Perias Jenazah

Perias Jenazah
Pergi untuk Kembali? (3)


__ADS_3

Mita hanya terbengong mendengar ucapan yosi sedangkan rizal, suami dari desta segera mengecek foto-foto digaleri handphone. Takut ada yang numpang ikutan foto, begitulah dalam benak rizal.


"Yosi jangan cerita hantu lagi, tante maya takut nih. Tuh lihat tangan tante, merinding" kata maya menunjukkan pergelangan tangannya.


"Sebenalnya kalau hantunya ndak muncul didepan yosi, yosi ndak akan bilang kok ante" balas yosi dengan ringisan senyum ompongnya.


Desta hanya bisa mengelus kepala putrinya. Bagaimanapun juga mempunyai anak dengan indra keenam membuat ia sedikit khawatir. Apalagi ia dan suaminya sama sekali tidak bisa melihat hal ghaib.


"Oh ya.. Sebelum pulang kita mampir ke toko oleh-oleh dulu ya. Buat dibagiin ke tetangga dan majikan aku disana" kata ana


"Beli oleh-oleh juga buat ibu, inget sama orang tua mbak" timpal mita


"Heleh.. Itu mah kamu yang mau" balas ana kemudian


"Jangan pada bertengkar geh.. Malu tahu daritadi meja kita yang paling riweuh" kata desta sambil menyeruput es jeruk yang baru dipesan.


Kami pun semua tertawa gembira. Sudah lama aku tak merasakan selepas ini. Berkumpul bersama membuat pikiranku sedikit lebih lega. Namun itu hanya sebentar, dipojokan dekat meja kasir ku lihat sosok lastri sedang berdiri menunduk ke arahku.


"Lastri, apa kau memintaku untuk kembali lagi?"


"Buk.. Ada hantu mbah-mbah lagi melihat ke alah sini" kata yosi yang tiba-tiba langsung minta dipangku oleh ibunya.


Tak lama kemudian sosok lastri pun menghilang setelah aku bacakan al-fatihah.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus memikirkan hal ini"


"Hantunya sudah hilang kan yosi?" kataku meyakinkan


"Ha-hantunya memang udah pergi dari pojok sana tapi dia pelgi telus duduk disebelah mbah putli" kata yosi dengan polosnya menunjuk dari pojokan meja kasir ke sebelah diriku


Seketika anak dan menantuku berteriak dan berdiri dari duduk. Alifah menangis minta digendong dengan ana. Sementara tubuhku kaku tidak bisa digerakkan.


"Astapilulloh.. Hantunya tambah mendekati mbah.. Mbah putli ayo beldili.." kata yosi sambil berusaha menarik tanganku


Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku apalagi untuk menolehkan kepala sangat susah. Tiba-tiba terasa cengkeraman lembut yang agak keras dipundakku. Lalu sosok itu berbisik pelan ditelingaku.


"Sarti, ingat dengan janjimu. Kembalilah ke kota"


Ponselku berbunyi dan itu telepon masuk dari diana.


"Mengapa bisa kebetulan seperti ini"?


Aku pun memberi isyarat dengan anak dan menantuku untuk duduk kembali dan segera aku angkat telepon masuk dari diana.


"Halo ibu apa kabar?" kata diana ditelepon


"Alhamdulillah ibu baik-baik saja nak. Kamu apa kabar?" tanyaku ke diana

__ADS_1


"Diana juga baik bu. Oh ya bu, maaf kalau boleh tahu ibu kapan kembali ke kota?" tanya diana


"Ibu masih belum tahu nak. Memangnya kenapa nak?" kataku kembali


"Sudah dua hari ini aku bermimpi tentang ibuku bu. Lalu kemarin pas sore hari menjelang maghrib aku kesurupan. Anehnya kata pastur yang mengobati, katanya aku mengigau agar membawa pulang kesini bu sarti menjadi perias jenazah lagi" kata diana panjang lebar


Deg


Seperti satu sama terhubung mungkin inilah benang kusutnya.


"Bu Sarti mau kan kembali lagi disini? Nanti diana bantu untuk mencari kontrakkan baru untuk ibu tinggali" kata diana lagi


"Nak, ibu usahakan untuk kembali lagi ke kota. Mungkin satu atau dua hari ini ibu akan pergi. Ibu juga didatangi oleh ibumu" kataku menjelaskan


"Syukurlah ibu mau mengerti keadaan diana. Kalau ibu mau berangkat hubungi diana ya bu, nanti saya jemput diterminal. Maaf kalau diana mengganggu ibu. Dah ibu" kata diana menutup teleponnya


Lalu aku matikan telepon dan memasukkannya kembali kedalam tas.


"Siapa bu yang telepon?" kata maya menghampiri aku. Mencoba melupakan apa yang baru terjadi.


"Kita cerita dirumah saja ya. Sudah mau ashar juga ini" kataku sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.


Sepertinya sosok lastri sudah menghilang. Kulihat alifah dan yosi juga sudah tertidur dipangkuan ayah mereka masing-masing. Lalu kami segera menuju mobil sembari menunggu ana dan desta membayar tagihan makan.

__ADS_1


__ADS_2