
Aku mendekati salah satu bapak polisi yang sepertinya adalah kepala satuan yang bertugas menangani kasus kecelakaan tersebut.
"Maaf pak, perkenalkan nama saya Sarti. Apa boleh saya.."
Sebelum aku meneruskan kalimat, si bapak polisi langsung memotong pembicaraanku. Seperti ia tahu apa maksud dan tujuan aku berbicara padanya. Tapi tunggu dulu ada yang aneh dari si bapak polisi itu.
Ketika aku bertatapan dengan bapak polisi itu, topi yang dipakainya sengaja ia geser ke arah depan sehingga aku tidak bisa melihat setengah dari wajahnya.
"Ikuti saya" kata bapak polisi itu. Dia berjalan menuju mobil ambulans tepat ke arah pintu sopir.
Terlihat ia tengah berbicara dengan sopir untuk mengizinkan aku ikut dimobil tersebut. Si sopir hanya manggut-manggut dan ia membuka pintu belakang mobil ambulans.
"Mengapa pintu belakang ambulans dibuka lagi? Apa ada sesuatu yang terlupakan?" kata batinku
Sedangkan bapak polisi itu berjalan ke arahku. Berjalan menunduk dengan posisi topi yang maju ke arah depan.
"Silahkan ibu masuk ke dalam mobil ambulans yang sudah dibuka."
"A-apa ... Maksud bapak saya duduk dibelakang bersama jenazah? Mengapa saya tidak duduk bertiga dikursi depan? Badan saya tidak gemuk kok pak" kilah diriku
"Hihihi ... Tentu saja agar kau bisa menemani aku dan ibuku." Tiba-tiba suara bapak polisi itu berubah menjadi suara perempuan. Suara tertawanya saja sudah membuat aku merinding, teringat suara kuntilanak yang biasa aku dengar.
Benar dugaanku, raga bapak polisi itu dipinjam oleh arwah korban kecelakaan tersebut. Kalau tidak mana mungkin aku di izinkan begitu saja.
"Ayo cepat masuk kedalam mobil" kata bapak polisi itu, tapi kini suaranya sudah kembali sedia kala.
Aku pun hanya bisa menuruti perintahnya tanpa membantah.
__ADS_1
*****
Mobil ambulans melaju sangat cepat. Menyalip beberapa kendaraan dengan suara sirine yang berbunyi cukup keras.
Bau amis darah yang tercium menyeruak diarea belakang. Membuat perutku sangat mual ingin memuntahkan sesuatu. Sesaat kemudian arwah kedua jenazah itu duduk dikedua sisi diriku. Aku yang duduk ditengah mereka menjadi kikuk, kikuk karena merasa takut.
"Huuuu huuuu hiks hiks." Suara tangisan arwah wanita muda itu terdengar melengking ditelingaku. Aku menutup kedua telinga dengan kedua tanganku.
"Sakit ... sakit ... sakit." Suara rintihan pilu ini berasal dari arwah ibu wanita muda itu. Aku merasakan sedih yang begitu dalam mendengar suara kedua arwah berulang kali berucap. Tak ada lagi ketakutan dalam diriku, yang ada aku malah merasa iba. Menyaksikan peristiwa sedetik sebelum dan sesudah kejadian akibat kecelakaan tersebut.
Aku menengadahkan tangan dan berdoa untuk si arwah. Tak lupa aku sisipkan al-fatihah untuk mereka. Bibirku terus berkomat-kamit sampai akhirnya kami tiba di RS Bhayangkara. Ketika aku turun dari mobil rupanya keluarga korban sudah menunggu kedatangan kami. Tangisan yang pecah tak bisa terbendung. Kedua arwah itu muncul kembali dan kini berdiri disamping jasad mereka yang mereka ikuti saat petugas membawanya ke ruang otopsi.
"Permisi bu ... Maaf saya ingin bertanya, apa ibu ada hubungannya perihal kejadian tersebut. Saya suami dan bapak dari korban kecelakaan itu, nama saya Kemal." Pak Kemal mencoba memperkenalkan diri kepadaku.
"Saya Sarti pak" kataku dengan tersenyum. Aku lalu menjelaskan siapa diriku serta tujuan baikku kepada pak Kemal. Awalnya pak Kemal tak percaya dengan apa yang aku katakan namun kedua arwah itu membantuku.
