
Sepulang dari panti asuhan aku mampir ke pasar guna membeli sembako untuk persiapan didapur. Maka dari itu aku membeli bahan sembako serta beberapa jenis sayuran yang tidak cepat membusuk. Untuk mie instan aku hanya membeli enam bungkus saja, berjaga-jaga jika tidak sempat menyiapkan makan pagi. Aku hanya membolehkan Maya dan Mita makan mie instan sebulan dua kali.
Tidak lupa aku menyedekahkan hasil keringat dengan para kuli angkut barang pasar. Dipasar ini ada lima orang kuli yang biasanya aku temui. Semuanya akrab denganku bahkan aku selalu mendapatkan jasa gratis.
"Alhamdulillah, terima kasih ya bu. Semoga panjenengan diberi kesehatan dan rezeki yang banyak." kata bu Ida
"Aamin. Aamiin."
"Semoga ibu selalu diberi kelancaran rezeki." timpal pak Yono
"Aamiin, ya robbal allamin."
"Ini saya titip untuk diberikan dengan pak Min dan ibu Endang." kataku seraya menyerahkan dua amplop dan dua kantong kresek berisikan sembako lengkap.
"Ibu, terima kasih. Aku tidak perlu khawatir tentang makan untuk tujuh hari kedepan. Ibu dan adikku pasti sangat senang melihat kantong kresek ini." peluk ahmad menyeka air matanya.
"Iya, Nak. Ahmad harus janji jangan pernah putus sekolah supaya bisa jadi orang sukses dimasa depan." Ahmad mengangguk dan mencium tanganku. Sungguh miris anak usia 10 tahun harus berjuang keras menghidupi keluarganya. Ibunya sakit-sakitan sejak lama dan ayahnya meninggal dunia saat ia berusia tujuh tahun.
Sebelum pulang kerumah aku menitipkan belanjaanku dengan Ahmad. Aku hampir terlupa ingin membelikan pizza pesenan anakku. Diujung gang pasar sebelah apotik ada kedai pizza rumahan yang selalu ramai. Rasanya enak
dan harganya tidak terlalu mahal. Aku memesan tiga potong pizza rasa beef barbeque dengan tambahan parutan keju diatasnya. Tak lupa aku membelikan Ahmad untuk bisa ia cicipi dengan keluarganya dirumah.
"Ibu belikan untuk Ahmad?" kata Ahmad menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Ini untuk Ahmad." balasku senyum. Mata Ahmad berbinar bahagia. Aku bersyukur mendapatkan rezeki lebih dan dapat berbagi dengan yang membutuhkan.
__ADS_1
Dirumah
Maya dan Mita rupanya tengah menanti-nanti kedatanganku. Mereka duduk diteras rumah beralaskan tikar sambil melipat baju. Ketika aku turun dari becak motor mereka berdua menghampiri diriku dan membantu mengangkat
barang belanjaan dari pasar.
"Ehm ... Wanginya ... Ibu jadi membeli pizza ya. Aku kira ibu hanya mengiyakan ucapan Mita." kata Maya dengan menata barang belanjaan didapur.
"Tapi kok bukan pizza hut, Bu." timpal Mita
"Kamu ini dek, bersyukur kenapa. Pizza kw juga tetap enak kok." sahut Maya
"Lain kali ibu belikan ya. Tadi ibu baru ingat waktu sudah dipasar. Benar kata Maya, pizzanya enak. Enak banget malahan." kataku mencoba membujuk
Mau tidak mau Mita tetap membuka mika pembungkus roti pizza. Bentuknya kotak panjang sangat berbeda dengan ekspetasi Mita yang berbentuk segitiga. Satu gigitan berhasil dikunyah Mita kemudian ia telan dengan pelan. Sedetik kemudian mata Mita melihat kembali roti pizza yang dibelikan olehku. Bentuk boleh beda tapi rasanya tak kalah enak yang dijual mahal disana.
"Enak kan? Itu salah satu makanan favorit ibu jika ke pasar. Tempat jualannya pun bersih, tak ada lalat dan lantai kedainya bersih."
Tak lama kemudian adzan ashar berkumandang. Kami bertiga sholat berjamaah diruang tv. Maklum ruangan dirumah ini sangat kecil. Rumah yang dikampung ditempati oleh keluarga kecil Ana. Aku bisa sedikit lega karena
rumah dikampung ada yang menempati.
Setelah selesai sholat ashar, aku menyapu halaman depan. Daun yang rontok dari pohon nangka dan singkong didepan rumah sudah mulai menumpuk. Mita dan Maya ikut membantu mencabuti rumput yang mulai meninggi dan memenuhi sekitar rumah. Saat aku sedang fokus menyapu, semilir angin membuat daun-daun yang telah ku sapu berhamburan. Mataku tiba-tiba tertuju ke arah gerbang halaman depan, sesosok lelaki berdiri tertunduk lesu menatap diriku. Tatapannya seperti ia memelas dan berharap pertolongan dariku. Pada waktu aku akan melangkahkan kaki ke arah lelaki itu, sebuah mobil berhenti tepat didepan gerbang. Seorang wanita dengan pakaian sederhana berjalan menghampiriku dan menembus lelaki itu. Aku memang sudah terbiasa melihat hal ghaib tapi batinku berkata ada yang tak beres dengan lelaki itu.
“Sore ibu… Benar ini rumah ibu Sarti?”
__ADS_1
“Iya bu, benar. Saya ibu Sarti. Ada apa gerangan ibu mencari saya?”
“Maaf, saya kesini mencari ibu bukan untuk meminta tolong. Saat ini suami saya dinyatakan koma oleh dokter, bahkan alat bantu pernapasan sudah tidak lagi dipasang. Karena dokter sudah menyerah dengan keadaan anak saya.” Kata wanita paruh baya itu
“Mari kita lanjutkan pembicaraan kita didalam rumah saja, Bu.” Potongku. Aku mengajak wanita itu masuk kedalam
rumah.
“Silahkan duduk bu, maaf kontrakan saya sempit dan berantakan.” Kataku membuka obrolan
“Tidak apa-apa bu, rumah ibu bersih dan nyaman kok. Aduh, saya lupa memperkenalkan diri saya. Saya Risma, bu
Sarti. Melanjutkan pembicaraan kita tadi, saya minta tolong ke ibu, untuk melihat kondisi suami saya. Karena saya merasa ada kejanggalan dengan suami. Kalaupun menurut ibu dia sudah meninggal, saya minta ibu yang merias jenazah suami saya.” Ungkap bu Risma panjang lebar
“Kenapa saya, bu?”
“Saya bukan dokter atau mantri yang bisa memeriksa kondisi pasien?” Lanjutku
“Karena saya tahu, suami saya sedang berjuang menghadapi ghaib yang jahat.”
Prang (suara piring terjatuh di arah dapur)
Sesosok makhluk tinggi besar berdiri didepan pintu masuk rumah, berdiri dibelakang sosok lelaki yang mungkin dimaksud bu Risma adalah suaminya. Tangannya yang kokoh mengalung leher lelaki itu hingga sesak seperti kehilangan napas. Tak lama kemudian mereka menghilang diiringi jeritan keras lelaki itu.
Arghhhhhh
__ADS_1
"Tolong bantu aku...."