
"Hemm... ibu tidak bisa janji. Kalau hal itu salah, mana mungkin ibu bilang 'iya'." Aku terduduk dan menatap mata Mita.
"Aku tidak melakukan hal bodoh atau kesalahan bu. Hanya menerima pemberian dari temanku saja." kata Mita dengan muka serius
"Mengapa kamu meminta izin, Nak? Pemberian itu ya harus diterima." jawabku tersenyum
"Sebenarnya bukan pemberian sih bu, tapi amanah dari temanku." Mita yang melihatku tengah mencerna perkataannya, menarik tanganku agar terbangun dari duduk. Sepertinya Mita ingin menunjukkan barang yang ia bicarakan.
Mita menarik sebuah kotak tipis dari sisi dinding samping lemari. Mita lalu membuka bungkusan kotak tersebut dan mengeluarkan isinya. Ternyata barang yang dimaksud Mita adalah sebuah cermin. Cermin berbentuk oval dengan sisi-sisinya yang berfigura klasik berwarna perak.
"Ini dia bu, pemberian dari temanku. Bagus kan?"
"Sedari awal aku main kerumah temanku, aku selalu suka melihat cermin ini. Karena motifnya unik. Iya kan, Bu?" cerocos Mita. Aku hanya mengangguk dan berusaha melihat dengan mata batin, apa yang tersembunyi dari cermin ini.
"Tapi..." Mita menghentikan perkataannya
__ADS_1
"Tapi apa, Nak?" kataku penasaran
"Masa bu, temanku berpesan jaga dengan baik cermin ini. Jangan sampai jatuh dan pecah."
"Kalau pecah tinggal bawa ke tukang kaca kan, beres urusan. Benar tidak, Bu?" lanjut Mita
Aku benar-benar tidak bisa menembus alam yang ada didalam cermin ini. Aku rasa cermin ini punya rahasia besar sebelum sampai ke putriku. Energi negatif yang dipancarkan cermin ini begitu kuat, energiku seperti habis hanya dengan memusatkan pikiran.
"Ibu rasa cermin ini tidak baik, Nak. Kamu kembalikan besok dengan temanmu." kataku datar
"Ayolah bu, aku begitu suka dengan cermin ini. Aku mohon... boleh ya." Mita memasang wajah melas yang membuatku tidak tega untuk bilang tidak.
"Hihihihihihi...."
Tubuhku merinding hebat mendengar perkataan perempuan itu. Tidak salah lagi, energi negatif dan bayangan hitam yang mendampingi Mita berasal dari cermin tersebut.
__ADS_1
Malam Harinya
Malam semakin larut, suara jangkrik dan burung gagak lebih terdengar dibanding suara televisi yang aku setel. Entah mengapa malam ini terasa sangat panas, padahal kipas angin aku setel nomor satu. Aku tiduran sambil menonton televisi dan tak terasa mataku mulai mengantuk. Akhirnya televisi aku matikan dengan remote ditanganku. Perlahan aku memasuki alam mimpi, aku melihat seorang wanita londo cantik khas wajah belanda. Dia begitu bahagia menikah dengan pribumi yang hidup digubuk reyot. Walaupun miskin pasangan tersebut sangat bahagia apalagi dengan adanya bayi dikandungan wanita londo tersebut. Pancaran kebahagiaan terpancar dari keduanya.
"Astaghfirullah... Sudah jam berapa ini? Aku belum tahajud." Aku terbangun tiba-tiba tanpa tahu akhir dari cerita mimpi tersebut. Lalu aku berdiri dan berjalan ke arah sumur untuk mengambil wudhu. Aku mengambil air wudhu masih dengan perasaan was-was.
"Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu . Wa asyhadu anna Muhammadan'abduhu wa rasuuluhu Allahumma-j alnii minattabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alnii min 'ibadatishalihin." Sesudah membaca do'a wudhu, perasaanku sedikit membaik.
Jam menunjukkan pukul 02.30 menit. Sejak rakaat pertama hingga aku tutup dengan sholat witir. Wanita itu terus bolak-balik berjalan dari pintu dapur ke ruang tamu dengan menimbulkan suara.
Srekkk... Srekkk... Srekkk
Suara itu timbul karena didepan televisi tergelar karpet plastik.
Aku masih fokus dengan berdzikir dan tak menghiraukan suara-suara yang ada dibelakangku.
__ADS_1
"**Hei, manusia bodoh hentikan do'amu. Tubuhku bisa mati kepanasan." jerit wanita itu tepat disamping telinga kiriku
"Haahhhh..."