Pak Kemal terperanjat dengan apa yang aku katakan.
"Bagaimana bisa dia mengetahuinya? Aku kira keberadaan hantu itu hanya sebuah tahayul, nyatanya ia benar-benar ada. Bahkan itu terjadi pada anak dan istriku, benar-benar tak bisa dipercaya. Aku sungguh takjub." gumam pak Kemal dalam hati
Jam menunjukkan pukul 13.30 aku meminta izin untuk melaksanakan sholat sembari menunggu proses otopsi selesai. Aku sholat dzuhur dengan khusyuk dan tak lupa aku berdoa untuk kedua arwah tadi. Syukurlah proses otopsi berjalan lancar dan jenazah boleh dibawa pulang. Aku ikut didalam mobil pak Kemal menuju rumahnya.
Setelah mereka dipakaikan baju kesayangan, jenazah dipindahkan ke dalam peti. Di sinilah inti dari pekerjaanku, meriasnya agar terlihat lebih cantik. Ku poleskan warna sesuai dengan baju yang dipakaikan. Begitu cepat pekerjaan tanganku sehingga dalam waktu 30 menit aku sudah selesai merias kedua jenazah tersebut. Ternyata ilmu dari Lastri dulu masih tersimpan dimemori dengan baik.
Pak Kemal mengucapkan terima kasih kepadaku. Beliau berkata kalau tidak ada aku mungkin akan susah mencari perias jenazah. Sebagai tanda terima kasih aku diberi cukup uang yang menurutku lebih. Pada awalnya aku sedikit menolak namun ternyata pak Kemal yang sedang disurupin arwah istrinya memaksa aku untuk menerimanya.
"Terimalah uang ini sebagai tanda jasa atas lelah dirimu. Saya juga sangat berterimakasih karena ibu memanjatkan doa untuk aku dan anakku" suara pak Kemal terdengar serak namun masih sangat jelas aku dengar. Aku lalu pamit dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Diperjalanan pulang aku sempatkan untuk sholat ashar dimasjid terdekat. Dan bertanya ke penduduk sekitar mengenai alamat kosanku. Maklum aku masih belum begitu hapal daerah tempat aku tinggal sekarang. Sampai adzan maghrib berkumandang aku masih diperjalanan. Aku sengaja menyempatkan membeli nasi padang saat aku berganti angkot.
"Duhh ... Sudah jam 18.45 aku belum menunaikan sholat maghrib." Untung saja rumah makan padang ini sangat besar dan ada musholanya. Jadi, aku putuskan untuk sholat maghrib terlebih dahulu.
Tepat saat adzan isya akhirnya aku sampai dikosan. Benar-benar hari yang melelahkan pikirku. Aku memutuskan mandi dan berganti pakaian. Menghilangkan sawan yang ada ditubuhku ini. Setelah bersih-bersih badan, aku segera sholat isya dan makan malam.
Suara jangkrik malam ini terdengar nyaring dengan sahutan suara anjing dikejauhan. Pukul 20.30 aku baru selesai makan malam. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, segera saja aku bergegas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka nihil, tidak ada orang sama sekali. Ku pakai sandal jepit menuju kearah depan gerbang.
Namun nihil, tak ada seorangpun yang datang atau sekedar lewat melewati kosan ini. Aku melihat keatas langit, ternyata malam ini malam bulan purnama jatuh tepat ditanggal 13, 14, dan 15 yang harusnya aku berpuasa hari ini.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Ketika aku menutup kamar sosok itu berdiri persis didepan pintu kamarku.
"Siapa kamu?" tanyaku pada sosok itu
Handphoneku berdering disaat yang salah dan aku segera mengangkat telepon.
"Halo, selamat malam. Apa benar ini dengan asisten bu Lastri dulu " suara itu terdengar parau
"Iya benar. Maaf ini dengan siapa?" tanyaku kepada si penelepon
"Saya bapak Chris bu, mendiang adik saya dulu pernah dirias sama ibu. Jenazah yang mengenakan kain songket." Sangat detail pak Chris menjelaskan.
Aku mencoba mengingat-ingat peristiwa lampau saat itu.
"Oh iya saya ingat pak. Ada apa ya pak." Aku bertanya ke inti permasalahan.
"Saya ingin meminta ibu untuk merias buyut perempuan saya." Tak lama kemudian terdengar suara benda jatuh dari luar pintu depan.
__ADS_1