
Sesampainya dirumah aku segera kekamar mandi untuk bersih-bersih badan. Rasanya segar sekali seolah penat dan rasa takut pun hilang. Ku lanjutkan dengan wudhu untuk melaksanakan sholat ashar. Aku berusaha sholat dengan khusyuk tanpa ada pikiran yang mengganggu.
Selesai sholat aku lanjutkan dengan berdzikir. Lalu ana dan desta masuk ke kamarku.
"Loh ibu masih sholat, yaudah ana dan desta diluar dulu ya bu" kata ana yang masih memegang gagang pintu
"Ndak usah, ibu sudah selesai kok. Kalian mau bicara apa?" kataku sambil melipat mukenah dan sajadah
"Bukan hal penting bu. Ini ana dan desta punya rezeki sedikit untuk ibu dan adik-adik. Maafin kami ya bu, jarang mengunjungi ibu" kata ana kembali. Ana mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna cokelat dari saku celananya. Bungkusan amplop itu diberikan kepadaku.
"Berkeluarga membuat kami sedikit melupakan ibu" kata desta terisak
"Ibu sangat senang kalian kesini dan ibu selalu berdoa semoga anak-anak ibu diberikan kesehatan, rezeki yang lancar dan kebahagiaan dalam berkeluarga. Ibu hanya meminta satu permintaan, kalian jangan meninggalkan sholat dan jangan pernah lupa untuk mendoakan alm. bapak dan juga ibu" kataku sambil memeluk erat ana dan desta.
"Itu pasti bu, desta tidak akan pernah lupa mendoakan bapak dan ibu"
"Ana mohon ibu jangan bekerja lagi ya. Apalagi jadi perias jenazah"
Tiba-tiba lampu kamar yang tadinya menyala normal menjadi berkedip-kedip seperti mau mati. Samar-samar ada kepulan asap didekat pintu.
"Aku tahu kamu marah lastri"
Dan lampu pun menyala normal kembali.
"Kalian pasti tahu dari adik-adikmu ya, maya dan mita" kataku selidik
Ada rasa takut diwajah ana dan desta.
"Kalau ibu butuh modal, insya Allah ana dan desta pasti akan bantu ibu" kata ana memegang tanganku
"Kita bicarakan bersama nanti setelah sholat isya ya nak, sudah jam 5 sore juga. Sekalian ada yang mau ibu bicarakan serius juga"
"Lauk yang kalian bawa tadi pagi sudah dihangatkan kembali apa belum?" kataku kembali
"Belum bu" kata anakku bersamaan
"Yasudah.. Kita ke dapur dulu yukk. Sekalian menyiapkan makan malam. Kasihan yosi dan alifah kalau makan terlalu malam" ajakku keluar dari kamar
Kami bercengkrama seperti biasa layaknya sebelum mereka menikah. Bermain didapur dan berceloteh ringan. Untung saja yosi dan alifah sedang bermain boneka diruang televisi bersama ayah mereka, jadi kami bisa bernostalgia sebentar saja.
"Kok ibu tidak panggil maya dan mita? Giliran ada mbak ana dan desta, kita berdua dilupain" gerutu maya
"Iya nih ibu curang lohh" timpal mita
"Dek.. dek.. Gitu saja pakai acara cemburuan. Kan mbak berdua besok pagi mau pulang" balas desta
"Loh, bukan lusa kalian mau pulangnya?" tanyaku menghentikan mengaduk nasi
__ADS_1
"Maaf bu, bos desta tadi sms ada pekerja yang sakit dan tak ada pekerja baru. Jadi desta disuruh masuk lusa esok" kata desta menjelaskan
"Sebenarnya ana masih mau disini bu tapi kan kami satu mobil" kata ana menambahkan
"Yasudah tidak apa-apa. Ayo kita makan dulu, dipindahkan dulu diruang televisi. Jadi kita bisa makan bersama" kataku tersenyum
Kami makan bersama lagi hari ini. Senang rasanya melihat rona kebahagiaan diwajah anak dan menantuku. Cucuku pun makan dengan lahap dan tidak memilih soal makanan. Tak terasa adzan maghrib hampir berkumandang. Buru-buru kami rapikan sisa makanan dan mencuci piring. Karena kami ingin sholat berjamaah dimushola depan rumah.
Segera kami mengambil mukenah dan berwudhu dimushola. Suara imam sangat merdu hingga kami merasa khusyuk dalam melaksanakan sholat. Kami putuskan untuk mengaji sebentar sambil menunggu adzan isya. Yosi dan alifah ikut mendengarkan ibunya mengaji. Mereka benar-benar anak yang baik dan penurut. Padahal untuk anak seusia mereka sedang dalam fase nakal-nakalnya.
"Alhamdulillah sudah adzan isya buk" kata yosi
"Hoam.. Alifah sudah ingin tidur bu" timpal alifah
"Sabar ya sayang kita sholat isya sebentar" kataku mengelus kedua kepala cucuku
Mereka berdua mengangguk dan kami melanjutkan untuk sholat isya berjamaah.
Dirumah
Rupanya alifah dan yosi benar-benar merasakan letih. Buktinya sekarang mereka langsung tertidur saat sudah sampai rumah. Ana dan desta membopong anak mereka tidur dalam kamar.
