
"Bagaimana kalau kita sarapan diluar saja, Bu? Kebetulan saya dan anak-anak belum memasak." usulku ke bu Risma
"Baiklah kalau begitu, saya tunggu dimobil saja ya bu." jawab bu Risma
Aku pun bergegas untuk mandi dan bersiap diri. Saat aku sedang memoleskan lipstik, suara leak itu kembali terdengar.
"Kau meremehkan ucapanku ya, baiklah aku ikuti
permainanmu."
Aku bergidik ngeri membayangkan ucapan leak tadi. Aku sungguh-sungguh bingung jalan tengah apa yang harus aku tempuh agar aku tidak terlalu mencampuri urusan mereka.
"Maya.. Mita.. Ibu berangkat dulu ya. Kalian hati-hati didalam rumah. Jika ada yang mencurigakan kalian harus segera telepon pak RT dan ibu."
"Ibu.. Jangan pergi, Mita belum siap kehilangan ibu." isak Mita
__ADS_1
"Hush.. Bicaramu itu ngelantur dek. Ingat, perkataan itu do'a. Kita harus mendukung dan mendoakan ibu, selama itu demi kemaslahatan bersama." kata Maya dengan bijak
Aku memeluk kedua anakku. Memberitahu mereka tak akan terjadi apa-apa selama kita percaya bahwa Allah lah penolong umatnya yang mau berdzikir padanya.
"Assalamualaikum, ibu berangkat dulu ya." pamitku
"Waalaikumsalam, hati-hati ya bu. Jangan pulang larut malam, Mita dan kak Maya sendirian."
Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah anak-anakku.
Di jalan
Disaat yang sama seisi mobil bau menyengat kemenyan dan hanya aku yang dapat mencium aromanya. Seketika aku mual mencium bau pengharum mobil bercampur kemenyan.
"Hoek."
__ADS_1
"Bu Sarti masuk angin ya? Pak Mugi, tolong minggir ke rumah makan terdekat ya?" Kata bu Risma ke sopirnya
Bu Risma mengeluarkan sebotol kecil minyak kayu putih dari tasnya. Lalu ia tuangkan ke tangan dan mengusap-usap sekitaran leherku. Seketika aku mendadak pusing dan terbawa ke dimensi yang berbeda. Aku dibawa ke masa lalu tepat dimana suami bu Risma masih gagah dan mampu berdiri. Disana aku melihat pertikaian dua orang saling mengacungkan telunjuk dihadapan banyak orang.
Tak lama kemudian datang sekelompok polisi melerai mereka dan menahan orang yang bertengkar dengan suami bu Risma. Kembali aku diajak pergi kerumah tahanan, dan melihat orang suruhan rival suami bu Risma menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan usaha toko suami bu Risma. Tapi mereka licik dan pintar, seolah-olah toko bu Risma dirampok dan pelakunya menghilang tanpa jejak. Lalu aku diajak ke rumah bu Risma yang berada di Bali, dengan sadis mereka melayangkan santet ke suami bu Risma dengan keadaan yang menurut diriku cukup tragis.
"Bu.. Bu Sarti.. Apakah ibu sudah sadar?" kata bu Risma sambil mengusap tanganku
Aku yang sedang kebingungan lalu terbangun dan berusaha duduk.
"Maaf bu, saya dimana ya? Mengapa saya bisa tidak sadarkan diri?" tanyaku sambil memijat kening
"Ibu ada dirumah saya, ini ada dokter keluarga yang biasa saya panggil ke rumah." kata bu risma
"Sepertinya ibu sedang banyak pikiran ya. Ibu juga kurang tidur, tekanan darah ibu cukup rendah tapi sudah saya resepkan obat. Mohon diminum teratur ya bu dan istirahat yang cukup." dokter muda nan tampan itu menjelaskan padaku
__ADS_1
"Iya dok, terima kasih."
Bu Risma mengantarkan dokter tersebut keluar kamar dan meninggalkanku seorang dikamar yang sangat besar ini. Sudah ku duga bu Risma dan suaminya bukanlah orang biasa, aku yakin ada sekitar dua hingga lima orang yang memakai jasa dukun untuk melumpuhkan jiwa dan raga pak Wito, suami bu Risma.