana tidak diganggu lagi. Aku membereskan semua barang-barangku karena aku akan pulang kampung. Dan mungkin aku tidak akan tinggal dikontrakkan ini. Karena seyogyanya almh. lastri yang punya andil.


Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Tapi matahari enggan bersua dengan bumi.


"Ya Allah semoga hari ini jangan hujan, ijinkan hamba pulang kampung hari ini. Aamiin" gumamku dalam hati


"Loh, ibu mau kemana?" ucap diana yang tiba-tiba sudah didepan pintu kamarku yang terbuka.


"Ehh.. nak diana sudah bangun. Ini lagi membereskan barang-barang. Ibu mau pulang kampung" ucapku


"Kenapa pulang kampung bu? Saya tidak mengusir ibu dari sini" ucap diana


Diana mendekati aku, dia duduk disampingku sekarang.


"Ibu sudah 3 bulan belum pulang kampung. Ibu rindu dengan anak-anak dikampung" ucap sambil memegang pundak diana


"Kalau itu alasannya aku tidak bisa menahan kepergian ibu dari sini" ucap diana menghela napas


Aku pun tersenyum seraya mengangguk perkataan diana.

__ADS_1


"Tapi ibu kesini lagi bukan dan menempati kembali kontrakan ini?" tanya diana


Dia menatapku dengan tatapan dalam seperti mengatakan aku masih butuh bahu untuk menangis.


"Untuk itu ibu butuh waktu nak diana. Ibu masih syok dengan kepergian ibumu, lagipula bagaimanapun juga barang-barang dirumah ini adalah kepunyaan lastri. Ibu merasa tidak pantas disini lagi diana" ucapku kembali


"Bu rasti tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana pun juga ibu yang membantu pemakaman ibuku dan aku yakin ibuku juga pasti mengharapkan ibu masih menempati kontrakan ini" ucap diana sambil memelukku


Disaat aku memejamkan mata untuk sesaat, ada tubuh lain yang ikut memelukku.


"Lastri apakah itu kau? aku mohon biarkan aku pergi untuk sejenak. Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Jangan khawatir aku akan mengunjungi kuburanmu jika aku memang ditakdirkan kembali dikota ini" gumamku dalam hati


Lalu pelukan itu terlepas disaat diana juga melepas pelukannya.


"Ibu tunggu dulu disini ya" ucap diana meninggalkan kamar


"Lebih baik ibu yang simpan kotak ini. Saya yakin ini lebih bermanfaat untuk ibu dan ibu pasti akan senang kalau bu rasti mau menerimanya" ucap diana sambil tersenyum


Tiba-tiba ada angin yang berhembus dari jendela.


"*Terimalah rasti, aku ingin kau menggunakannya dengan baik"


Suara itu berbisik ditelingaku*


"Baiklah saya terima pemberian nak diana. Semoga berkah ya" ucapku tersenyum

__ADS_1


"Kalau gitu sekarang saya mandi dulu bu setelah itu kita sarapan dan berangkat" ucap diana


Setelah diana keluar dari kamarku aku baru ingat kalau aku juga belum mandi.


"Ya Allah, gara-gara sibuk beres-beres jadi lupa mandi dulu" ucapku menepuk jidat


Aku pun segera menyelesaikan barang-barangku dan bergegas mandi saat diana masuk kekamarnya kembali.


****


"Sudah siap bu?" tanya diana


Aku pun mengangguk dan membawa barang bawaanku keruang tv.


"Barang ibu hanya ini?" tanya diana menunjuk dua item bawaanku


"Iya, ibu memang sengaja tidak membawa barang yang banyak kekota" ucapku kembali


"Yaudah, yang berat biar saya yang angkat bu" ucap diana membawa kotak make up


"Kita makan bubur ayam dekat gang itu ya, yang dekat dari sini hanya itu" ucapku kembali


Aku mengunci pintu rumah dan kuncinya ku serahkan ke diana.


"Terima kasih lastri kamu telah baik padaku. Terima kasih atas 6 bulan kebersamaan kita. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu"

__ADS_1


Aku kembali menoleh ke arah pintu saat digerbang, lalu aku melihat lastri didepan jendela.


"Selamat tinggal lastri"


__ADS_2