Perias Jenazah

Perias Jenazah
Luka Bakar (3)


__ADS_3

Ketika aku sudah didepan pintu menuju gerbang, ada bisikan ditelingaku.


"Masih ada korban lain.. tolong dia"


Seperti suara yang biasa membangunkan aku untuk sholat tahajud.


"Ibu mau dianter sama adik saya?" kata anak ci rika


Aku pun tersadar dari lamunanku.


"Ehh.. Tidak perlu repot-repot mbak. Oh ya, masih ada polisi atau warga disekitar tempat kejadian tidak mbak?"


"Kayaknya ada bu. Apa ada hal aneh bu?"


Aku pun mengangguk.


"Kalau gitu ibu harus ditemani warga atau RT setempat. Ibu duduk dulu disini ya"


Aku pun duduk dikursi teras sambil menunggu anak ci rika kembali.


Tak lama kemudian anak ci rika kembali dengan pak tunut dan pak marzuki.


"Perkenalkan bu, ini pak marzuki selaku ketua RT dan pak tunut ini warga setempat yang akan menemani ibu ke toko roti ibu saya. Oh ya, saya tinggal kedalam ya bu"

__ADS_1


"Trimakasih mbak" kata kami bertiga kompak


"Saya sudah mendengar cerita dari mbaknya tadi, mari kita jalan sekarang bu" sahut pak marzuki


****


Kami bertiga ke lokasi kejadian. Rupanya disana ada anggota kepolisian yang masih berjaga-jaga.


"Maaf ada urusan apa bapak dan ibu kesini. Apa ada yang bisa saya bantu" kata pak polisi dengan tegas


"Maaf pak saya ketua RT dikampung ini. Kenalkan pak ini bu rasti, beliau ini punya kemampuan melihat hal yang kasat mata pak. Saya dan pak tunut menemani bu rasti untuk mencari warga kami yang mungkin jadi korban kebakaran dini hari tadi"


"Maaf kami sudah memeriksa dan mencari bukti dari kebakaran ini. Kami nyatakan tidak ada korban jiwa selain bu rika"


Suara itu kembali berbisik ditelingaku.


"Apa bapak sudah mengecek pintu bagian belakang?" kataku menatap polisi muda itu


"Bukankah pintu itu sudah tidak berfungsi lagi?" polisi itu balik menatapku


"Sepertinya memang pintu belakang belum diperiksa, bagaimana jika kita cek sebentar untuk membuktikan perkataan bu rasti. Pak polisi bisa ikut menemani, biar pak tunut yang berjaga diluar"


Polisi itu berpikir sejenak dan mengangguk setuju dengan usul pak marzuki.

__ADS_1


Kami pun masuk kedalam toko itu. Bau asap masih terasa, kami berjalan hati-hati diantara puing-puing yang terbakar. Ketika sudah sampai ke pintu belakang, pak marzuki dan pak polisi berusaha membuka pintu belakang dengan cara mendobraknya. Tak lama pintu berhasil dibuka. Tak ada tanda-tanda yang kami temukan hanya tembok tinggi membatasi ruko.


"Aneh, apakah suara itu berbohong" gumamku dalam hati


Aku mengelilingi, melihat benda-benda disekitar, tiba-tiba ada yang menari baju belakangku menuntunku kearah lemari persis disamping pintu. Seketika mataku terbelalak dan berteriak. Ada mayat lelaki terjepit diantara tembok.


Rupanya tembok itu memiliki lubang cukup besar untuk melarikan diri tetapi nahas lelaki itu terjepit dan ikut terbakar.


Pak polisi segera menelpon satgas dan mobil jenazah. Kami pun keluar ruko sambil menunggu yang lain. Sedangkan pak marzuki menelpon suami ci rika memberitahu perihal penemuan mayat tersebut.


Tak lama kemudian satgas polisi dan suami bu rika datang ketempat kejadian. Suami ci rika mengenali lelaki itu dari postur tubuhnya.


"Lelaki ini adalah mantan karyawan yang sudah saya pecat 2 minggu yang lalu. Sepertinya dia hendak berbuat jahat tapi ternyata takdir berkata lain" ucap suami ci rika dengan nada sedih


"Lalu mengenai lubang didinding sebesar ini apakah bapak tahu" tanya pak polisi


"Saya dan istri berencana membuat brankas tersembunyi didalam dinding. Baru kami datangkan tukang kemarin pagi dan ternyata musibah ini melanda keluarga kami"


"Sabar ya koh, smoga koko dan keluarga diberi ketabahan" kata pak tunut mengusap punggung suami ci rika


"Baiklah kalau gitu pak, sebaiknya bapak datang ke kantor untuk memberikan laporan ini"


"Iya pak, saya akan kesana dengan pegawai saya untuk memberikan saksi dan laporan"

__ADS_1


Aku pun bernapas lega dan meminta izin untuk pulang.


__ADS_2