
"Aku yakin kamu pasti bisa sar, percaya dengan dirimu" kata lastri meyakinkanku
"Kamu percaya sama aku tri? kalau aku malah mengacaukan gimana?
"Kamu kan gak sebodoh itu sar, percaya sama aku, kamu itu bisa" kata lastri sambil memegang tanganku
tin tin tin
suara klakson motor pak jono
"Pak jono udah datang tuh sar, aku udah minta tolong supaya anterin kamu"
"Yaudah aku berangkat dulu ya.."
"Iya.. hati-hati ya sar"
Ku buka pintu depan, disana udah ada pak jono dan ci rika dimotor. Iya ci rika duduk diatas motor pak jono, duduk menyamping ke arah kanan.
Dengan takut aku duduk disamping ci rika.
"Bu rasti, duduknya kok jauh duduknya dekat pegangan jok? kata pak jono
"Eng.. gak apa pak, yuk jalan pak"
Kemudian pak jono melajukan motornya, saat ada polisi tidur pak jono berkata
"Bu rasti kan badannya kecil ya bu, kok motor ini jadi berat banget ya, kayak bonceng tiga loh" kata pak jono mengajakku bicara
"Pak maaf, memang ada yang naik selain saya, makanya saya duduk di ujung, bapak melajukan motornya pelan-pelan aja ya pak"
"Mmmm.. maksud ibu aa..da hantu ikut bonceng" kata pak jono ketakutan
"Sstt.. jangan dirasani pak"
__ADS_1
Pak jono diam, ku lihat wajahnya pucat.
"Udah nyampe nih bu"
"Trima kasih pak, ini uangnya" kataku sambil menyodorkan uang 10 ribu rupiah.
"Tidak usah bu, anggep saja saya sedekah untuk ibu, buang sial sekalian" Kata pak jono lagi
"Udah bapak terima aja, insya Allah bapak gak kena sial, ini kan rezeki bapak mencari nafkah"
"Suwun nggeh bu"
Aku pun melangkah menuju dalam rumah ci rika, didepan gerbang aku sudah disambut oleh anaknya.
"Loh, ibu sendiri. Bu lastri gak ikut?"
"Enggak mbak, bu lastri lagi sakit sepulang dari gereja tadi"
"Oh ya ya.. mari masuk bu, saya antar ke kamar"
Ketika pintu kamar dibuka, hawa busuk menyeruak dicampur bau kapur barus yang menyengat.
Perlahan aku mendekat ke sisi ranjang dan ku buka peralatan make up. Terlihat luka bakar yang masih memerah di wajah sebelah kanannya.
Akupun teringat pesan lastri saat dulu, jika ada mayat yang wajahnya rusak, harus ditutup dulu dengan perban yang diberi sedikit lem.
Aku pun mulai menggunting perban dan kapas. Ketika aku mau menempelkan perban diwajah jenazah ci rika. Tiba-tiba tangan kananku dipegangnya dan lampu kamar berkedip-kedip.
"Astaghfirullahhaladzim" pekikku pelan
Aku pun membacakan al-fatihah untuk ci rika.
"Yang tenang disana ci, aku hanya ingin meriasmu untuk terakhir kali"
__ADS_1
Perlahan lampu mulai berhenti berkedip. Kulanjutkan pekerjaanku kembali dan syukur tak ada gangguan lagi.
Ketika aku ingin memoleskan lipstik terdengar suara.
"Aku ingin terlihat cantik dengan lipstik merah"
Aku pun manggut-manggut.
"Alhamdulillah selesai" gumamku dalam hati
Tak berapa lama saat aku membereskan peralatan make up, anak ci rika pun masuk.
"Udah selesai ya bu? Kok lipstiknya warna merah bu? kan saya minta warna nude biar gak ngejreng" dia mendekati jenazah ibunya
"Request bu rika sendiri mbak" kataku spontan
"Hahhh.. ibu jangan bercanda deh. Masa orang udah mati bisa ngomong" kata anak bu rika dengan wajah heran
"Mbak, kita hidup didunia ini berdampingan dengan alam selanjutnya dan ada orang yang diberi kelebihan untuk mengenal alam seperti itu, contohnya saya"
Anak bu rika pun menggangguk tanda paham akan ucapanku.
"Pak tolong angkat jenazah ibu saya ke dalam peti" kata anak bu rika terhadap jemaah diluar
Jenazah ci rika diangakat, sementara aku dan anaknya ci rika masih dalam kamar itu.
"Bu, ini honor untuk ibu terima kasih ya udah mau datang. Sekali lagi terima kasih"
"Iya mbak sama-sama"
******
Ketika aku berjalan mendekati pintu depan rumah, tiba-tiba ku lihat ada sosok lelaki dengan wajah gosong yang tak bisa kukenali.
__ADS_1
"Siapa lelaki itu"? gumamku dalam hati