Sedangkan maya dan mita menyiapkan cemilan dan minuman di atas meja untuk acara diskusi kami. Kami semua sudah duduk berkumpul diruang tv ini.
"Ana.. Desta.. ibu akan ceritakan rasa penasaran kalian tentang pekerjaan ibu"
"Kalian tahu bukan ibu dulu hanya seorang pedagang sayur keliling yang hasilnya tidak seberapa. Itu saja masih kurang untuk mencukupi biaya pendidikan maya dan mita, jadi ibu harus berjualan gorengan sore harinya"
Aku menghembuskan nafas dengan keras seolah-olah aku masih berada dititik masa lalu. Anak dan menantuku hanya terdiam dan mendengarkan pembicaraanku dengan seksama.
"Lalu sekitar 6 bulan yang lalu, almh. lastri menawarkan dan mengajak ibu untuk menjadi perias jenazah. Penghasilannya cukup besar jika dibandingkan berjualan sayuran apalagi untuk menyekolahkan..."
"Tapi itu bukan pekerjaan yang sembarangan. Apalagi untuk agama yang berbeda bu. Ana takut iman ibu runtuh dan ibu menjadi murtad" potong ana
Seketika lampu ruangan tv menjadi mati. Padahal sejak tadi baik-baik saja. Lalu tercium bau melati disekitar ruangan ini.
"Astaghfirullahalladzim... Astaghfirullahalladzim.." kata kami berulang kali
Tiba-tiba yosi menjerit, desta tergopoh-gopoh kedalam kamar. Ana pun berlari kekamar untuk melihat alifah. Alifah terkejut mendengar yosi menjerit dan menangis. Sementara yosi menutup mata dengan kedua tangan kecilnya. Mereka dibawa keluar kamar oleh ibu mereka sedangkan zaini dan rizal mencari lampu senter serta lilin untuk penerangan di ruang tv.
"Ibu.. Apa tidak sebaiknya pembicaraan ini dilanjutkan besok pagi saja" kata mita yang sudah ketakutan
"Terlanjur sudah dikatakan" kataku melihat kesemua penjuru ruangan disekitar
"Pangkulah anak-anak kalian" lanjutku
"Ana.. "
__ADS_1
"Iya bu.."
"Kamu tahu arti dari amanah?"
"Janji yang harus kita penuhi dan dijalankan bu"
Aku menghela napas panjang.
"Begitulah janji ibu dengan almh. lastri, ibu sudah berjanji untuk tetap menjadi perias jenazah. Kamu tidak perlu takut dengan pekerjaan ibu. Ibu kan bisa berkomunikasi dengan "mereka" dan ibu tahu batasannya. Ibu masih mengimani Allah SWT. Insya Allah, Allah akan menjaga dan melindungi ibu selalu"
"Tapi sampai kapan bu.. Kami takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sama saja ibu dekat-dekat dengan gerbang syaitan" ucap ana dengan nada tinggi
Ana adalah anak pertamaku. Dia adalah orang yang sangat mengkhawatirkan aku sejak dulu. Dia menjadi over protektive setelah bapaknya meninggal.
Tiba-tiba terdengar suara cakaran dari atas plafon dan tikus yang berlarian. Bau melati pun menyengat dibanding saat tadi.
"Buk.. Ada hantu lagi.. Hantunya sama dengan yang di walung makan tadi" kata yosi memeluk desta ketakutan
"Aku mohon tenanglah lastri. Aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku akan penuhi janjiku. Jadi tolong jangan ganggu anak, menantuku dan cucuku. Mereka tidak mengerti apa-apa. Al-fatihah..."
Aku memejamkan mataku. Dalam pandanganku yang gelap ini aku melihat sosok lastri marah akan ucapan anak-anakku. Tapi aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku tidak akan pernah mengkhianati janji yang telah aku buat.
Perlahan suara-suara diplafon menghilang seiiring dengan hilangnya bau melati dan lampu diruangan tv menyala.
"Alhamdulillah" kataku mengucap syukur
"Bu.. A-apakah tadi.." kata mita
"Usstt.. Kita kirimkan Al-Fatihah untuk almh. lastri. Semoga ia bisa tenang"
Kami pun membacakan lastri al-fatihah sebanyak 3 kali dengan satu tarikan nafas. Lalu ana memeluk tubuhku.
"Ibu.. Keputusan apa yang ibu ambil, ana dan adik-adik akan selalu mendukung ibu. Asal ibu jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari kami lagi"
"Mita sayang sama ibu" kata mita sembab
Hari ini anak-anakku memeluk haru ibunya. Aku sendiri sempat terharu ternyata aku sangat disayangi oleh anak-anaknya.
"Jadi ibu kapan pulang kekota?" kata desta melepaskan pelukannya
"Ibu ikut kalian ya sampai terminal XX" kataku menatap desta dan ana
"Kok gitu bu" ucap maya dan mita bersamaan
"Yee.. Mbah mau ikut sama alifah dan yosi" kata alifah kegirangan sampai melompat dikursi sofa yang sudah bolong-bolong
"Mbah.. Tapi teman hantunya mbah jangan diajak naik ke mobil ya. Masa tadi dia bisikin yosi dia mau ikut di mobil kita?" kata yosi yang menghentikan lompatan alifah dengan pelukan ketakutan
__ADS_1